☯HAPPY READING☯
Pagi di penghujung tahun ini terlihat mendung. Awan kelabu setia menutupi sinar matahari yang ingin menembus bumi. Rambut panjang Soraya terbang tertiup angin pagi. Dia terlihat bahagia menikmati sejuknya angin sebelum hujan.
Perlahan air kehidupan jatuh membasahi bumi. Padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Sebagian besar orang di sekitar Soraya langsung berlari mencari tempat berteduh, tapi Soraya malah bersantai-santai seolah tak terjadi apa-apa.
Dia melanjutkan perjalannya tanpa mempedulikan guyuran hujan yang membasahi tubuh. Hujan kian deras tapi Soraya tak berniat untuk meneduh, ia malah mendongak sambil menutup matanya. Lalu kedua tangannya ia rentangkan sehingga telapak tangannya digenangi oleh air hujan.
Di menit berikutnya dia melompat-lompat kegirangan bak anak kecil yang diberi satu kotak coklat. Dia berhenti di depan halte, merentangkan kedua tangannya kembali dan menutup matanya. Membiarkan tetesan air hujan mengalir menyusuri tubuh dan berharap bebannya ikut meluruh.
Soraya merasa aneh ketika tetesan air hujan tak lagi membasahi tubuhnya. Padahal suara rintikan hujan masih terdengar jelas. Perlahan dia membuka mata dan mendapati sebuah payung yang melindungi dirinya. Soraya segera berbalik dan melihat Rafael tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Tuman, hujan-hujanan terus. Pengen sakit, hm? Nih pakai!" Rafael memberikan payungnya pada Soraya.
Soraya menerima payung dari Rafael dengan senang. Keduanya jalan beriringan menuju seberang. Soraya melayangkan senyuman miringnya lalu melempar payung ke sembarang arah, alhasil mereka berdua pun langsung terguyur air hujan.
"Ray, kok malah dibuang payungnya?!" tanya Rafael bingung sekaligus kesal.
"El, aku mau hujan-hujanan, oke? Sekarang, ayo tangkap aku!" Soraya menjulurkan lidahnya mengejek lalu berlari sekencang mungkin.
"Wah ngeremehin." Rafael berlari mengejar Soraya. Kalau dilihat-lihat mereka berdua seperti tengah memerankan drama Bollywood.
Rafael berhasil menangkap Soraya setelah berlari kesana-kemari. Soraya tertawa terbahak-bahak dalam rengkuhan Rafael. Romantis sekali rasanya ketika Rafael menangkap Soraya dengan cara memeluk dirinya dari belakang.
"Nakal, suka banget main hujan-hujanan. Kalau sakit gimana? Nanti hari-hari aku sepi tanpa kamu." Rafael membukakan pintu mobilnya sehingga si gadis langsung masuk.
"Bodo amat. Lagian kan hujan-hujanan enak, El."
Rafael duduk di kursi kemudi lalu mengambil handuk yang sengaja dia bawa untuk jaga-jaga jika Soraya bermain hujan. "Nih pakai!"
Soraya menerima handuk itu lalu mengeringkan rambutnya. Setelah selesai dia sibuk bermain ponselnya, sedangkan Rafael fokus menyetir.
Mobil Rafael berhenti di depan rumah Soraya. Mereka berdua berjalan beriringan dalam satu payung yang sama.
"Dear, kamu ganti baju dulu sana! Setelah ini aku mau ajak jalan-jalan." perintah Rafael yang kini tengah terduduk santai di sofa ruang tamu milik si gadis.
"Dih nyuruh-nyuruh kayak majikan. Tunggu bentar!" Meski mendesah kesal, Soraya tetap berbalik mengikuti perintah Rafael.
Soraya melempar sweater oversize serta celana jeans pada Rafael. Bajunya masih basah karena dia langsung mengambil baju ganti untuk Rafael. "Kamu juga ganti baju. Kemejanya basah gitu."
"Ya allah, kalau mau perhatian jangan setengah-setengah deh cantik," cibir Rafael lalu mengambil baju ganti yang berserakan di atas sofa.
"Nggak peduli, kamu ganti di kamar mandi bawah aja." Soraya melenggang pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAFAEL
Novela Juvenil꧁꧇ FOLLOW DAHULU SEBELUM MEMBACA꧇꧂ Rafael Aditya, salah satu anak kesayangan semua guru. Sifatnya yang tegas membuat Rafael ditunjuk sebagai pemimpin di banyak hal. Materi dan kemewahan selalu mengikutinya. Namun, kejadian dimana dia kehilangan sebu...
