"Gue udah kerjain perintah lo, Bos. Dan gue berhasil nemuin bukti. Sekarang gue di lobi rumah sakit mau ke kantin. Lo bisa ke sini juga gak buat bahas masalah ini?"
Sagara memasukkan satu tangannya ke dalam saku. Senyum miring tercetak di bibirnya saat mendengar kalimat yang diucapkan Romi melalui handphone. "Gue ke sana sekarang," tutupnya sebelum mematikan sambungan sepihak.
Ini hari ke-lima Kiyara koma. Perempuan itu belum sadar. Padahal prediksi Dokter Kiyara akan sadar dalam tiga sampai empat setelah melakukan operasi. Di hari ke-empat Dokter mencoba membangunkan Kiyara, namun mata Kiyara tetap terpejam.
"Mom, aku titip Ara bentar, ya," ujar Sagara menghampiri mommy-nya yang ada di sini untuk menemani dia menjaga Kiyara.
"Pasti. By the way Abang mau kemana?" Ana bertanya.
"Kantin. Tadi Romi katanya mau bahas tentang pelaku penusukan itu."
"Hah, pelakunya udah ketemu, Bang?" Ana cukup kaget dan senang mendengar perkataan putranya itu.
Sagara tersenyum tipis. "Mommy doain aja. Yaudah nanti kalau ada apa-apa, Mommy cepet kasih tau aku."
Setelah mendapatkan anggukan dari Ana, Sagara beranjak pergi.
***
"Fikri cerita sama gue. Katanya sebelum dia nemuin Ara di gudang, dia ketemu Sasya di sekitar tempat itu. Dan yang parahnya, Fikri ngeliat bercak darah di baju Sasya. Dan kalung yang ditemuin temennya Bang Alvin itu punya Sasya, kan? Hadiah dari Sarah tiga tahun yang lalu." Romi menjeda sebentar. "Dan semingguan ini, Sasya gak ada kabarnya. Kaya ada sangkut pautnya gak sih?"
Sagara termenung memikirkan ucapan Romi. Kini praduganya makin kuat kalau orang yang menusuk Kiyara adalah Sasya. Tapi apa alasannya? Sasya sudah berjanji untuk tidak akan mengganggu keluarganya lagi sejak malam itu. Dan Sagara tahu Sasya bukan lah orang yang mudah mengingkari janjinya.
"Dan waktu gue cek CCTV di jalan yang lo suruh, HP Ara dilempar dari mobil hitam ini." Romi menunjukan sebuah rekaman CCTV yang sempat ia salin ke handphonenya lalu menunjukkan pada Sagara.
"Lo liat, Gar, warna baju yang dipakai orang itu coklat, sedangkan kata Fikri dia ketemu Sasya lagi pakai baju warna putih." Romi lalu menzoom ke nomor plat mobil. "Dan saat gue lacak nomor plat ini, ternyata mobil itu disewa dari salah satu rental mobil. Gue ke tempat itu, dan pemilik mobil itu bilang, yang nyewa di hari Kiyara ditusuk, ternyata perempuan atas nama Sandra, itu mamanya Sasya, kan?"
Sagara membuka air mineral yang masih disegel kemudian meneguknya cepat. Masalah ini membuat otaknya berpikir banyak. "Gue gak yakin orang itu Sasya, Rom. Sasya udah janji buat gak ganggu gue sama keluarga gue lagi. Dan kalau pun Sasya, berarti pelaku penusukan dan pelaku yang ngasih tau tentang hubungan gue sama Ara ke Kepala Sekolah itu beda. Menurut gue masih banyak hal yang janggal."
"Lo emang bener sih, Gar. Gue juga gak yakin kalau orang itu Sasya. Tapi dari bukti data yang gue dapat, semuanya menjurus sama Sasya."
"Tapi itu belum dari semua bukti. Lo coba datang ke komplek perumahan gue yang baru. Cek CCTV di sana saat Ara hampir ketabrak mobil. Kalau lo nemuin, lacak mobil itu. Terus lo ke apartemen gue, tanyain sama Resepsionis, apa ada orang mencurigakan di sekitar gedung apartemen itu sejak gue sama Ara pindah ke sana."
Romi meneguk habis kopi susunya kemudian mengangguk. "Perlu bantuan Gilang, nggak? Kan tuh anak ahli banget dalam ngelacak."
Sagara menggeleng tegas. "Jangan. Untuk kasus ini cukup gue, lo, dan Bang Alvin yang usut. Jangan ada campur tangan orang lain terutama temen-temen. Mereka bisa aja jadi musuh dalam selimut dan ngegagalin semua rencana."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA [END]
Teen FictionSemua manusia memiliki rencana untuk masa depannya, tercapai atau tidaknya hanya takdir yang dapat menentukan. Cerita ini berkisah tentang dua anak manusia yang harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa didasari rasa cinta di dalamnya. Sagara dan...
![SAGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/218625483-64-k300240.jpg)