Rio mengusap kasar ujung bibirnya yang sobek. Rio dan Alvin sempat terlibat perkelahian. Namun tetap Alvin yang unggul. Wajar, dia dulu ketua geng, menghabisi bocah macam Rio adalah hal yang sangat gampang. Tetapi Alvin tidak mungkin membuat cowok itu sampai sekarat.
"Ayo bunuh gue sekalian!" tantang Rio yang sudah terkapar. Dia menatap Alvin penuh dendam. Terpancar aura kebencian yang begitu mendominasi ketika matanya menatap Alvin.
Alvin balas menatap cowok itu datar. Sama sekali tidak peduli dengan perkataan Rio barusan. Membenarkan kerah bajunya lebih dulu, Alvin lalu berjongkok di hadapan Rio.
"Jangan pernah ganggu adik gue lagi!" tekan Alvin dingin dan penuh peringatan.
Alvin bangkit untuk mengambil belati milik Rio yang jatuh tak jauh dari mereka. Sebelum Rio menyahut perkataannya, cowok itu lebih dulu memberikan belati itu kepada pemiliknya.
"Sekarang semuanya udah impas. Lo kehilangan kakak lo dan gue juga udah kehilangan ponakan gue karena lo. Stop sampai di sini Rio. Gue mau berdamai dengan masa lalu."
Mengepalkan tangannya, Rio tidak terima dengan ucapan Alvin. Impas apanya? Rio belum puas sebelum Alvin benar-benar menderita.
Rio bangkit. Tangannya berusaha menggapai Alvin yang sudah berbalik arah. "Gampang banget mulut lo ngomong! Nyokap gue depresi dan ponakan gue jadi yatim piatu di usia dini. Lo kita gue bakal terima hah! Gara-gara lo tau gak!" hardik cowok itu tajam.
"Terus mau lo apa Rio?!" berbalik badan, Alvin membalas tak kalah tajam.
"Lo hancur!"
Alvin menggelengkan kepalanya. "Sakit jiwa lo!"
Bukan kah seharusnya sudah seimbang. Dia membunuh Lio dan Rio juga telah membunuh bayi Kiyara. Terus apa yang membuat Rio belum puas?
Pusing menghadapi Rio, Alvin beranjak pergi meninggalkan cowok itu. Alvin akui kalau dirinya pengecut. Ia memang takut untuk bertanggung jawab apalagi sampai masuk penjara. Alvin berharap masalah ini sudah selesai. Ia tidak mau Kiyara terluka. Tapi ia juga ragu untuk menyerahkan diri.
Lagian semua permasalahan ini berawal juga gara-gara Lio. Andai cowok itu tidak berniat melecehkan Kiyara, pasti kejadian mengenaskan itu tidak terjadi. Ya, semua ini salah Lio!
"BRENGSEK!" Rio bangkit tertatih dan menyerang Alvin dari belakang.
Namun sebelum belati miliknya menancap ke dada Alvin, sirene mobil polisi menggema nyaring bersamaan suara pria yang mentitahkan agar mereka angkat tangan dan menjatuhkan senjata.
Jantung Alvin berdebar kencang. Dan Rio pun sama. Siapa yang memanggil polisi? Sagara tidak mungkin. Mereka sudah sepakat untuk tidak melapor polisi untuk kasus ini, setidaknya sementara.
"Jangan ada yang bergerak!" titah salah satu pria, sepertinya pangkat dia paling tinggi di antara polisi lainnya.
Beberapa polisi menghampiri Alvin dan Rio ketika petinggi polisi tadi menyuruh agar mereka menahan kedua cowok itu kemudian membawa mereka ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
***
Sagara baru saja ingin membuka pintu kamarnya, namun terhenti saat seorang pelayan juga menuju arah yang sama sambil membawa nampan makanan.
"Maaf Tuan. Tadi Nona Kiyara bilang lapar, makanya saya ambilkan makanan untuk Nona," ucap si pelayan itu seraya menunduk hormat.
"Terima kasih. Biar saya yang bawa. Anda silahkan pergi." Mengambil nampan itu, Sagara lalu melanjutkan langkah kakinya.
Sebelum benar-benar menghampiri Kiyara, Sagara tak lupa untuk mengunci pintu kamarnya. Ia menaruh nampan itu di atas nakas kemudian duduk di sebelah Kiyara.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
Novela JuvenilSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)