09. PERPUSTAKAAN DAN RASA
******
"Iya, hallo?" ucap Kiyara saat panggilan terhubung.
"LO JAHAT BANGET, RA! SAHABAT APAAN LO HAH?!"
Deg! Ada apa ini?
Kiyara menjauhkan ponselnya dan menatap layar benda itu bingung.
"Flo?" ucap Kiyara.
"Gue marah sama lo pokoknya, Ra! Tega banget lo sama gue! Lo nganggep gue apa selama ini hah?!" Suara di seberang sana masih ngengas.
"Lo kenapa deh, Flo?" tanya Kiyara aneh.
Sumpah Flora tidak pernah marah-marah seperti ini pada Kiyara. Apalagi melalui telepon. Dan kali ini... Kiyara rasa, dia tidak memiliki kesalahan pada sahabatnya itu.
"Gue bestie lo ga sih, Ra?!"
"Y-yaiya lah pake nanya. Aneh banget, lo lagi pms, ya?"
"Lo nikah kenapa ga ngundang gue?!"
"Hah?"
"Iya! Tadi gue ke rumah lo dan Tante Tika cerita ke gue. Jahat banget sumpah."
"Hah?"
"Hah terus loh ah! Pokoknya gue mau ketemu lo hari ini. Lo harus ceritain lebih detail lagi ke gue!"
Panggilan langsung terputus saat kalimat terakhir itu diucapkan oleh Flora. Sedang Kiyara melongo, masih tidak menyangka bahwa sahabatnya tersebut akan tahu secepat ini.
***
Di hadapan gundukan tanah bertabur bunga, seorang pria tua dengan rambut yang telah memutih karena termakan usia berjongkok. Dia Eyang Pras atau kakek Sagara.
Perlahan Eyang Pras mengusap nisan di hadapannya. Sirat wajahnya sangat menggambarkan rasa rindu yang mendalam.
"Hai Sayang," kata Eyang Pras seraya menaruh bunga besar di samping foto istrinya yang baru diganti.
"Aku ke sini mau ngasih tau sesuatu. Kamu pasti senang mendengarnya. Cucu kita, dia telah menikah. Semuanya berjalan sesuai sama apa yang kamu harapkan. Sekarang wasiatmu sudah terpenuhi, Sayang."
Pria itu tersenyum, banyak cerita ia bagikan pada makam di hadapannya. Itu adalah makam istrinya. Orang yang paling ia cintai di dunia, bahkan melebihi cintanya pada diri sendiri.
"Setelah ini aku tenang kalau harus ikut menyusulmu," gumam Eyang Pras, kemudian termenung memutar sedikit memori manis bersama mendiang istrinya saat dulu.
Menghela napas pelan, rasa rindu itu makin menjadi. Eyang Pras sampai batuk membuat dua bodyguard di belakangnya sigap mengulurkan tangan untuk membantu. Namun Eyang Pras memberi kode agar mereka tetap diam.
Eyang Pras mendekatkan wajahnya pada nisan. Tepat di ukiran nama Larasati Putri Kinara, ia menjatuhkan bibirnya untuk mencium lembut, membayangkan itu adalah wajah istrinya.
"Aku pamit," ucap Eyang Pras kemudian kembali mengusap nisan sang istri dan berdiri dibantu oleh dua bodyguard di belakangnya. Satu bodyguard lagi memayungi pria tua itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
Roman pour AdolescentsSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)