61. EXTRA PART II

117K 7K 690
                                        

Semenjak Kiyara hamil, sikap Sagara pada Kiyara lebih posesif dan protektif. Laki-laki meluangkan banyak waktunya demi Kiyara. Bahkan semua permintaan Kiyara ia turuti. Tentu. Yang Sagara lakukan agar Kiyara tetap merasa bahagia dan bayi mereka tumbuh dengan baik.

Di kehamilan kedua ini, Sagara benar-benar menjaga Kiyara dengan baik. Ia tidak ingin kejadian 6 tahun lalu terulang. Apalagi janin yang dikandung Kiyara adalah harapan terbesar mereka sejak lama.

Usia kandungan Kiyara sendiri sudah 9 bulan. Tinggal menghitung hari saja dia akan melahirkan. Maka itu, Sagara mengosongkan jadwal kantornya demi bisa selalu ada di sisi Kiyara.

"Anak kita yang ini cowok apa cewek, ya, Kak?" Mengusap perut bulatnya dengan lembut, senyum Kiyara tak pudar. Rasanya sangat bahagia dan tidak sabar bertemu dengan buah hatinya.

Tentang gender, Sagara dan Kiyara belum mengetahui. Mereka sengaja tidak ingin diberitahu lebih dulu oleh Dokter karena ingin surprise ketika lahir. Dan untuk nama, pasangan itu sudah menyiapkan lebih dulu.

"Mau cowok atau cewek, yang penting sehat. Iya, kan, Sayang?" Sagara kemudian ikut menempelkan telapak tangannya di perut Kiyara, berbicara pada calon bayinya.

"Aminnn," sahut Kiyara.

Dug!

"Eh, anak Papa gerak lagi," pekik Sagara ketika merasa ada gerakan di telapak tangannya saat dia mengusap-usap perut Kiyara. Hal ini kerap terjadi ketika Sagara berinteraksi dengan calon bayinya. Dan itu menimbulkan getar yang menyenangkan bagi Sagara dan Kiyara.

"Baby aktif banget kalo deket kamu, Kak. Apalagi pas kamu ajak ngobrol gitu." Kiyara menganggapi dengan tawa kecil seraya memperbaiki posisi senderannya agar lebih nyaman.

Mendekatkan bibirnya ke perut Kiyara. Berkata, "Senang, ya, kamu sama Papa, hm?" ujarnya lalu menciumi perut Kiyara gemas.

Kiyara tersenyum dan beralih mengusap rambut suaminya, membiarkan Sagara berinteraksi dengan calon bayi mereka.

"Nanti kalau kamu udah lahir, Papa janji bakal ngasih apapun yang kamu mau selagi Papa mampu. Papa gak akan biarin satu orang pun bikin kamu sakit. Dan kita harus kompak, ya, jagain Mama kamu? Oke, Sayang."

"Jangan kebanyakan janji deh, Kak. Entar kamu ingkar lagi," sahut Kiyara.

Sagara mendongak menatap istrinya. "Tapi aku gak pernah ingkar sama janji aku."

"Halah," cibir Kiyara. "Kamu pernah tuh ingkar waktu dulu. Janji katanya gak akan pernah bikin aku nangis sama ulah kamu. Tapi apa? Aku pernah nangis karena kamu," katanya lagi.

"Tapi waktu itu bukan sepenuhnya salahku juga tau, Ay. Itu karena Sasya yang mulai. Kamu salah paham waktu itu." Sagara membela dirinya.

"Tetep aja. Tapi ya, Kak, Sasya dimana, ya, sekarang? Dia masih hidup gak, ya?" ujar Kiyara kembali penasaran dengan perempuan dulu yang pernah mengusik rumah tangganya.

"Udah ah. Ngapain bahas yang enggak penting. Dia masa lalu. Jadi lupain aja," sahut Sagara.

Kiyara mengangguk. Perempuan itu beranjak dari kasur lalu turun ke lantai satu tepat di dapur. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita baya yang baru direkrut Sagara untuk menjadi maid pribadi Kiyara.

"Nyonya mau apa biar saya yang siapin," ujar Maid itu cepat menghampiri Kiyara.

"Saya cuma mau ambil minum aja, Bi," balas Kiyara terkekeh melihat maid itu khawatir terhadapnya.

Maid itu memang selalu siaga. Apa yang Kiyara inginkan selalu ia yang melayani karena Sagara menyuruhnya memperhatikan dan memastikan Kiyara agar tidak kelelahan.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang