18. WAKTU

61.2K 6K 877
                                        

18. WAKTU

*****

"Bos, gue udah nemu sekretaris sesuai sama kriteria yang lo mau. Hari ini lo bisa ngeinterview dia langsung. Gue juga udah ngatur jadwal, jam empat sore."

Saat ini kantin sekolah sedang ramai-ramainya. Maklum jam istirahat pertama. Sama seperti siswa siswi lainnya, Sagara, Romi, Gilang, dan Rio juga tengah jajan di kantin sekolah.

Sagara menganggapi ucapan Romi barusan dengan anggukan kepala lalu laki-laki menyeruput minumannya.

"Ayolah, Bro. Urusan kerjaan kalian tuh jangan bawa ke sekolah juga dong. Di sini kita nikmatin masa muda. Jadi bahas kerjaan ya di kantor aja. Sebagai beban keluarga gue tuh ngerasa insecure tiap kalian bahas kerjaan," ujar Gilang pada dua temannya.

Romi tertawa. "Gimana gak gitu, Lang, gue, kan, kepala keluarga sekarang. Jadi pikiran gue ya cuma ngumpulin uang buat kebutuhan keluarga. Lo mah enak udah kaya dari lahir. Warisan juga banyak dari bokap lo. Gak kaya gue."

"Iya juga sih. Tapi gue akuin lo tuh hebat tau, Rom."

"Ya emang. Romi gitu loh," sahut Romi bangga.

"Anjir narsis," cibir Sagara sambil tertawa.

"Tapi jujur gue salut banget sama lo, Rom. Secara, maaf sebelumnya, lo kan termasuk anak broken home. Ngerawat Ruby sendirian tanpa ada orang tua. Itu kayak wah banget. Lo bisa bertahan sampai sekarang dengan keceriaan yang lo tampilan di depan semua orang."

"Harus ceria lah. Lagian buat apa juga nangisin orang tua bangsat kaya Mama Papa gue. Gak guna." Romi mengukir senyuman untuk menutupi luka di hatinya.

Bisa dibilang, di antara teman-temannya, nasib Romi lah yang paling kurang beruntung. Laki-laki itu ditinggalkan oleh kedua orangtuanya saat berumur 15 tahun. Mama Papa Romi bercerai dan menikah dengan pilihan masing-masing. Sedangkan Romi dan adiknya-Ruby, dibiarkan terlantar.

Sebab itu juga, Sagara menempatkan Romi sebagai asisten pribadinya. Selain karena ingin menolong finansial Romi, Sagara juga membantu Romi dengan alasan, Romi mampu menunduduki posisi itu.

Romi bekerja dengan baik di perusahaan keluarga Sagara. Dan sampai ini, belum pernah ia melakukan kesalahan besar karena kelalaiannya dalam bekerja.

"Tapi gue penasaran deh, Rom." Rio yang duduk di sebelah Gilang bersuara.

Romi mengangkat satu alisnya.

"Apa yang membuat lo kuat?"

"Eem, Ruby," jawab Romi tanpa pikir panjang. Ya karena memang hanya adiknya itu alasan ia bertahan.

"Ruby? Kenapa Ruby bisa membuat lo lebih kuat?" timpal Gilang.

"Emm apa ya? Semenjak kehadiran Ruby tuh, gue makin semangat kayak, ayok lo kerja keras biar bisa jadi Rich Brother buat Ruby. Lo harus bisa beliin apapun yang Ruby mau. Lo harus bisa bahagiain Ruby."

"Keren. Gue doain semoga lo bener-bener bisa jadi Rich ya, Bro. Ruby pasti bangga punya Abang kayak lo," ucap Gilang, menepuk bahu Romi.

***

"Ra, hari ini jalan yuk," ajak Flora. "Udah lama kita gak main bareng. Kemana gitu, terserah lo deh," sambungnya lagi.

Ah benar juga apa yang Flora katakan. Sudah lama mereka tidak hangout. Karena sekarang Kiyara tidak sebebas sebelum menikah, pergerakan perempuan itu lebih terbatas.

"Gue izin dulu sama Kak Gara. Semoga aja dibolehin."

"Harus dibolehin lah! Kalau bisa minta uang jajan yang banyak. Porotin aja sekalian, mumpung suami lo anak sultan kaya raya."

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang