17. MALAM DAN PAGI MINGGU

67.9K 6.1K 825
                                        

17. MALAM DAN PAGI MINGGU

*******

Saat ini Sagara dan Kiyara tengah menikmati malam minggu sambil menonton drama korea di televisi. Yang menikmati sebenarnya adalah Kiyara karena Sagara dipaksa menemani oleh perempuan itu.

"Ganteng banget ya Allah. Semoga aja nanti kalau Baby cowok wajahnya mirip sama Oppa itu ," gumam Kiyara menopang pipi menggunakan kedua tangan seraya memuji tokoh utama pria di drakor yang ia tonton.

Sagara menoleh dan protes tidak terima. "Ya nggak bisa gitu dong, Ra. Kan anak gue. Benih dari gue. Gue yang bikin, masa wajahnya mirip orang lain."

Kiyara refleks mencubit lengan suaminya. Malu sendiri mendengar kalimat Sagara yang menurutnya terdengar ambigu.

"Iya deh terserah."

Lalu keduanya kembali fokus pada layar di depan. Sagara yang tadinya tidak niat nonton akhirnya terbawa suasana menghayati setiap adegan yang dilakoni dua tokoh itu. Makin ke sini potongan adegannya makin tegang karena tokoh utama si pria sekarat.

"Jangan sad ending please..." Kiyara bergumam pelan. Terlalu menghayati drama itu, matanya sedikit berkaca-kaca.

Dan kenyataan drama tersebut tak sesuai harapan Kiyara. Endingnya berakhir si tokoh utama pria meninggal dan si tokoh utama wanita menemukan lelaki lain sebagai pengganti.

"Nyesel gue nonton kalau endingnya kayak gini huh. Kenapa Oppa gantengnya harus mati coba?" ujar Kiyara mencak-mencak. Ia mengipasi matanya yang berair, moodnya mendadak turun setelah menyelesaikan menonton drama itu.

"Karena udah takdir. Setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya. Kita gak bisa menuntut sesuatu untuk selalu sesuai sama apa yang kita inginkan. Termasuk tuh film," ujar Sagara berkomentar. Ia bangkit dari duduknya kemudian melenggang ke kulkas mengambil air dingin.

Kembali membawa dua cangkir, Sagara memberikan satu untuk Kiyara. Dan setelahnya Sagara mendapat kata terimakasih dari istrinya itu.

"Kak, kisah kita kira-kira bakal happy ending gak, ya?"

"Happy ending kok. Tapi happy ending versi penulis kita," jawab Sagara dengan nada santai.

Kiyara tersenyum auto senang mendengar ucapan Sagara. Begitu pula para reader's pembenci sad ending.

"Yes! Berarti kita bakal sama-sama terus dong sampai tua nanti?"

"Nah kalau itu enggak tau. Soalnya happy ending versi penulis kita itu gak semua tokoh utama harus bersama. Bisa aja dipisah dan akhirnya nanti kita nemuin kebahagiaan masing-masing."

"Yah kok gitu sih? Jahat banget sih!" ujar Kiyara berubah kesal.

"Jangan bilang gitu, Ra. Entar author nya bikin hidup lo menderita lagi kan gak lucu."

Sagara tau aja hehe.

"Iya juga sih. Tapi tetep aja sebel. Masa couple SagAra mau dipisah? Gue yakin nih para reader's juga banyak yang gak setuju. Iya nggak?"

"Sebanyak apapun yang protes tetep aja gak bisa ngerubah alur. Takdir kita itu ada di tangan Author."

"Tau ah cape. Masa sad end mulu sih?" Kiyara mengerucutkan bibirnya makin bete. “Nih ,ya, kalau sampai Autor  bikin couple SagAra pisah, gue bakal nyewa santet author online. Yakin kok para reader's setuju sama ide gue.”

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang