56. FAKTA DAN BAHAYA

51.1K 4.8K 1.5K
                                        

Saat ini Sagara berada di lantai satu apartemennya. Ia tengah menanyakan tentang orang mencurigakan yang mungkin pernah mengintai di sekitar tempat itu.

"Anda yakin, gak liat orang mencurigakan di sekitar sini?" Sekali lagi Sagara bertanya pada perempuan di depannya, a.k.a Resepsionis yang bekerja di gedung apartemen itu.

Namun Resepsionis apartemen itu menggeleng. "Enggak, Pak. Kalau saya gak pernah liat. Tapi nanti saya coba tanya karyawan, siapa tau mereka liat," ujar Resepsionis itu. Ia dapat merasakan kalau ini adalah hal penting, terbaca dari raut serius yang kentara di wajah Sagara.

"Oke. Kalau emang ada, cepat kabari saya," pesan Sagara. Dan Resepsionis itu membalasnya dengan anggukan.

Sagara menghela napasnya. Clue untuk menemukan si pelaku penusukan itu tidak ia dapat di sekitar apartemennya.

Sagara sudah yakin seratus persen kalau pelakunya itu adalah Rio. Tapi untuk membuktikan keyakinannya, dia perlu data agar faktanya juga jelas dan Sagara tidak dicap asal tuduh.

Lelaki itu menatap kalung di genggamannya. Kalung milik Sasya yang ditemukan di gudang. Sagara perlu menemui Sasya untuk meminta penjelasan. Sayangnya, sampai detik ini, gadis itu tidak dapat dihubungi. Dia kembali menghilang seperti waktu lalu tanpa memberi kabar apapun.

Lamunan Sagara buyar saat ponselnya bergetar. Sambungan telepon dari Romi mengisi layar benda persegi itu.

"Iya Rom?" balas Sagara setelah mendengar suara dari speaker ponselnya.

"Bos, gue udah nemuin dua orang pelaku. Katanya mereka dibayar. Tapi mereka gak mau ngasih tau siapa orangnya," ujar Romi melapor.

"Gak papa. Tapi udah lo amanin, kan?" tanya Sagara memastikan. Dua orang itu penting dalam masalah ini. Dan Sagara sendiri yang akan turun tangan nanti.

"Yoi. Udah gue sekap juga. Lo kapan ke sini?"

Sagara melihat jam tangannya lebih dulu kemudian bergumam. "Em...Bentar lagi gue otw."

"Okay."

Setelah panggilan terputus, Sagara memutuskan agar segera ke bandara untuk menjemput Alvin. Alvin pulang lebih cepat dibanding Ayah.

Perjalanan ke bandara membutuhkan waktu satu jam. Sagara tidak perlu menunggu di sana karena saat dia sampai ternyata Alvin sudah menunggunya juga.

"Kiya gak ikut?" Alvin bertanya saat masuk dan duduk di samping pengemudi.

"Males ke luar rumah katanya," jawab Sagara sekenanya. Cowok itu kembali melajukan mobilnya saat Alvin selesai memakai seatbelt.

"Tumben," cetus Alvin heran. Tak biasanya adiknya itu mageran, biasanya semangat terus kalau diajak keluar rumah.

"Ara gak enak badan. Terus pusing sama mual juga."

"Nah loh! Hamil lagi?" Alvin asal ceplos membuat Sagara memutar bola matanya malas.

"Yakali, Bang! Jangan ngada-ngada deh." Balas Sagara. Lagain mana mungkin Kiyara hamil lagi. Mereka saja tidak pernah berhubungan badan semenjak Kiyara keguguran.

"Siapa tau yakan? Elu bini sakit bukannya dijagain malah jemput gue."

"Malah Ara yang suruh gue jemput lo. Lagian abis ini gue juga mau nyeledikin kasus itu lagi. Lo ikut aja, ya, Bang."

"Ada perkembangan lagi?" tanya Alvin dan Sagara membalasnya dengan anggukan.

Selama diperjalanan, lagu Dusk Till Dawn-Zayn Malik ft Sia mengalun mengisi keheningan.

"Kayaknya ini emang udah waktunya gue nyerahin diri, Gar," celetuk Alvin membuat Sagara menoleh sekilas.

"Yakin lo siap?" Sagara menyunggingkan smirknya kemudian mengangkat alis saat Alvin kembali terdiam.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang