06. MALAM PERNIKAHAN

115K 9.8K 946
                                        

06. MALAM PERNIKAHAN

*******

PLAKKK!

"HAHAHAHAHA!"

Suara tepukan di bahu Erwin dan Gibran beradu dengan tawa gelak dari Tika dan Ana. Kedua ibu-ibu sosialita tersebut tertawa kencang mendengar ucapan Sagara yang mereka anggap sebuah lelucon.

"Aduh, sakit Bun!" Erwin menangkap tangan istrinya yang hendak menepuk pundaknya kembali.

Sedang Gibran hanya pasrah saat istrinya menabok pipi serta pahanya sebagai gerakan refleks. "Sabar. Udah biasa," ucapnya dengan ekspresi tertekan.

"Anak, kamu tuh, Mas." Ana masih tertawa ngakak dan kali ini dia beralih menabok paha putranya.

Kenapa sih kebanyakan kaum cewek kalau ketawa kebiasaannya sambil mukul orang?

"Stop! Kok pada ketawa sih?" Rasa takut Sagara mendadak hilang. Bisa-bisanya dia sudah serius, orang pada malah menganggap bercanda.

"Kamu mau ngeprank, kan, Sayang?" tanya Ana, matanya bergulir ke segala arah dan kembali berucap, "Para orang tua ada yang lagi ulang tahun ya? Kok gak ada kuenya?"

"Kameranya pasti di umpetin nih. Anak muda. Kebiasaan banget bikin konten ngeprank," timpal Tika.

Kiyara menatap bingung. Kenapa suasananya berubah seperti ini?

"Kak..." cicit Kiyara memanggil Sagara dan memberikan isyarat seolah 'ini gimana?'. Untungnya Sagara mengerti.

Sagara menghela napas kemudian menoleh pada Mommynya berserta Bundanya Kiyara bergantin.

"Mommy, Tante. Please, ya, ini aku lagi serius," ucapnya pada dua wanita tersebut.

"Iya serius bikin konten, kan?"

"Mommy!" erang Sagara.

Sepertinya Ana tidak peduli dengan suara putranya itu. Dia malah merapikan rambut kemudian berucap lagi, "Take ulang, Sayang. Tadi ekspresi Mommy kurang menjiwai. Iya, kan, Jeng?" ujarnya meminta pendapat Tika.

Tika mengangguk. "Kagetnya juga biasa aja. Ayo Gara, ulang lagi. Kamu tadi udah hebat loh aktingnya."

Sagara mendengus kesal. Gini amat punya emak dan calon mertua gaul. Bakal ribet, apalagi ibu-ibu sosialita itu begitu rempong.

Beruntungnya para orang tua lelaki lebih cepat memahami situasi. Mereka segera menegur para istri masing-masing agar menghentikan tawanya dan mendengarkan penjelasan anak-anak mereka.

Tetutama Gibran, pria itu yang paling serius karena dia bisa mengetahui dari raut anak sulungnya bahwa cowok berusia 18 tahun itu sedang tidak main-main dengan ucapannya.

Dan Erwin menoleh ke samping, tepat putrinya duduk manis dengan tangan bertaut di atas paha.

"Ra..." Sagara mengangguk saat tatapannya dan Kiyara beradu. Dua insan berbeda gender itu saling mengkode.

Kiyara menarik napasnya sejenak. Tangannya mulai meraih belakang alias sofa yang ia sandari. Begitu apa yang ia ambil sudah berada di genggamannya, Kiyara mulai menunjukkan benda tersebut di hadapan Erwin, Tika, Gibran, dan Ana secara langsung.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang