Seoul, Seoul National Hospital, 12 November 2018, 08.30 P.M
Para anggota sedang menyiapkan diri. Yeong Eun mengenakan pakaian berwarna hitam. Sebuah pisau dan pistol terselip di kaitan celana panjang ketatnya. Gadis itu akan menyamar sebagai pasien yang memesan kamar di lantai yang sama. Ia memasang alat komunikasi. Tak jauh dari sana Hyukjae sibuk mengamati layar iPad. Memperhatikan rumah sakit dari CCTV yang ia lacak memakai setelan yang sama hitamnya. Topi di kepalanya dipasang terbalik.
"Bagaimana hubunganmu dengan Yeong Eun?" tanya Donghae yang duduk di dekatnya.
"Kami? Kami baik. Kau tentu lihat bahwa kami tidak bertengkar."
"Kau tahu apa maksudku."
Kali ini Hyukjae melepaskan fokus dari iPad. Memandang Donghae yang juga menatapnya. "Hae~ya. Kau tahu bagaimana perasaanku pada Yeong Eun. Jadi, apa yang mesti aku jelaskan?"
"Sudah empat bulan, Hyuk. Kau benar-benar tidak pernah menyukainya lebih dalam? Dan kalian itu suami istri, astaga! Jangan bilang kalian juga belum—" Ucapan Donghae terhenti lagi.
"Aku tidak berhak melakukannya. Hubungan kami tidak seintim itu. Kau juga tahu seperti apa perasaannya padaku."
"Aku benar-benar heran kenapa kalian terus bersikeras bahwa kalian itu hanya teman. Tidak ada teman yang menikah. Lalu tingkah dan interaksi itu ... teman tidak seperti itu."
"Memangnya kenapa dengan interaksi dan tingkah kami?" balas Hyukjae sebal.
"Yaa ... seperti itu!" Donghae mengangkat tangan, menggerakkan seolah sedang berbahasa. Frustrasi karena tidak bisa menjelaskan barang satu kalimat pun.
"Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?" cecar Hyukjae.
"Ah, sudahlah! Aku sudah mengatakannya sejak awal, pernikahan bukan hal main-main. Berhenti mempermainkannya sebelum kalian akan dipermainkan lebih dalam."
Hyukjae terdiam, memandangi Yeong Eun yang kini sedang tertawa. Tangan gadis itu sibuk mengikat rambut cokelatnya agar tergelung menjadi satu. Hyukjae sontak tersenyum tanpa sebab.
"Nah, itu! Itu maksudku!" seru Donghae nyaris histeris sambil menunjuk wajah Hyukjae.
"Apa, sih!" kesal Hyukjae sambil memukul kepalanya karena kesal.
Hyukjae diam dan melanjutkan mengemas. "Jangan meracau, kau membuatku takut, tahu?!"
Donghae menatap Hyukjae jengkel. Tidak mengerti harus mengatakan apa lagi. Perasaan bersalah atas kemunafikan diam-diam menyelip dalam hatinya, tapi Donghae hanya mengeraskan rahang. Berusaha mengabaikan lagi dan lagi.
***
Yeong Eun berbaring tegang. Tak jauh dari kamarnya, para pengedar narkoba itu sedang berkumpul di ruangan VVIP yang luas. Lantai ini hanya memiliki empat kamar yang semuanya merupakan VVIP dengan tarif mahal dan menjamin, khas manusia kaya. Di sebelahnya, Yesung sudah siap dengan setelan dokter. Tidak akan ada yang mengira bahwa papan yang sedang ia amati bukan bertuliskan kondisi tubuh pasien, melainkan layar portabel yang menampilkan pergerakan di kamar sebelah. Kacamata baca samarannya sibuk mengidentifikasi 15 identitas anggota Jang Mu Yeol—jumlah maksimal yang telah dikumpulkan Kyuhyun. Para anggota timnya sudah bersiap menyerbu. Beberapa di antara mereka menunggu di luar dan atap gedung. Memastikan tidak ada yang kabur. Ketua Park dan Kang In sudah memastikan tidak akan ada yang datang ke lantai 23 rumah sakit selama tiga jam ke depan. Tiga buah lift sudah dikhususkan untuk mengangkut keluar para pelanggar hukum.
"Kupikir kita cukup seimbang. Kalau rencana kita berjalan lancar, kita bisa mengangkut semuanya ke penjara malam ini," tukas Yesung. Yeong Eun melihat ke layar portabel Yesung. Tampak beberapa orang sedang bernegosiasi dengan belasan koper di dekat mereka. Di luar, anggota mereka kini sedang bersiap untuk mendobrak masuk ke kamar Jang Mu Yeol. Yeong Eun melepas seragam rumah sakit. Mengikat rambut lalu memasukkan kembali pistol yang sudah diceknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WILD COUPLE
FanfictionLee Hyukjae dan Cho Yeong Eun adalah sahabat sejak kecil yang bekerja sebagai anggota agen DISK (Department Intelligence of South Korea). Semuanya baik-baik saja, sampai ketika orang tua keduanya terus memaksa untuk menikah. Tak ingin menerima renc...
