Mark sudah berada di universitasnya pagi-pagi sekali bahkan sebelum semua teman-teman kelasnya ada. Dirinya sengaja berangkat sepagi itu demi menghindari Jaebum. Sekarang matanya masih sangat mengantuk. Ini semua karena dirinya tidak bisa tidur akibat pertengkarannya yang terjadi lagi dan lagi dengan Jaebum. Selama bertahun-tahun hidup bersama Jaebum, sepertinya tidak ada hari yang dilalui tanpa sebuah konflik. Selalu saja ada perdebatan atau apapun itu yang membawa keributan diantara dirinya dan Jaebum. Jika Mark memikirkan kembali apa yang sebenarnya menjadi dasar semua itu, maka Mark tidak pernah menemukannya sampai saat ini. Dirinya sudah terlatih dengan semua sikap Jaebum. Mark juga tidak tahu siapa yang dapat disalahkan dalam hal ini, dirinya atau Jaebum, Mark juga tidak yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya.
Mark meletakkan kepalanya di atas meja dengan tumpuan tangannya. Matanya benar-benar berat saat ini, tapi pikirannya tidak mengizinkan pria malang itu untuk tidur sedetik pun. Pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Jaebum selalu membuat sebuah frustasi dalam dirinya. Mark kembali menghela nafasnya berat, ini sudah keberapa kalinya dia melakukan itu.
...
Jaebum berjalan menuju ruang kerjanya dengan wajah dingin miliknya. Hal ini selalu membuat semua karyawan yang bertemu dengannya menjadi takut untuk hanya sekedar menyapa CEO mereka. Wajah dingin dan tatapan tajam milik Jaebum selalu berhasil membuat siapapun orang yang melihatnya akan merasa terintimidasi. Jaebum baru saja akan membuka pintu ruang kerjanya saat tiba-tiba Youngjae memanggil namanya.
"Jaebum?" Pemuda berambut hitam itu mendekati Jaebum dengan rasa tidak percayanya. Hal itu karena tidak biasanya Jaebum akan datang pagi-pagi seperti ini. Melihat Youngjae, Jaebum hanya bergumam datar menjawab sahabatnya itu.
"Hm..." jawabnya yang dilanjutkan dengan membuka pintu ruangannya dan berjalan masuk. Youngjae juga mengikutinya.
"Kau datang sepagi ini, kalian bertengkar lagi?" Itulah Choi Youngjae, selalu saja bisa mengetahui apa yang terjadi pada Jaebum bahkan hanya melihat dari ekspresi wajahnya saja. Dan ya, bukan hanya Mark yang juga menghindari Jaebum, tapi Jaebum juga menghindari Mark. Berhadapan dengan Mark, baginya itu hanya akan membuat emosinya kembali ke permukaan, jadi lebih baik Jaebum menghindarinya.
Mendengar pertanyaan Youngjae, Jaebum tidak menjawab apapun. Dia mulai berkutik dengan pekerjaannya. Youngjae yang tahu Jaebum tidak akan menjawabnya hanya bisa membuang nafasnya berat. Pemuda yang sekarang sedang duduk di sofa itu terlihat memikirkan sesuatu.
"Kalian sudah hidup bersama hampir delapan tahun, dan sebentar lagi akan menikah. Bukankah seharusnya semua sudah lebih baik" ucap Youngjae.
Tapi Jaebum lagi-lagi hanya diam dan tidak bersuara. Youngjae yang melihat itu juga hanya bisa ikut diam. Sahabat yang dikenalnya sejak kecil ini benar-benar seseorang yang sangat keras kepala. Menurutnya, Jaebum hanya mengikuti semua egonya tanpa memikirkan ada seseorang yang mungkin tidak bisa sejalan dengannya. Tapi Jaebum tetaplah Jaebum, jika dia sudah mengendalikan sesuatu maka sesuatu itu harus tetap di bawah kendalinya. Bahkan Youngjae yang sahabat masa kecilnya juga tidak bisa melakukan apapun. Semua hanya berjalan sesuai keinginan pemuda keras itu saja.
Beberapa menit saling diam tanpa sepatah kata pun membuat Youngjae merasa jenuh. Pemuda itu berdiri dari duduknya dan segera keluar untuk kembali ke ruangannya. Tepat sebelum Youngjae benar-benar akan keluar, pemuda itu kembali menasihati Jaebum.
"Jangan terlalu keras kepadanya Jaebum!" kalimat ini tidak tahu sudah berapa kali Youngjae ucapkan selama Mark masuk dalam kehidupan Jaebum. Tapi Youngjae merasa sampai saat ini sepertinya tidak ada satupun dari kalimat ini yang dilakukan oleh Jaebum. Sampai saat ini, Jaebum tetaplah Jaebum yang keras dengan segala keegoisannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
M I N E ( End )
FanfictionCause you are mine Mark and Jaebum Edition Please, give me your love and vote
