52. FLASHBACK : ALASAN PERJODOHAN

53.4K 4.7K 494
                                        

Dua tahun yang lalu.

"NEK, AWASSSS!" Kiyara berlari kencang ke arah wanita baya yang hampir tertabrak motor jika ia tidak menarik lengan Nenek itu untuk ke pinggir jalan.

"Nenek nggak papa?" Nada cemas keluar dari bibir Kiyara.

Tubuh nenek itu seketika mengerjap. Dia memandang gadis muda yang telah menolongnya. "Saya nggak papa. Terimakasih karena telah menolong saya," ucapnya.

Kiyara menuntun Nenek itu untuk duduk di halte yang berada dekat mereka. "Nenek mau kemana?" tanya Kiyara.

"Pengen pulang. Tapi sopir saya pergi dan pas mau balik ke sini, katanya mobilnya tiba-tiba mogok." Si Nenek berucap.

Kiyara memandang kasihan. "Ya udah, nanti Nenek pulang sama saya aja. Sopir saya juga bentar lagi datang."

"Nanti saya ngerepotin kamu," kata si Nenek tidak enak.

"Enggak papa, Nek. Saya nggak ngerasa direpotin, malah saya seneng bisa bantu Nenek." Kiyara berkata lembut membuat si Nenek terkesima. Sudah cantik, baik, penolong, lembut dalam bertutur kata, si Nenek sudah menduga kalau Kiyara ini gadis yang baik.

"Nama kamu siapa?" tanya Nenek penasaran.

"Kiyara, Nek."

"Nama lengkapmu?"

"Oh, Kiyara Niasyila." Kiyara tersenyum manis.

"Kamu gadis yang baik. Kalau boleh tau, apa kamu punya kekasih?"

Kiyara mengerjapkan matanya. Senyumnya berubah kaku. "Eh, enggak, Nek."

Nenek itu tersenyum. "Syukurlah kalau gitu. Saya suka sama kepribadianmu," ujarnya membuat Kiyara mengangguk canggung. Bukannya tidak suka dipuji, tapi rasanya aneh saat orang baru dikenal menanyakan sesuatu yang...bagaimana ya, sulit dijabarkan dengan kata-kata.

Mobil hitam berhenti di depan mereka, Sopir keluar lalu tersenyum hormat pada Kiyara. "Siang, Non, maaf sedikit terlambat, tadi saya mompa ban dulu di bengkel."

"Enggak papa, Mang, santai aja. Btw kita anter Nenek ini pulang dulu, ya," ujar Kiyara yang dibalas anggukan oleh Sopir. Lalu Kiyara membantu memegang lengan Nenek untuk berjalan. Pintu mobil dibukakan oleh sopir lalu Kiyara dan Nenek masuk.

Di perjalanan, mobil dipenuhi oleh candaan Mang sopir dan Kiyara. Gadis itu memang akrab dan ramah pada semua orang. Melihat itu, si Nenek makin terpesona dengan Kiyara.

'Gadis ini pasti akan mampu membimbing cucuku menjadi lebih baik lagi.' Batin Nenek itu.

"Nek, ini benar rumahnya?" tanya Mang Sopir terperangah saat tiba di depan rumah Nenek.

Nenek itu mengangguk membuat Kiyara terkagum-kagum melihat keindahan bangunan besar di depan matanya. Mulutnya menganga, ini bukan rumah tapi istana!

"Terima kasih sudah berkenan mengantar saya. Mari masuk dulu." Si Nenek bertutur ramah menawarkan mereka untuk masuk, namun Kiyara segera menggeleng tak enak.

"Sama-sama, Nek. Sebelumnya makasih tawarannya, tapi saya harus segera pulang."

Nenek itu mengangguk paham. Ia tersenyum lembut. "Panggil saya, Eyang Putri. Saya berharap kamu akan menjadi cucu saya nanti," tuturnya sambil mengusap rambut Kiyara. "Sekali lagi terima kasih." Lalu Nenek itu keluar dari mobil yang meninggalkan tanda tanya bagi Kiyara.

***

"Mas." Eyang Putri alias Nenek tadi menutup pintu kamar, lalu menghampiri Eyang Pras-suaminya yang tengah membaca di atas kasur.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang