59. EPILOG (ENDING)

104K 6.1K 539
                                        

Hari-hari berikutnya berjalan normal. Segala macam teror sudah tidak ada lagi. Keluarga Sagara dan Kiyara terlihat bahagia walaupun masih memendam kesedihan karena satu anggota keluarga mereka di penjara.

Sagara telah lulus SMA dan melanjutkan kuliah sambil mengurus perusahaan keluarganya. Kiyara melanjutkan homeschooling-nya sambil mengurus rumah tangga. Perempuan itu sudah beberapa kali ditawarkan masuk sekolah umum oleh Sagara. Namun Kiyara justru menolak dan tetap memilih untuk homeschooling. Alasannya agar dia mempunyai banyak waktu di rumah untuk menjalani perannya sebagai seorang istri.

Tentang Sasya, gadis itu benar-benar sudah tidak terdengar kabarnya. Sagara juga tidak minat mencari karena menurutnya itu tidak penting.

Bulan demi bulan terlewat. Sekarang tepat satu tahun sejak kejadian penusukan waktu itu. Hari di mana bayi yang dikandung Kiyara tak tertolong bahkan sebelum ia melihat indahnya dunia.

Sagara dan Kiyara berjongkok di pusara anak mereka. Seperti biasa, mereka membawa sebotol air bacaan dan bunga berkeranjang untuk Bumi Arkana. Yang paling penting mereka datang untuk mendoakan anak mereka dan melepas rasa rindu yang begitu menyesakkan dada.

"Assalamualaikum jagoan Papa. Kamu pasti lagi bahagia di surga sana sama Eyang, ya. Papa gak pernah berhenti buat bilang maaf karena gagal jaga kamu. Papa sayang kamu, nak." Merasakan tepukan lembut di punggungnya, Sagara menarik napas panjang lalu tersenyum pada Kiyara.

Rasa bersalah masih ada. Dan mungkin tak akan pernah hilang. Walaupun pada kenyataannya ini bukan salah Sagara. Kiyara sering kali mengingatkannya agar ikhlas. Hal yang dulunya dia katakan pada Kiyara saat Kiyara masih belum menerima kenyataan pahit itu.

"Hari ini tepat satu tahun. Mama senang kamu pernah ada dalam kehidupan mama. Nemenin Mama saat Mama sendiri. Kamu jadi alasan Mama bertahan. Dan alasan Mama bahagia. Makasih karena pernah hadir, Sayang. Bumi akan selalu jadi cintanya Mama. Selamanya." Kiyara mengusap nisan di hadapannya penuh kasih sayang. Sekarang memang sudah tak ada air mata lagi. Tapi kesedihan itu masih ada dan terus ada. Kiyara selalu berandai jika Bumi anaknya hidup dan tumbuh. Entahlah sebahagia apa dia sekarang. Namun itu hanya perandaian Kiyara yang tak mungkin terjadi.

Setelah membacakan untaian doa, Sagara dan Kiyara beranjak pamit dari makam anak mereka.

***

Pesta perayaan ulang tahun perusahaan keluarga Sagara diadakan malam ini. Orang-orang berjas dan memakai dress mewah masuk melalui pintu kaca besar yang telah dihiasi berbagai bunga.

Di dalam ruangan sangat ramai. Banyak orang yang hadir diacara itu. Mulai dari kolega bisnis sampai wartawan yang meliput juga ada. Tentu karena ini adalah acara besar milik keluarga paling berpengaruh dalam perekonomian negara yang memiliki perusahaan dengan cabang di mana-mana. Tak hanya itu, teman-teman Sagara dan Kiyara yang terlibat bisnis dengan keluarga mereka juga turut hadir.

Sebagai pewaris tunggal, Sagara tampil gagah dengan jas hitamnya. Dan di sebelah lelaki itu, Kiyara duduk anggun dengan balutan gaun panjang berwarna hitam silver. Mereka sangat serasi, tampan dan cantik. Keluarga mereka yang hadir duduk di barisan paling depan.

Selain sebagai perayaan ulang tahun perusahaan, acara ini juga bertujuan memperkenalkan Sagara sebagai pewaris dua perusahaan besar milik keluarganya. Perusahan milik Gibran dan milik Eyang Pras. Bisa dibayangkan? Betapa kuat jika dua perusahaan besar itu bergabung dalam satu pemimpin.

Ketika acara dansa dimulai, instrumen musik romantis mulai mengsisi ruangan dance floor. Orang-orang mulai berdansa dengan pasangannya masing-masing.

Sagara membawa Kiyara ke tengah-tengah yang membuat semua orang memperhatikan mereka. Ibarat langit, Sagara dan Kiyara menjadi bulan di antara banyaknya bintang. Pasangan itu terlihat paling mencolok dan sukses merebut perhatian.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang