Semua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan.
Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya.
Sagara dan...
Pagi ini Kiyara bangun dengan kepala lebih pusing dari sebelumnya. Tubuhnya makin lemas dan susah untuk digerakkan. Belum lagi mual hebat yang tiba-tiba muncul, membuat Kiyara sulit bangkit dari tempat tidur dan cepat menelpon Bibi Santi untuk membantunya ke kamar mandi.
Bibi Santi langsung menghampiri Kiyara dan panik ketika melihat kondisi putri majikannya itu. Dengan cepat ia memapah Kiyara berjalan ke kamar mandi.
Kiyara memuntahkan cairan bening di bantu Bibi Santi mengurut tengkuknya, meringankan rasa sakit itu. Suhu tubuh Kiyara juga panas. Sepertinya Kiyara tengah demam dan masuk angin saat ini.
"Hoek, hoek, hoek, hoek!"
Kiyara terus memuntahkan isi mulutnya. Ketika merasa sedikit membaik, ia lalu membersihkan sisa cairan belepotan itu dengan air mengalir. Kiyara juga mengipasi matanya yang sedikit berair. Cewek itu di tuntun Bibi Santi untuk kembali berbaring di kasur.
Melihat wajah pucat Kiyara, rasa cemas Bibi Santi membesar. "Kita ke Dokter ya Non?" tawarnya pada Kiyara.
Namun Kiyara menggeleng lemah seraya berucap, "Gak usah Bi. Aku cuman gak enak badan aja."
"Tapi Non Kiya pucet banget. Beneran gak mau ke Dokter?" tanya Bibi Santi lagi.
"He'em. Bibi juga jangan bilang ke Ayah atau Bunda ya, kalau aku sakit."
"Tapi Non, Tuan sama Nyonya harus tau. Biar Bibi telpon dulu," tukas Bibi Santi bersiap mengambil ponselnya. Namun segera dicegat oleh Kiyara.
"Bi, tolong jangan bilang mereka. Aku gak mau Ayah sama Bunda khawatir mikirin aku," mohon perempuan itu lirih.
Bibi Santi menatap iba pada perempuan di depannya. Wanita baya itu akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis mengiyakan. Ia juga tidak tega saat melihat wajah Kiyara yang nampak memelas dan lesu.
"Yaudah iya. Bibi buatin teh anget dulu buat Non Kiya. Kalau ada apa-apa, cepet panggil Bibi ya, Non."
Kiyara mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Bibi Santi.
Setelah Bibi Santi pergi, Kiyara mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Flora agar membuatkannya surat izin tidak masuk sekolah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cewek itu menaruh ponselnya di atas nakas. Lalu kembali memejamkan matanya, menetralisir rasa pusing dan mual yang masih menyerang tubuhnya.