55. TEKA TEKI

50.1K 5K 1.6K
                                        

"Ara!"

Sagara lebih mencepatkan langkah kakinya ketika melihat sang istri tengah menangis duduk di kasur. Lelaki itu baru saja pulang sekolah, melihat Kiyara seperti itu membuatnya cemas.

"Kenapa, hm?" Sagara bertanya dengan lembut.

Kiyara menarik ingusnya yang hendak meleleh lalu menoleh pada Sagara dengan mata berkaca.

"Kangen Bumi," sahutnya pelan.

Sagara memperhatikan benda di tangan Kiyara kemudian menghela napas berat. Foto USG dulu, pasti itu yang membuat Kiyara teringat almarhum anak mereka.

"Sini," pinta Sagara merentangkan tangannya agar Kiyara mendekat dan masuk ke pelukannya.

Lelaki itu mengusap rambut Kiyara pelan. "Nanti kita ke makam lagi buat jenguk Bumi, ya. Tapi gue minta, lo jangan nangis lagi."

"Gue sedih, Kak," curhat Kiyara.

"Gue juga sama, Ara," sahut Sagara.

"Tapi kita nggak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Kita harus bangkit dan mulai tata hidup baru buat melangkah ke depan."

Sagara melepas pelukan mereka. Ia lalu memandang Kiyara dengan tatapan ragu, bingung merangkai kata-kata.

Setelah sedikit yakin, Sagara memanggil nama Kiyara, membuat perempuan yang menunduk itu mengangkat kepalanya. Sagara mengusap jejak air mata di pipi Kiyara lalu menyampirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Kiyara ke belakang telinga.

"Gue mau tanya sesuatu sama lo."

"Nanya apa?" Kiyara menyahut.

"Tapi kalau lo emang keberatan buat jawab, gak perlu dijawab, oke. Gue gak akan maksa," papar Sagara lebih cepat.

Kiyara mengangguk. Ia balas menatap wajah Sagara yang terlihat serius dan sedikit tegang. Tapi tunggu, Kiyara baru menyadari bahwa ada memar dan luka di wajah suaminya.

"Waktu lo-"

"Ini kenapa?"

Sagara dan Kiyara bicara berbarengan. Kalimat Sagara yang belum rampung terpotong oleh pertanyaan Kiyara. Mereka berdua sama-sama mengatupkan bibir canggung.

"Lo duluan," ujar Sagara mengalah.

Kiyara memegang pipi Sagara lalu sedikit memajukan tubuhnya untuk memperhatikan objek di depannya lebih detail.

"Wajah Kakak kenapa bisa gini?" Kiyara bertanya sambil menekan luka itu.

"Akkhh! Jangan dipencet gitu, Ra, sakit." Sagara langsung meringis merasa nyut-nyutan di area wajahnya yang luka.

"Maaf, refleks tadi." Kiyara menjauhkan tangannya ikut meringis. "Kenapa bisa luka gitu wajahnya?" Kemudian ia kembali bertanya.

"Gelut."

"Sama siapa dan karena apa?"

"Rio."

Seketika Kiyara mematung mendengar nama Rio. Sagara yang melihat itu terdiam. Kecurigaannya pada Rio semakin kuat.

"Kak Rio?" ulang Kiyara.

"Iya. Lo mau cerita sesuatu sama gue?" pancing Sagara. "Tentang penusukan waktu itu."

Kiyara kembali mengingat kejadian itu. Hatinya terasa perih karena hari itu adalah kiamat bagi Kiyara. Dia kehilangan Bumi Arkana-anaknya tepat setelah kejadian menyakitkan itu.

"Kak..." Kiyara seperti menahan air matanya. Bibir perempuan itu bergetar membuat Sagara tidak tega.

"It's okay. Gue gak akan paksa kalau lo belum siap cerita." Sagara kembali memeluk tubuh sang istri lalu mengusap rambutnya pelan.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang