57. DENDAM RIO

51.1K 5K 970
                                        

Rio menarik Kiyara menuju balkon kamar Kiyara secara paksa dan kasar. Ingin berteriak meminta tolong namun percuma. Semua orang di rumah itu pingsan karena orang suruhan Rio membius mereka. Kiyara hanya menahan tangisnya agar tak terlihat lemah di mata cowok itu.

"Lepasin gue!" Kiyara memberontak ketika Rio mengikat kedua tangannya di balik tiang balkon kamar.

"Apa, lepasin? Enak aja! Gue susah-susah ngejar lo masa dilepas," sanggah Rio lalu tersenyum miring setelah selesai mengikat Kiyara supaya perempuan itu tidak kabur.

Kiyara mengepalkan tangannya sambil menatap Rio tajam. "Lo manusia paling jahat yang pernah gue kenal. Kenapa lo giniin gue hah?!"

"Manusia paling jahat?" Rio melangkah mendekati Kiyara dan mencengkram dagu perempuan itu dengan kasar. "Mikir! Bajingan Alvin yang pantes dapat gelar itu! Kakak lo sendiri Ara!"

Perempuan itu tersentak. Hatinya mencelos mendengar ucapan Rio. Jadi selama ini apa yang mereka pikirkan tentang Rio itu ternyata benar. Rio mau balas dendam dengan Alvin tapi lewat Kiyara.

"Heran gue. Kenapa lo gak ikut mati aja sama bayi di kandungan lo pas gue tusuk." Desis Rio tersenyum sinis. Ia tidak peduli dengan apapun. Untuk saat ini yang terpenting adalah dendamnya bisa terbalas.

"L-lo!" Kiyara menatap geram ke arah Rio. Rasanya perempuan itu tak kuasa menahan tangis ketika mengingat bayinya yang sudah tidak ada.

"Apa? Lo mau apa hah?" tantang Rio sambil terkekeh puas melihat wajah perempuan di hadapannya penuh dengan amarah.

Kiyara kembali memberontak yang membuat ikatan ditangannya menguat. Bahkan lengan Kiyara memerah dan terasa perih saat ini.

"Lepasin dia!"

Bariton datar-namun sarat tak ingin dibantah itu terdengar jelas disusul derap langkah kaki makin nyaring pertanda orang yang bersuara itu makin dekat.

Rio mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum miring. Yang ditunggunya akhirnya datang. Dengan gerakan santai, Rio memutar tubuhnya tepat ketika Sagara dan Alvin melangkah melewati pintu balkon.

"Oke. Kayaknya sekarang udah waktu yang pas. Mumpung kalian berdua udah dateng, jadi kalian bisa nyaksiin sendiri kematian dia." Rio mengambil belati miliknya kemudian tawa psyiconya terdengar ketika melihat Sagara dan Alvin membola kaget. Ditambah tubuh Kiyara yang semakin gemetaran.

"Jangan macem-macem Rio!" desis Sagara tajam.

"Gue gak macem-macem, cuma mau bunuh Ara aja kok," ujar Rio kelewat santai. Malah sekarang dia mengusap pipi Kiyara dengan lembut, membuat Sagara geram dan sangat ingin menghabisi cowok itu.

"Salah gue. Ara gak terlibat jadi jangan jadiin dia bahan balas dendam lo." Kali ini Alvin berucap.

Rio mengarahkan matanya pada Alvin. "Kalau gue gak mau gimana?"

Alvin mengeraskan rahangnya. Sisi batu dan keras kepala Rio ternyata sama dengan Lio, kakaknya.

"Lo nyari lawan yang salah Ri-"

Srettt.

Satu sayatan berhasil melukai pipi Kiyara dan membuat perempuan yang terikat itu meringis menahan sakit.

"Akhhh!"

"Ara!"

"Ki!"

Sagara dan Alvin berucap kaget ketika Kiyara meringis akibat goresan yang baru Rio torehkan di pipi kanannya. Dan darah segar mengalir namun tak sampai jatuh mengenai lantai.

"RIO!" sentak Sagara murka.

Sagara ingin kembali melangkah namun dengan cepat Rio menodongkan belatinya ke arah Sagara.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang