Lima Puluh Tiga

4.7K 231 26
                                        

~Typo Betebaran~


Pov Normal

'Eh?!'

'Ke-kenapa?'

Amira tidak tau harus bahagaimana. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya berlari, hanya menjauh dari sana dan menghilangkan bayangan Aiden yang tengah berciuman dengan wanita yang ia tak ketahui di fikirannya.

Sungguh, Aiden benar-benar pria brengsek. Bagaimana bisa selama ini mengurungnya di rumah mewahnya, menyediakan segala sesuatu untunya, memberikan pelayanan rumah untuknya layaknya nyonya yang sesungguhnya, mengucapkan kata kepemilikan dan ungkapan tanggung jawab dan segala hal yang membuat Amira yang bahkan membencinya mulai menerimanya jika pada akhirnya sepeti ini?

Apa sebenarnya keinginan pria itu?

Apa benar ia hanya ingin keturunan dari Amira?

Apa benar Aiden akan membuang nya setelah ia melahirkan?

Sungguh, ia bahkan sudah mencoba membuka hati untuk Aiden. Menerima kenyataan bahwa anaknya ialah darah daging Aiden. Pria gila yang menghancurkan masa depannya.

"hiks.. ini menyakitkan.. hiks"

Dalam larinya ia mulai berhenti sejenak. Menekan dada kirinya yang semakin berdenyut sakit.

"maaf, maaf, maaf, hiks. Maafkan mommy.. hiks" ulangnya yang terus meminta maaf.

Meminta maaf pada dirinya sendiri yang dengan lancang hatinya menyukai Aiden. Meminta maaf pada dirinya yang dengan percaya diri merasa Aiden akan melamarnya malam ini. Meminta maaf pada anak di kandungannya yang ia berikan harapan kelak memiliki ayah se sempurna Aiden. Siapa Amira hingga ia merasa mampu bersanding dengan pria se sempurna Aiden?

Amira bahkan merasa dirinya terlalu hina untuk Aiden. Wanita sebatang kara yang sekarang bahkan tengah hamil tanpa seorang kekasih apalagi suami. Melupakan kenyataan bahwa Aiden sendirilah yang membuatnya seperti itu.

"hiks.. sakit.. hiks" adunya kembali tanpa peduli sekitar.

Amira kembali berjalan. Semakin merapat ke tempat sepi menjauhi keramaian untuk menenangkan diri. Ia tidak mau bertemu siapapun saat ini.

Amira menarik nafas lebih dalam, mencoba menenangkan tangisnya. Memejamkan mata sesaat agar lebih tenang. Mulai menatap sekitar melihat keadaan. Ia terlalu jauh berlari. Ia harus kembali, ia takut Merry mencarinya.

"aku harus kem-Mmmpptt.."

Baru saja hendak berbalik, seseorang menutup mulut dan hidungnya secara paksa. Amira yang kaget tentu memberontak dengan memukulkan botol yg ia pegang hingga terjatuh, namun sepertinya sia-sia. Bau menyengat tercium begitu tajam. Kepalanya langsung pusing seketika, dan matanya mulai mengabur. Sial, seseorang menahan tubuh lemasnya. Dan yang ia rasakan terakhir, hanya seseorang membawa tubuh nya yang disusul kekehan seorang wanita.

"to-long~"

~0_0~

tut..tut..tut..

"kemana dia?" Anna kembali menekan ponsel pintarnya, kembali menghubungi.

tut..tut..tut..

ia mulai kesal. Bagaimana bisa Lucas tidak menjawabnya? Apa mungkin masih rapat? Bukankah tadi biang sudah di jalan?

tut..tut..tut..

"SIALA-"

"jangan mengumpat atau aku akan menerkam mu di sini"

MINE IS YOURSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang