60. EXTRA PART I

73.2K 6.3K 1.3K
                                        

Sunyi menyambut Sagara ketika lelaki itu mendorong pintu rumahnya. Hening. Tidak ada suara dan tidak ada siapa-siapa. 6 tahun yang lalu, Sagara membeli rumah tersebut untuk menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga kecilnya. Mewah dan besar. Kata itulah yang menggambarkan. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan. Sagara memilih rumah tersebut karena ia rasa tempat inilah yang pantas ia tinggali bersama istri dan anak-anaknya, kelak. Dan sudah sepantasnya, kan, Sagara memberikan yang terbaik untuk keluarganya?

Menaiki lift menuju lantai dua, Sagara akhirnya sampai di kamarnya dan Kiyara. Lelaki itu melenggang masuk dan meneruskan langkah ke balkon kamar-tempat yang selalu menjadi favorit Kiyara.

 Lelaki itu melenggang masuk dan meneruskan langkah ke balkon kamar-tempat yang selalu menjadi favorit Kiyara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Benar, kan, Istrinya berada di tempat itu-berdiri memegang pagar balkon untuk menikmati sunset. Sagara melingkarkan tangannya di pinggang Kiyara yang membuat perempuan berusia 23 tahun itu sedikit tersentak kaget.

"Udah pulang?"

"Aku gak bakal lupa sama tanggal ini, Ra. Selamat 6 tahun pernikahan, sayang," bisik Sagara lembut.

Kiyara tersenyum sendu. 6 tahun mereka menjalani rumah tangga. Pahit manis tentu membumbui bahtera rumah tangga mereka. Dan suka duka mereka lewati sama-sama. Tidak mudah, tapi terasa ringan jika dijalani dengan ikhlas dan selalu melandaskan kejujuran.

"6 tahun. Kakak enggak cape nunggu?"

"6 tahun belum apa-apa, Ra. Di luaran sana mungkin ada yang lebih lama dari kita nunggunya. 10, 15, dan mungkin 20 tahun."

"Tapi kalau selamanya gak dikasih gimana? Aku takut kak. Sampai detik ini aku belum bisa kasih kakak keturunan." Kiyara menundukkan wajahnya sendu. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Perempuan itu terisak kecil.

Kehadiran buah hati di tengah mereka tentu saja sangat didambakan dan dinanti. Sagara dan Kiyara sudah berupaya semaksimal mungkin. Saran dokter sudah mereka turuti. Namun hingga detik ini belum membuahkan hasil. 6 tahun mereka menunggu. Tetapi Kiyara belum hamil juga. Dokter bilang tidak ada penyakit pada Kiyara maupun Sagara yang dapat menghambat kehamilan. Namun itulah. Tuhan yang menentukan segalanya.

"Aku gak peduli biarpun seumur hidup gak punya keturunan. Asal ada kamu di sisi aku, itu udah cukup buat aku. Yang aku butuh cuma kamu, Ra. Urusan anak, biar Tuhan yang nentuin. Kita cuma perlu berusaha dan berdoa. Apapun hasilnya pasti itu yang terbaik buat kita."

Kiyara mendongak. Ada perasan haru dalam dirinya. Ia sangat bersyukur Sagara menerimanya apa adanya. Perempuan itu mengulurkan tangan untuk mengelus rahang Sagara. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman manis. Sedang Sagara terpejam merasakan elusan lembut dari istrinya.

"Aku udah pikirin ini dari jauh hari, kak. Demi kakak aku ikhlas. Kalau kakak udah mulai ngerasa jenuh sama aku, kakak bilang, ya? Cari aja perempuan lain yang bisa kasih kakak keturunan. Aku beneran ikhlas. Kakak butuh pewaris dari darah daging kakak. Dan aku belum bisa ngasih. Mungkin kakak bisa ngedapetin itu dari perempuan lain."

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang