Carlos Story Book I - END
It's a story about family
Ketika sebuah keluarga dihadapkan cobaan, bukan tidak mungkin akan ada yang terluka.
Seperti seorang gadis yang sedari lahir sudah hidup terpisah dari keluarganya.
Hingga tiba saatnya, dimana rahas...
Lean membantu putrinya berdiri dari kursi rodanya. Sambil menahan berat badan putrinya, Lean dipandu oleh seorang fisioterapis mulai membantu Eunbi untuk melangkah. Dengan berpegangan pada daddynya perlahan Eunbi mulai melangkahkan lakinya, keringat membasahi keningnya.
Berkali-kali Eunbi hampir terjatuh, namun kata-kata penyemangat dari Lean membuatnya bangkit lagi.
“Aku lelah”
“Bisakah kita istirahat?”
“Tentu tuan” ujar sang fisioterapis.
Yoora mendekat dan memberikan minum kepada putrinya. “Kamu hebat sweetheart, maafkan mommy sayang, mommy sangat bangga kepadamu”
Satu jam setelahnya terapi Eunbi berakhir. Dalam perjalanan menuju kamar rawatnya Eunbi tidak mau duduk di kursi rodanya dan memilih digendong oleh daddynya.
Mengabaikan rasa lelahnya Lean menggendong putrinya kembali ke kamarnya. Eunbi yang kelelahan hanya menyandarkan kepala di bahu daddynya.
...
Sore hari Eunbi merasa jenuh, tidak ada yang bisa dilakukan. Bermain ponsel tidak boleh, maraton nonton film disney dilarang, minta pulang apalagi, sudah pasti ditolak mentah-mentah.
“Daddy aku bosan!”
Lean yang sedari tadi fokus pada macbooknya menoleh kepada putrinya. Memang pada dasarnya putrinya termasuk anak yang tidak bisa diam sehingga mudah bosan.
“Mau jalan-jalan?”
“Keluar dari rumah sakit?” wajah Eunbi berbinar senang.
“Ke taman rumah sakit” mendengar jawaban daddynya Eunbi mengerucutkan bibirnya hendak protes kepada daddynya. Tapi setelah dipikir ke taman masih lebih baik daripada harus berdiam diri dikamar.
“Okay... aku mau”
Lean berdiri mendorong kursi roda di sudut ruangan mendekat ke arah putrinya. Eunbi mencoba turun dari ranjangnya perlahan dibantu oleh daddynya dan melangkah menuju kursi rodanya.
“Good Job my girl” puji Lean setelah Eunbi berhasil duduk di kursi roda.
“I'm that good daddy?”
“Sure!”
Eunbi tersenyum lalu mengangkat tangannya sambil berseru “Lets go daddy!!!”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lean membawa putrinya ke taman kecil yang berdekatan dengan ruang rawat putrinya. Taman terlihat sepi di sore hari, tidak banyak orang yang sedang bersantai padahal cuaca cukup bersahabat.
Lean membiarkan Eunbi menikmati udara luar, pasti tidak nyaman terkurung diruang rawatnya begitu lama.
Tidak lama ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun menghampiri Eunbi. Bodyguard yang mengikuti mereka sontak berusaha mencegah, mengamankan nona muda mereka. Belum sempat mereka bertindak Lean terlebih dahulu menghentikannya.
Eunbi memandang binggung bocah laki-laki di depannnya.
“Kakak tidak bisa berjalan?” tanya bocah itu dengan polosnya.
Sementara wajah Eunbi langsung berubah menjadi sendu.
“Kakak hanya sedang sakit kalau sudah sembuh kakak bisa berjalan lagi” ujar Lean menjawab pertanyaan bocah di depannya.
“Baguslah kalau begitu. Aku juga, dokter bilang kalau sudah sembuh rambutku bisa tumbuh lagi” bocah laki-laki itu membuka topi rajut yang menutupi kepalanya.
“Kamu sakit apa?” Eunbi memberanikan diri untuk bertanya.
“Leukimia, aku tidak tau itu penyakit apa tapi itu membuatku sering menginap di rumah sakit”
Selang beberapa lama seorang wanita berpakaian perawat menghampiri mereka.
“Stefen! Ya Tuhan... aku mencarimu kemana-mana”
“Namamu Stefen?” bocah itu menganggukkan kepalanya lalu memakai kembali topinya.
“Sejak tadi aku melihat kakak sedih, jangan sedih kakak pasti sembuh. Oh ya... apa kakak takut disuntik? Kalau iya kakak bisa mencariku saat akan disuntik, aku akan memegang tangan kakak agar kakak tidak takut”
“Bolehkah kakak memeluk Stefen?”
Stefen tidak menjawab tapi langsung mendekat memeluk Eunbi.
“Stefen, sudah waktunya kemoterapi, ayo!” suster mendekat dan menggandeng lengan Stefen kemudian membungkuk ke arah Lean “Maaf tuan, Stefen sudah mengganggu waktu Anda.”
“Bukan masalah, baiklah Stefen... semoga lekas sembuh dan bisa bermain dengan kakak Arilla” ujar Lean sambil membelai kepala Stefen dan menyunggingkan senyuman hangat.
“Kalau begitu kami permisi tuan”
“Bye... kak Arilla cantik. Kalau aku sudah sembuh aku akan menemui kakak cantik”
Stefen berjalan menjauh sambil tetap melambaikan tangan kepada Eunbi dan dibalas hal yang sama.
Setelah kepergian Stefen, Eunbi meraih tangan Lean yang berdiri di sebelahnya.
“Daddy, apa Stefen bisa sembuh?”
“Tentu sayang, lihatlah semangatnya. Princess daddy juga pasti bisa berjalan atau bahkan berlari lagi.”
“Aku tahu” Eunbi tersenyum pada daddynya.
“Kita masuk kembali ke dalam, udara sudah semakin dingin” Lean mendorong kursi roda putrinya untuk kembali ke kamarnya.
...
Semakin hari kondisi Eunbi mengalami peningkatan pesat, bahkan sudah meninggalkan kursi rodanya. Semua berawal dari pertemuannya dengan Stefen.