MILIK DAMARA {Exchap Series}

51.7K 3.5K 482
                                        

Selama menjalani proses seleksi taruna akmil, pada tingkat pusat, seorang catar akan mengalami fase karantina. Materi seleksi pada tingkat pusat hampir sama dengan tingkat panda, yang membedakan hanya persaingannya dalam skala nasional dan di tingkat pusat memiliki tambahan tes akademik. Tes akademik memiliki bobot yang besar. Bahkan banyak calon taruna yang mengalami kegagalan akibat kurangnya nilai tes tersebut.

Tapi, tidak perlu khawatir, penentuan akhir tidak hanya berdasarkan tes akademik, tapi juga tes psikologi, jasmasi, litpers, dan lain-lain. Pemeringkatan, peringkat diri berdasarkan total dari serangkaian tes dengan para calon taruna menentukan kelulusan. Apabila peringkat yang didapat di atas atau tepat diangka kuota maka akan dinyatakan lulus.

Kini para calon taruna sudah tiba di waktu penentuan. Jangan tanyakan bagaimana kondisi dan suasana didalamnya, sudah pasti menegangkan. Jantung mereka juga pastinya sedang berdisko apabila para petinggi maupun panitia yang bertugas sebagai penyeleksi berada di dekatnya.

Keputusan yang akan didapat hanya dua, lulus atau belum lulus.

Lulus otomatis akan melanjutkan Pendidikan di Lembah Tidar Magelang.

Sementara sebaliknya yaitu belum lulus, masih bisa melanjutkan perjuangan di tahun selanjutnya sampai kata tidak lulus tersandang. Kata tidak lulus didapat apabila usia sudah melewati batas persyaratan, yang mana seseorang tidak akan mungkin untuk melakukan perjuangan itu.

Hanya ada tangisan di sana. Namun yang membedakannya hanyalah tangisan syukur dan tangisan kecewa. Yang menangis akibat rasa syukur akan merangkul yang memiliki tangisan kecewa. Berusah menguatkan. Bukan suatu hal yang kecil untuk bisa di ikhlaskan.

Tadinya hanya berkaca-kaca, dengan mengedipkan mata berkali-kali dengan cepat membuat air yang mengenang dipelupuk mata tidak luruh. Namun saat bertemu dengan Dara, yang tadinya mata sudah dikondisikan dengan baik justru gagal. Ketika sebuah pelukan tercipta, disaat itulah tangis haru menyertai

"Makasih ma buat doa dan dukungannya," lirih Damara masih dalam pelukan Dara.

"Selamat ya Bang, semoga nanti menjadi abdi negara yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab."

"Amin," jawab Damara lalu mengurai pelukan.

"Abang!" pekik Davina lalu menubruk dada Damara dan melingkarkan kakinya di pinggang Damara seperti koala.

"Selamat! Selamat! Selamat! Pokoknya selamat!" ujar Davina tepat di telinga Damara.

"Dek, telinga Abang," peringat Damara pada Davina yang masih menempel padanya. Mengalihkan pandangannya dari Davina, ia melihat sosok yang dirindukannya lengkap dengan pawangnya.

"Ihh... Abang! Masih mau peluk!" protes Davina ketika Damara melepas paksa pelukan.

Tidak jauh dari sana, Delta melambaikan tangan kecil. Delta berjalan pelan mendekati Damara. Rasa rindu yang sangat membuncah telah terbayarkan. Pelukan kali ini lebih erat dari pelukan sebelumnya.

Damara sangat terkejut dengan kehadiran Delta. Ia tidak menyangka jika Delta bisa berada di sini. Jarak ke magelang bukan sedikit, perlu pesawat untuk bisa menginjakkan kaki di sini.

"Selamat ya sayang...," ucap Delta lirih.

Damara hanya berdeham dan mengelus rambut gerai Delta.

"Halah, emang beda. Sama aku gak ada elus-elus," gerutu Davina yang berdiri di samping mereka.

"Ehem" Alarm dari Agam. Pertanda bahwa pelukan tersebut harus berakhir. Agam menyalami Damara dan memberikan ucapan sebagaimana yang ia dapatkan sebelumnya.

***

"Yakin gak mau ke bandara?" tanya Agam yang kesekian kalinya. Ia hanya tidak ingin anaknya menyesal dikemudian hari. Ralat, dikemudian jam.

DAMARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang