Setelah melihat apa yang terjadi pada Kiyara tadi, Sagara segera memencet tombol merah yang ada di samping brankar Kiyara untuk memanggil Dokter. Dan tak lama, Dokter pun datang.
"Dok, jari istri saya gerak." Ucap Sagara melapor. Binar bahagia perlahan hadir di matanya yang berkaca.
Dokter itu memperhatikan mesin EKG, nampak kaget saat grafik di EKG itu kembali bergelombang yang menandakan adanya detakan jantung.
"Puji Tuhan. Detak jantungnya kembali terdeteksi." Ucap si Dokter.
Sagara menyingkir mundur saat Dokter memeriksa Kiyara. Ia dipeluk Ana yang nampak menangis, kali ini tangis bahagia.
"Mom, Ara gak akan ninggalin Gara, kan?"
Ana mengangguk. "Kita berdoa yang terbaik, ya, Bang."
"Alvin..."
"Tante, saya gak lagi mimpi, kan?" potong Alvin seperti tak percaya.
Ana menggeleng lalu menghampiri Alvin dan menuntun lelaki itu untuk bangun kemudian membawanya ke sisi Sagara.
Setelah Kiyara diperiksa oleh Dokter, perlahan mata Kiyara mulai terbuka dan menampilkan bola mata cantik yang begitu Sagara rindukan. Perempuan itu menyipit menyesuaikan penglihatannya.
"Hai Kiyara, anda bisa dengar dan lihat saya?" Dokter itu bertanya untuk memastikan kondisi Kiyara memang membaik.
Kiyara mengedipkan matanya kemudian mencoba mengangguk walau terlihat sulit.
"Kamu ingat siapa mereka?" Dokter menunjuk Sagara, Ana, dan Alvin.
Kemudian Kiyara mengarahkan bola matanya pada tiga orang yang disebut itu, sekali lagi Kiyara mengangguk.
Dokter itu tersenyum lega. "Syukur lah kalau gitu."
Senyum Sagara, Ana, dan Alvin ikut terbit melihat itu. Rasanya begitu lega. Setelah lima hari yang terasa berat bagi mereka, akhirnya mereka bisa melihat Kiyara dengan mata terbuka.
Sagara menghampiri Kiyara, berdiri di samping Kiyara lalu mengusap jemari istrinya yang nampak mengurus.
"Makasih karena udah kembali," ucapnya kemudian mencium jemari itu dengan kasih sayang.
"K-kak." Kiyara mencoba melepas alat yang terpasang di hidung dan mulutnya karena susah untuk bicara.
"Apa?" sahut Sagara lembut.
Kiyara menggeleng dan tersenyum tipis. Perempuan itu berniat bangun, namun meringis pelan ketika merasakan perih di perutnya serta punggung.
"Kenapa, Ra?" Sagara bertanya cemas melihat raut wajah Kiyara seperti menahan sakit.
"Kiyara, anda tidak boleh terlalu banyak gerak. Jahitan di perut anda belum cukup kering dan masih sangat mudah untuk tebuka," nasihat Dokter.
Kiyara mencoba mengingat apa yang sudah ia alami. Kembali memejamkan mata. Kiyara ingat ketika matanya ditutup dan mulutnya disumpal, bisikan orang yang menginginkan dia mati kemudian tusukan yang teramat sakit di perutnya.
Tunggu. Tusukan itu. Kiyara mencoba meraba perutnya sendiri. Tangannya gemetar saat yang dirasakannya beda. Perutnya berbeda dari yang terakhir ia rasa. Perutnya terasa rata dan...kemana bayinya?
Kiyara kembali menatap Sagara. "P-perut gue kenapa? Dan a-anak kita mana, Kak?" Rasa cemas hadir pada Kiyara.
Napas Sagara kembali sesak. Apa yang harus ia katakan pada Kiyara. Sagara mengambil tangan perempuan itu lalu kembali menggenggamnya. Dia menghapus sebulir air bening yang baru turun dari mata kiyara.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
Teen FictionSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)