Kejadian satu malam itu sudah berlalu selama 7 minggu. Kini Mella menjadi sering melamun, Mella juga jadi tidak bernafsu makan dan juga sering kelelahan.
Saat ini Mella sedang berada di sekolah, tinggal 1 bulan lagi Mella akan melaksanakan ujian nasional. Namun entah mengapa, ia merasa malas belajar.
"Lo kenapa sih Mel, kok akhir-akhir ini sering melamun. Ada masalah ya, coba cerita sama gue. Siapa tau gue punya solusinya," Ujar Viona yang heran dengan tingkah Mella yang tiba-tiba menjadi pendiam.
"Enggak kok Vi, gue nggak papa," Sahut Mella sambil tersenyum menutupi kebohonganya.
"Ayo lah Mel, gue ini sahabat lo, seneng susah kita harus saling berbagi. Jangan di tutup-tutupi. Yuk cerita aja!" desak Viona tetapi Mella tetap bungkam, ia hanya menunjukan senyumanya sambil geleng-geleng.
"Yaudah kalo lo belum siap gak papa kok, tapi kalo lo mau cerita cerita aja, gue siap jadi pendengar yang baik buat lo" Vio langsung merangkul Mella seakan memberikan kekuatan untuk Mella.
"Makasih," sahut Mella tulus. Viona hanya tersenyum dengan tangan yang masih merangkul Mella. Viona tahu betul bahwa sahabatnya ini sedang ada masalah. Tetapi Mella enggan untuk menceritakanya.
****
Istirahat tiba, Mella bersama Viona membereskan buku dan alat tulisnya lalu memasukanya ke dalam tas. Setelah selesai beres-beres Mella hanya meletakan kepalanya di lipatan tangan atas meja sambil memejamkan mata.
"Mell," panggil Vona lembut, Mella yang merasakan di panggil pun membuka matanya.
"Lo kenapa, sakit?"
"Enggak kok," jawab Mella lalu duduk tegak sembari tersenyum untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Yudah ngantin yok gue laper," Viona kemudian bagkit dari duduknya.
"Gak ah, gue nggak laper!" Tolak Mella.
"Ayolah Mel... nanti lo sakit kalo ngak makan, gue tau lo tadi pagi pasti nggak sarapan, iya kan?"
Mella menghembuskan nafasnya panjang, tembakan Viona benar. Mella pun langsung bangkit dari duduknya, hal itu membuat Viona tersenyum bahagia. Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar kelas menuju kantin.
Sampai di kantin Mella mencium bau makanan. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa mual. Mella langsung membungkam mulutnya kemudian lari terbirit menuju kamar mandi.
Viona menautkan alisnya merasa heran, tanpa babibu Viona langsung menyusul Mella.
Sesampainya di kamar mandi, Mella langsung menumpahkan isi perutnya, tetapi hanya cairan bening saja yang keluar.
Ketika dirasa sudah mendingan, Mella keluar dengan tubuh lemasnya.
"Lo kenapa?" tanya Viona khawatir.
Dengan perasaan takutnya, Mella menggeleng. Jantungnya berdetak dua kalo lebih cepat. Rasa takut akan beberapa minggu yang lalu kini telah menghantui dirinya.
"Ngak papa, mungkin cuma masuk angin, yaudah yuk kita kekantin." Mella berucap se mantap mungkin, ia harus yakin jika dirinya hanya masuk angin, tidak lebih.
Viona mengangguk dengan tatapan ibanya, lebih baik melanjutkan acara makannya ke kantin, siapa tahu dengan memasukkan makanan ke dalam perut, Mella punya energi dan masuk anginnya hilang.
Namun, disaat baru selangkah mereka berjalan, perut Mella kembali bergejolak. Mella kembali memasuki kamar mandi, dengan cepat Viona langsung mengikutinya.
Ia memuntahkan isi perutnya lagi dengan Viona yang memijati tekuknya. Kepala Mella terasa pusing, pandanganya juga tiba-tiba kabur, bahkan kakinya serasa menjadi jelly yang terasa sangat sulit untuk menopang tubuhnya, hingga tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap. Dan
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Accident
Romance[Harap follow dulu sebelum baca] Sebuah kisah pernikahan yang berawal dari suatu kejadian. Tanpa di sangka, suatu kejadian merubah kehidupan. Dimana seorang Mellani yang ramah bertemu dengan Raynand si pria dingin. Sebuah kisah cinta yang datang tib...
