48. THE WINNER OF HIS HEART
*******
"Hati gue sakit, tapi gue nggak bisa larang dia, Tuhan." Kiyara mengadu sedih. Mengacak kertas di genggamannya lalu membuang di tempat sampah.
"Sebenarnya hati lo tuh untuk siapa sih, Kak? Gue atau Sasya? Arghh, gue bingung." Kiyara menjatuhkan kepalanya di atas meja, matanya mengarah ke samping memperhatikan figura berisi foto pernikahannya dengan Sagara.
Sikap dan perhatian Sagara selalu membuat Kiyara merasa spesial. Sagara juga sudah mengatakan kalimat cinta. Tapi kenapa Kiyara masih belum merasa puas? Seolah apa yang sudah Sagara lakukan selama ini belum cukup untuk menjelaskan apa posisi Kiyara di hati Sagara.
Atau yang sebenarnya egois itu Kiyara? Jujur dalam lubuk hatinya, ia menginginkan Sasya pergi dalam kehidupan Sagara. Kiyara ingin Sagara menjadikan dia sebagai pusat dunianya. Tapi otaknya berbanding terbalik dengan semua itu. Buktinya, Kiyara memberikan kebebasan untuk Sagara. Dia membebaskan Sagara mencari perempuan lain jika Sagara mau. Dan di saat Sagara menolak perempuan-perempuan lain dengan sendirinya Kiyara yang menyuruh. Seperti tadi, dia yang memberikan izin agar Sagara menemani Sasya.
Jika dipikir-pikir, apa yang Kiyara rasakan sekarang ini, itu memang karena dia sendiri yang membuat kesedihannya. Bukan salah Sagara atau pun Sasya. Kalau menurut kalian gimana?
Tapi di balik semua itu, Kiyara mempunyai alasan mengapa ia melakukan itu. Kiyara hanya ingin Sagara mendapatkan hak masa remajanya. Tidak di kekang oleh ikatan pernikahan mereka. Dan bisa mencintai gadis yang benar Sagara cintai. Kiyara tahu kehidupan Sagara sebelum menikah sebebas apa. Pasti cowok itu akan terkekang dengan hubungan mereka. Makanya Kiyara ingin memberikan kebebasan. Hanya itu.
"Ayo, Ra, fokus belajar dan jangan pikirin mereka." Kiyara memejamkan matanya beberapa detik kemudian menegakkan posisi duduknya kembali membuka buku LKS untuk mempelajari materi sekolah.
Namun percuma, isi batoknya terus pada Sagara dan Sasya. Ia memikirkan apa yang dilakukan dua orang itu di luar sana. Apa mereka tengah tertawa bahagia di atas keresahan Kiyara?
Kiyara mengusap wajahnya gusar. Perempuan itu memilih menanggalkan buku-bukunya. Ia menyingkap gorden besar di kamar, menampilkan view pemandangan kota yang diguyur hujan melalui kaca transparan. Kiyara bersidekap lalu memperhatikan jam dinding yang menunjukkan pukul 22.06. Sudah lewat jam sepuluh malam tapi Sagara belum pulang.
Kiyara kembali mengingat kejadian malam itu. Malam yang merenggut mahkota berharga miliknya. Disaat hujan deras. Kiyara memejamkan matanya erat sambil mengusap perutnya.
"Andai waktu bisa diulang, gue pasti..." Kiyara dengan cepat menggelengkan kepalanya. Tidak. Dia tidak boleh menyesali semua ini. Ini sudah takdir dan kehendak Tuhan. "Maafin aku." Kiyara menghela napasnya berat kemudian sedikit menunduk untuk menatap perutnya yang berisi.
Beberapa saat termenung, Kiyara mendengar pintu kamar diketuk. Ia mengerutkan kening bingung. Siapa yang datang? Jika Sagara, kenapa cowok itu tidak langsung masuk saja.
Perempuan itu segera membuka pintu dan tercengang memperhatikan penampilan Sagara basah kuyup.
"Astaga, Kak! Kenapa basah gini? Enggak neduh dulu ya tadi?" Kiyara menggelengkan kepalanya melihat cowok itu hanya diam saat ditanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
Novela JuvenilSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)