05. TANGGUNG JAWAB DAN PENGAKUAN
*******
"TOLONGGGG!"
Teriakan dari atas itu membuat Sagara refleks menoleh. Balkon kamar yang terlihat menyala juga memastikan kalau kamar tersebut masih ada penghuninya.
Semakin lama, suara teriakan itu semakin nyaring. Sagara langsung menerobos masuk ke dalam rumah yang memang sejak tadi ingin ia kunjungi. Rumah Kiyara. Beruntungnya pintu depan tidak dikunci sehingga memudahkan Sagara untuk masuk.
Karena arah suara dari atas alias lantai dua, Sagara melangkah ke arah tangga. Salah satu pintu kamar yang terbuka membuat Sagara masuk ke dalamnya.
Sagara mematung di depan pintu kamar ketika melihat kondisi di hadapan matanya langsung.
"Kiyara..."
Bibi Santi yang tengah menepuk-nepuk pipi Kiyara menoleh. Wanita baya itu tengah menangis sambil terus berusaha membangunkan putri majikannya.
"Tolong Non Kiyara, Den."
Bibi Santi tidak peduli dengan kata asing. Yang penting menurutnya sekarang hanya Kiyara. Walau pun tidak kenal dengan Sagara, Bibi Santi tetap meminta pertolongan pada cowok itu langsung.
Sagara menghampiri Kiyara. Ia memperhatikan seluruh tubuh Kiyara. Berhenti di kaki, mata Sagara membola saat darah yang sudah sedikit mengering masih ada di sana.
"Kiyara kenapa, Bi?" tanya Sagara panik. Sebenarnya ia juga tidak kenal siapa Bibi Santi. Namun ketika wanita itu memanggilnya Den, spontan saja dia berspekulasi Bibi Santi adalah asisten rumah tangga di rumah ini.
"Bibi gak tau. Pas Bibi masuk Non Kiyara udah gini. Tolong, Den. Tolongin Non Kiyara. Bawa Non Kiyara ke rumah sakit."
Sagara mengangguk. Ia menggendong tubuh Kiyara dengan begitu mudah lalu membawa tubuh perempuan itu menuju rumah sakit menggunakan mobilnya. Bibi Santi pun juga ikut karena dia juga memiliki tanggung jawab pada Kiyara.
Selama di perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Bibi Santi masih terisak sambil memeluk tubuh Kiyara. Sedang Sagara fokus menyetir agar segera sampai di tempat tujuan.
Sagara khawatir. Sangat. Apalagi melihat kondisi Kiyara saat ini. Apa yang telah terjadi pada perempuan itu, Sagara tidak tahu. Intinya, rasa cemas berlebihan tengah bersemayan dalam benaknya.
Begitu tiba di rumah sakit, Sagara kembali menggendong Kiyara. Masuk ke dalam rumah sakit, para perawat langsung menghampiri mereka membawa brankar dorong. Kiyara dibaringkan di tempat tersebut.
Brankar di dorong dengan kuat agar Kiyara segera mendapatkan pertolongan. Sagara dan Bibi Santi mengiringi di sampingnya. Ketika Kiyara dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan, salah satu perawat melarang Sagara dan Bibi Santi untuk ikut masuk. Mereka berdua hanya diperbolehkan menunggu di luar ruangan.
Sagara duduk lemas di bangku tunggu yang tersedia. Entah kenapa rasa khawatirnya sekarang sangat besar. Padahal Kiyara bukan siapa-siapanya. Namun yang terjadi pada Kiyara seolah dirasakan juga oleh Sagara. Seperti ada ikatan di antara mereka berdua. Dan Sagara tidak tahu apa yang mengikat keduanya hingga Sagara sekhawatir ini.
Bibi Santi tidak bisa diam. Wanita itu cemas dan bolak balik seperti setrika berjalan. Jangan lupakan air mata yang masih mengalir, menandakan dia juga khawatir pada Kiyara.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
Fiksyen RemajaSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)