32. PROGRES KEADAAN

47.4K 4.8K 576
                                        

32. PROGRES KEADAAN

******

Setelah mendengar cerita Rio, perasaan mereka menjadi iba. Anak sekecil Aya sudah mengalami hal yang memberatkan dalam hidupnya.

Sekarang Sagara dan Kiyara paham mengapa balita manis itu memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa. Karena Aya merindukan sosok orang tua dalam hidupnya.

Suara dering ponsel mengalihkan atensi mereka. Rio menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan.

"Iya, Sus, jadi gimana?"

"...."

"Aya sudah ketemu. Tolong kamu jaga Mama saya. Dan ingat, tetap perlakukan beliau dengan lembut. Sebentar lagi saya segera ke sana."

Rio memutuskan panggilan sepihak. Ia mengantongi ponselnya kembali lalu menatap temannya satu-persatu.

"Gue harus balik. Gar, Ra, sekali lagi thanks karena kalian udah nemuin dan jaga Aya," ucap Rio setelahnya.

"Om, kok pulang sih? Aya kan masih mau makan es klim di sini. Aya juga masih mau sama Mama Papa Aya," sahut balita itu mengembungkan pipinya.

Rio mengusap rambut balita manis itu, tersenyum hangat. "Oma lagi sakit di rumah, Sayang. Sekarang Oma butuh kita. Masa Aya gak mau nemenin Oma. Emang Aya gak kangen?"

"Aya kangen Oma. Tapi Aya masih mau sama Mama Papa," jawabnya lirih.

"Aya nanti bisa main lagi sama kita. Tapi sekarang Aya harus temenin Oma Aya dulu, ya Sayang?" timpal Kiyara ikut membujuk Aya.

Balita itu menatap Kiyara dan Sagara bergantian. "Tapi nanti, Aya benelan bisa ketemu Mama sama Papa lagi, kan?"

"Iya, dong. Nanti kita main bareng lagi."

Aya mendongak menatap wajah Rio. "Om, Aya mau peluk Mama Papa Aya, boleh gak?" pintanya dengan puppy eyes.

Rio yang tidak tega, mengangguk sebagai jawaban. Ia menurunkan Aya, membiarkan keponakannya itu berhambur ke pelukan Kiyara.

"Aya sayang, Mama," ungkap Aya, membuat perasaan Kiyara menghangat.

Perempuan itu tersenyum, mengusap pipi Aya. "Aya anak pinter, baik, cantik, aku yakin kamu bakal jadi orang sukses nanti."

"Aya juga sayang sama Papa," lanjut Aya memeluk Sagara.

Walau kaku, Sagara membalas pelukan hangat itu. Ia memandang wajah Aya lalu mengusap kepalanya.

"Sumpah demi apapun! Vibes keluarganya dapet banget. Asli lo berdua udah cocok banget jadi orang tua." Gilang dan Romi memandang takjub.

"Bentar lagi juga bakal," sahut Sagara menanggapi.

"Sekali lagi makasih. Mungkin kalian risih sama panggilan Aya, tapi nanti gue bakal nasihatin dia lagi buat ngingetin kalau kalian bukan mama papanya." Rio menatap tak enak pada Sagara dan Kiyara.

"Kita gak papa kok, Kak. Malah kita senang bisa ngobatin rasa kangen Aya sama mama papanya," timpal Kiyara tersenyum tipis.

"Tapi gue gak bisa biarin itu. Gue gak mau Aya jadi keterusan karena terbiasa. Kadang, keadaan memang mengharuskan kita dewasa sebelum waktunya. Tapi kalau itu demi kebaikan, sakit gak sakit, ya harus tetep dijalanin." Rio menggendong Aya kembali. "Sayang, say thanks dulu," titahnya pada balita itu.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang