51. HARI BERDUKA UNTUK MEREKA

62.2K 5.3K 1K
                                        

Langkah kaki Sagara terhenti saat melihat keluarganya dan keluarga Kiyara sudah berada di depan ruangan tempat Kiyara berada. Matanya menatap kosong saat orang-orang yang ada di sana menangis.

"Mom, Ara mana?" Itulah kalimat pertama yang muncul dari bibir Sagara.

Ana melangkah menghampiri putranya kemudian memeluk tubuh Sagara erat. Wanita itu mengusap punggung sang anak memberi ketenangan yang justru tak kunjung hadir dalam benak Sagara.

"Mom, istri Gara mana, Mom?" Tak juga mendapat jawaban, Sagara menatap mertuanya yang tengah terisak di pelukan Erwin.

"Bunda, Ara gak kenapa-napa, kan?" tanya Sagara. Terbesit sekali harapan agar jawaban yang mereka berikan Kiyara baik-baik saja.

Tatapan Sagara beralih pada Flora yang terisak di pelukan Fikri. Sagara masa bodoh kenapa Fikri bisa ada di sini, yang terpenting baginya adalah Kiyara dan calon anak mereka.

"Flo..." Sagara begitu memohon saat menatap mata sembab Flora.

"Ara masih ditangani sama Dokter. Abang yang sabar, ya, kita berdoa semoga mereka selamat." Ana berkata terus mengusap punggung Sagara.

"D-ditangani Dokter? Berarti, Ara..." Sagara langsung memandang Romi, yang cowok bilang gak ada tadi berarti siapa?

"Rom, lo bohongin gue?"

Romi mundur saat Sagara menatapnya tajam. "Gar, sumpah demi Tuhan, gue dapet info dari Flora. Flo, Flo, jelasin tuh." Romi panik, ia benar-benar tidak bohong. Tadi Romi memang mendapat info dari Flora kalau Kiyara sudah tidak ada.

Sagara menarik napasnya panjang. Percuma memarahi Romi untuk saat ini. Yang terpenting sekarang Kiyara masih ada. Ia kembali menatap wajah mommynya. "Kejadiannya gimana, Mom?"

Ana menuntun Sagara agar duduk di kursi panjang di depan ruangan. Wanita anggun itu mengusap ujung hidungnya yang berair. "Ara ditemuin sama temennya-Fikri di dalam gudang dalam keadaan pingsan berlumuran darah. Terus Fikri bawa Ara ke sini. Dia telpon Flora terus Flora telpon mertua kamu buat ngabarin kondisi Ara. Singkat cerita, Ara langsung ditanginin sama Dokter, dan tadi, detak jantungnya sempat berhenti. Tapi, mungkin ini keajaiban Tuhan, Jantung Ara kembali berdetak. Dan sekarang Ara lagi dioperasi." Ana menjeda perkataannya, menarik napas panjang, air matanya tak bisa dibendung. "Sayangnya, c-calon bayi kalian-cucu Mommy enggak bisa diselamatin."

Sagara menjadi diam tak berkutik mendengar kalimat terakhir mommy-nya. Napasnya tercekak saat tahu janin yang ia perjuangan dulu-yang menyatukannya dengan Kiyara kini pergi meninggalkannya dan Kiyara bahkan sebelum melihat dunia.

"Mom..." Sagara tak bisa menahan genangan air matanya. Lelaki itu menangis tanpa suara dipeluk sang ibu tercinta.

"Kamu yang sabar, ya, Sayang. Sekarang kita berdoa buat Ara," tutur Ana. Semua orang yang ada di depan ruangan operasi itu hanya diam. Hanya isak tangis yang sesekali terdengar.

Dua jam berlalu, Dokter ke luar dari ruangan operasi. Lantas semua yang ada di situ berdiri menghampiri sang Dokter.

"Keadaan anak saya gimana, Dok?" tanya Tika mengusap jejak air matanya, ia menatap Dokter penuh harap agar putrinya baik-baik saja.

"Operasinya berjalan dengan lancar. Sekarang pasien sudah melewati masa kritisnya. Namun luka tusuk itu menyebabkan pasien koma dan mungkin akan sadar dalam tiga sampai empat hari ke depan." Jelas Dokter lalu menjeda perkataannya. "Dan seperti yang sudah saya sampaikan tadi, janin di kandungannya tidak bisa di selamatkan."

Tentu mereka semua sedih mendengar kabar itu. Di satu sisi, rasa senang hadir karena Kiyara masih bisa diselamatkan setelah melalui masa kritis dan operasi. Dan Sagara, cowok itu memandang sendu istrinya yang terbaring lemah di atas brankar melalu kaca transparan pembatas ruangan. Hatinya begitu terpukul melihat semua kejadian ini.

SAGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang