TELEPON DAMARA {Exchap Series}

34K 3.5K 174
                                        

'Biarlah susah di masa muda, asal tidak susah di kala tua

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Biarlah susah di masa muda, asal tidak susah di kala tua.'

***

Panggilan suara yang Delta tunggu-tunggu akhirnya muncul. Tapi sekarang, ia justru gugup untuk menjawabnya. Ia bahkan bingung akan membicarakan apa.

Dengan keberanian, Delta menggeser lingkaran hijau. Baik Delta maupun Damara tidak ada yang bersuara. Sepertinya masing-masing pihak menginginkan pihak lawan untuk berucap terlebih dahulu.

"Halo... Del?" Suara serak basah nan tegas yang mengalun di telinga Delta hingga membuatnya menahan nafas. Jelas bukan pertama kalinya ia mendengar suara Damara di telepon. Akan tetapi, kali ini terasa sangat berbeda. Benar-benar efek tidak bertemu dan mengobrol hampir 2 minggu ini.

"Iya?" jawab Delta seraya mengigiti jarinya.

"Maaf ya aku baru telepon, soalnya hp aku ketinggalan di restoran tempat aku singgah makan di perjalanan waktu itu. Aku baru sempat ambil sekarang."

Ponsel Damara tertinggal di restoran yang cukup jauh dari lokasi Seleksi, Korem III. Di saat hari kehilangan, Damara tidak sadar. Ia menyadarinya di hari berikutnya, namun naas pada hari itu adalah jadwal pendaftaran ulang Calon Taruna Akmil. Di hari berikutnya, Damara sudah memasuki rangkaian awal seleksi, yaitu pengecekan Calon Taruna Akmil. Hingga tiba di hari ini, kegiatan parade serta pengumuman Seleksi Calon Taruna Akmil pada tahapan pengecekan awal.

Usai dari kegiatan tersebut, Damara dan Farhan bergegas untuk mengambil ponsel Damara. Ia memang sudah mengetahui keberadaan ponselnya, namun baru dapat mengambilnya hari ini. Jaraknya yang cukup jauh, membuat mereka cukup mempertimbangkan diri untuk ke sana. Kalau bukan karena isi dan data berharga yang ada di ponsel tersebut, Damara rela menyedekahkan ponselnya itu.

"Oh iya." Apalagi yang bisa Delta katakan selain itu. Masa iya, Delta akan marah-marah. Lagipula, Damara tidak menghubunginya bukan tanpa alasan.

"Kamu lagi ngapain?"

"Aku... lagi... gak ngapa-ngapain sih," jawab Delta sekenannya.

"Nggak belajar?"

"Udah tadi."

"Nggak tidur?"

"Kan aku lagi teleponan sama kamu, gimana tidurnya?"

"Oh... kamu mau tidur, y-" Segera Delta pangkas sebelum kata-kata penutup yang akan Damara sampaikan terucapkan.

"Eh... nggak, gak. Belum mau tidur, jangan undahan."

"Kangen...," cicit Delta sangat pelan.

"Sama."

Sontak pipi Delta memerah mendengarnya. Untung saja mereka melakukan panggilan suara. Jika panggilan video, pasti rona merah di pipinya akan tampak dilayar ponsel Damara.

DAMARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang