EMPAT PULUH SEMBILAN

41.9K 3.4K 156
                                        

'Huh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Huh...'

***

Damara tidak berbohong. Namun sedikit tidak terbuka untuk saat ini. Setelah mengantarkan Delta pulang ke rumah ia langsung ke kantor Batalyon Infanteri yang letaknya tidak jauh dari asrama kediaman Delta.

"Permisi om, izin bertanya. Ruangan Pak Agam di mana ya?"

"Letkol Agam Lingga Samudra?" Prajurit TNI yang tertulis Okan Pradibumi di dada kanan seragamnya itu mengerutkan dahi.

"Siap, iya." Damara tidak tahu betul siapa nama lengkap papa Delta. Namun mengingat nama belakang yang disebutkan prajurit TNI yang berada di pintu masuk serupa dengan Delta, ia meyakini jika itulah orang yang dimaksud.

"Ada urusan apa? Sudah buat janji?"

"Belum" Ia hanya menjawab pertanyaan yang terakhir. Untuk pertanyaan sebelumnya tidak perlu dibahas, dan juga terlalu aneh rasanya jika ia bertemu dengan Agam di kantor untuk membahas perihal Delta. Ya, ia pastikan pertemuan ini membahas Delta.

"Penting?" Damara mengangguk.

"Di lantai 3, kamu naik tangga di pojok sana. Kamu cari saja, dilantai 3 ada papan atas nama Letkol Agam Lingga Samudra di depan pintu" Okan merentangkan tangan kanannya ke arah tangga.

"Terima kasih Om," ucap Damara sebelum berjalan ke undakan tangga.

Melangkah ke lantai 3 sama seperti ketika ia melangkahkan kaki ke kelas, malah jarak kelas terlampau jauh jika dibandingkan jarak menuju ruangan Agam.

Seperti berjalan di atas bara api, mampu membuat pijakan bergetar. Setiap langkah kaki Damara terasa seperti menuju ke neraka, berat dan tak tenang. Berbagai spekulasi tentang apa yang akan terjadi beberapa waktu ke depan berputar di pikirannya.

Gugup, tentu saja. ini pertama kalinya bagi Damara mendatangi seseorang yang berarti bagi orang yang dicintainya. Jelas karena Delta juga yang pertama untuknya.

Sejenak ia tersadar. Apa gunanya jika hampir tiga tahun berada dalam circle paskibra yang membentuk anggotanya untuk berani dan bermental baik. Berbagai trik menghadapi orang yang berada di atas rata-rata sudah ia pelajari dan alami.

Menghadapi tentara bukan hal yang sulit baginya. Ia sering berhadapan dengan pelatih paskibraka yang berasal dari kacang hijau. Selain itu ia juga sering berinteraksi kepada tentara yang handal dalam perkara paskibra untuk menjadi juri di perlombaan baris-berbaris yang di selenggarakan oleh Paraga.

"Masuk!" suara di dalam terdengar ketika ia mengetuk pintu.

"Permisi Om,"

"Ya," ujar Agam ketika mendongak.

Damara berdiri di depan kursi kebesaran Agam, didepannya Agam bersedekap menatap Damara lekat. Walaupun terdapat kursi didepannya,ia memilih tetap berdiri karena Agam pun tidak mempersilahkannya untuk duduk. Tidak masalah baginya, sudah menjadi makanannya berdiri dalam waktu yang cukup lama.

DAMARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang