40. BAIK-BAIK SAJA
******
Kelas sedang berlangsung. Namun entah kenapa Sagara tidak tenang dari tadi. Ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Lelaki itu merasa resah dan terus kepikiran Kiyara.
Tapi Sagara membuang semua prasangka buruknya. Ia mencolek bahu Robi, cowok yang duduk di depan Romi menggunakan pulpen. "Shttt. Rob?" bisiknya pelan.
Robi pun menengok ke belangkang menaikkan satu alisnya bertanya. "Ape sih?"
"Lo tukeran duduk dong sama si Cungkring," suruh Sagara pada Robi.
Kebetulan Robi memiliki tubuh gemuk yang selalu bisa Sagara andalkan untuk menutupi dirinya dari pandangan guru di depan. Sedangkan si Cungkring yang Sagara maksud adalah cowok kurus yang duduk di depannya.
"Ogah males gue," sahut Robi kembali memutar kepalanya memperhatikan guru.
"Ayo dong Rob," rayu Sagara mencolek bahu cowok gemuk itu. Kemudian mengarahkan pulpennya pada si cowok kurus. "Eh, Cungkring, pindah lo!" titah Sagara seenaknya.
"Apaan dih. Gue bilang ogah ya, Gar. Lo juga diem ya Cungkring, gak usah gerak," sebut Robi.
"Dua bakso gratis gak mau Rob?" Sagara mencoba bernegosiasi dengan cowok itu.
"Tiga." Robi menyahut. Mulai tertarik dia kalau urusan makanan.
"Oke lima!" putus Sagara membuat Robi mengangguk puas. "Dah cepetan pindah lo berdua."
Grasak grusuk mulai terdengar ketika dua cowok dengan badan beda massa itu tukaran posisi duduk. Bu Rena yang sedang menjelaskan materi pun menatap curiga.
"Robi, Tian, mau ngapain kalian?" Bu Rena menurunkan sedikit kaca matanya.
"Tukeran duduk, Bu. Si Cungkring katanya gerah duduk di pojok tembok," jawab Robi beralasan.
Sedang Tian yang digelari Cungkring itu menunduk takut. Ia memang anak pendiam di kelas. Bisa disebut nerd juga. Kadang cowok itu disebut cupu karena memakai kacamata minus dan kurang bergaul. Itulah yang menjadikan Tian sasaran bully teman temannya. Namun Tian hanya diam karena tidak berani melawan.
Keadaan mulai kondusif. Bu Rena kembali mengajar dengan tenang. Padahal tanpa guru itu sadari, di belangkang beberapa muridnya sama sekali tidak mendengarkan.
Seperti Romi contohnya, dia hanya tidur dengan dua tangan dilipat dijadikan bantal. Ada Gilang yang sibuk membalasi chat gebetan-gebetannya. Dan Sagara, dia malah main game online.
"Oke, Now I minta Romi buat jelasin ulang about materi yang tadi I jelaskan." Mata Bu Rena mengarah meja belakang, tempat Romi dan Sagara duduk.
"Romi?" panggil Bu Rena.
Tidak ada yang menanggapi. Sagara dan Gilang yang sama-sama sibuk dengan ponsel juga tidak tahu kalau Bu Rena tengah memanggil nama teman mereka. Sedang Rio menatap malas. Ia juga hanya diam mengikuti teman sekelasnya yang lain.
"ROMIII?!" Bu Rena melemparkan spidol di tangannya hingga mengenai kepala Robi.
"AWWW. Kenapa lempar ke saya Bu?" protes Robi tak terima sambil mengusap-usap kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
أدب المراهقينSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)