27. PASCA KEMENANGAN

207 18 21
                                        

☯HAPPY READING

Sepanjang perjalanan menuju rumah Rafael, Soraya terus memuji dan mengucapkan selamat pada kekasihnya. Suara musik dari radio seolah hanya menjadi backsound apik yang mengiringi obrolan mereka. Lima belas menit berjalan tak terasa, mobil merah itu kini telah terparkir di halaman rumah si adam.

"Dear, ayo masuk!" ajak Rafael sebelum dirinya membuka pintu mobil.

Rafael membuka pintu rumah, dirinya menghela nafas kala mengetahui mamanya tidak ada di rumah. Ia bingung harus merasa sedih, karena tidak bisa berbagi kesenangan, atau merasa senang, karena tidak ada yang mengganggu waktu berduanya dengan Soraya.

"Duduk dulu, dear!" Rafael menyuruh Soraya duduk sambil menunggu dirinya bersih-bersih.

"Iya, El, jangan lama-lama ya!" peringat Soraya yang kini sudah duduk manis di sofa.

Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Soraya untuk membersihkan diri.

Melihat Rafael telah menghilang di balik tangga, Soraya mengambil earphone-nya di saku, memasangkannya pada ponsel kemudian menyetel playlist lagu kesukaannya.

Kepalanya ia sandarkan sambil memejamkan mata demi mendapatkan rasa lebih dalam. Gadis itu terlalu larut dalam dunianya sampai tak sadar kehadiran seseorang.

"Suka banget sama lagunya, sampai aku dikacangin," dengus Rafael, dia memajukan bibirnya lucu sekali.

Soraya membuka matanya lalu tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah Rafael yang begitu menggemaskan sekaligus mengesalkan. Refleks Soraya mengulurkan tangan, mencubit-cubit pipi Rafael. "Ya ampun, kamu lucu banget sih, El."

Rafael menatap Soraya datar, kesal karena gadisnya mencubit sesuka hati. Dengan tatapan yang sedikit mengancam, Rafael melepaskan tangan Soraya dari pipi.

"Maaf, jangan ngambek gitu ah. Nggak cocok, jiwa kejantananmu punah nanti." Soraya buru-buru meminta maaf melihat perubahan raut wajah Rafael, meski begitu dia tetap melontarkan candaannya.

Bukannya merespon, Rafael malah menunduk, memijit tangan kirinya. "Sshhh ...."

Soraya yang tadinya masih tersenyum lebar sehabis menjahili Rafael pun langsung berubah khawatir. Dia ikut menatap tangan kiri Rafael yang menjadi alasan laki-laki itu meringis sakit. "Tanganmu kenapa?"

"Kayaknya terkilir deh."

"Sini, biar aku aja yang pijitin." Soraya menarik tangan kiri Rafael, "punya minyak urut nggak?"

Rafael mengambil minyak urut yang disimpan di samping kotak P3k. Setelah mendapatkannya, ia membiarkan Soraya membantu memijit tangannya yang terkilir.

Sepuluh menit terlalui, Soraya menyuruh Rafael menggerakkan tangannya. Setelah memastikan Rafael merasa lebih baik, Soraya tak lagi meneruskan aksi pijatannya. "Ini pasti gara-gara kamu jatuh tadi kan?" tanya Soraya sambil menutup minyak urut tadi.

Rafael hanya membalasnya dengan deheman. Lagian dia malas jika membahas pertandingan tadi, apalagi jika mengingat kata-kata yang dilontarkan Arka.

"Ray, janji ya bakal selalu di samping aku!" Rafael menatap Soraya intens, dia tidak ingin kehilangan gadisnya ini.

"Tentu, El!" jawab Soraya mantap.

Rafael melayangkan senyum sambil mengulurkan tangan untuk mengelus pipi gadisnya yang tengah merona.

Drrt Drrt

Rafael mengumpat tertahan kala ponselnya berbunyi, padahal dirinya belum sempat mengelus pipi mulus gadisnya ini. Ingin rasanya ia membanting ponsel, karena berani mengganggu suasana romantis yang tercipta.

RAFAELTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang