Suara brak dan bruk keras terdengar dari sayap kiri manor besar Malfoy. Suara pukulan dan patahan mengikuti. Napas terengah diikuti pukulan liar. Kemudian krak keras dan brak yang terakhir. Semua keributan ini dibuat oleh si Malfoy terakhir yang tersisa di dalam mansion.
Draco hampir satu jam menghancurkan dinding di samping lemari besarnya. Dalam buku Grimoire dituliskan ada jalan rahasia pada dinding-dinding manor. Draco tidak tahu yang mana, jadi dia mengetuk seluruh dinding di kamarnya hingga ke kamar mandinya. Suara bunyi di dinding ini berbeda, dia berharap pilihannya tidak salah.
Jangan tanyakan bagaimana dia menghancurkan dinding. Tentu saja dengan cara muggle. Dia mengobrak-abrik seluruh tempat untuk menemukan sesuatu yang keras dan berat. Sebuah palu besar dan kapak dia temukan di kamar mandi, bersama sekop, parang, dan juga garpu rumput besar. tersimpan di lemari kecil sudut penyimpanan. Dia yakin Neville yang meletakkannya di sana karena bertahun-tahun memakai ruangan ini, tidak pernah dia tertarik menyimpan benda-benda perkakas.
Awalnya dia ingin menghancurkan jendela. Namun sistem lockdown ini membuat kaca jendela itu seperti kaca anti peluru yang tidak bisa dipecahkan. Mau menghancurkan pintu kamarnya juga tidak bisa karena Dark Lord memantrainya dengan sesuatu yang membuatmu terpelanting ke belakang jika mendekatinya. Tapi bukan berarti dia tidak bisa menghancurkan dinding yang tidak mengarah keluar bukan.
Lubang yang dia buat hanya menampilkan kegelapan. Draco menengok ke bawah, melemparkan salah satu mainan lonceng yang dia punya. Bunyi gemerincing saat mencapai dasar. Dari suaranya ruang itu tidak begitu dalam walau terlihat seperti sumur gelap tanpa dasar.
Draco mengambil kapak yang habis dia gunakan. Lalu mengikatkan benda itu ke pinggangnya. Saat ini dia tidak memiliki tongkat sebagai alat pertahanan diri. Benda ini pasti akan berguna. Dia juga membuka laci dan mengambil pisau kecil hadiah dari bibinya yang gila, Bellatrix. Dia menyelipkannya di sepatu boots tingginya.
Malfoy menatap ngeri ke dalam kegelapan hingga dia harus menelan ludah dengan susah. Dia mengikat kain-kain menjadi untaian panjang. Ujung kain satunya diikat ke pilar kecil di dalam kamar. Memegang erat pegangannya, dia turun dengan hati-hati. Goyangan dari kain yang dibebaninya semakin membuatnya tidak tenang.
"Ayo Draco, kau bisa!" ujarnya menyemangati diri.
Setelah perjalanan panjang dalam menit-menit yang terasa lama, akhirnya dia menapak di tanah. Telapak tangannya berwarna merah dan terasa perih hasil usahanya bertahan di untaian kain. Beruntung bootsnya cukup tebal, pecahan puing dan kayu di bawahnya tidak melukainya.
"Sial, ini sangat gelap." gerutunya.
Bau lembab dan pesing membuatnya bergidik. Kenapa jalan rahasia selalu menjijikan seperti ini. Draco mengeluarkan sebuah batu berwarna hijau terang yang bercahaya. Batu itu memiliki kandungan fosfor di dalamnya sehingga bisa bercahaya. Pemberian Neville saat mereka mulai saling mengenal. Saat kencan pertama kalau tidak salah. Mereka kencan di tempat yang lebih baik daripada Madam Padifot. Percayalah selera Neville itu bagus.
Neville awalnya ingin mencarikannya sesuatu seperti Earendil star yang bisa memberikan cahaya di saat gelap. Tapi benda itu hampir tidak mungkin ditemukan. Hanya bebatuan mineral fosfor kualitas tinggi yang berhasil dia dapat. Cahayanya memang tidak bisa menerangi tempat gelap dalam cakupan luas. Setidaknya benda itu berhasil memberi ketenangan dan harapan bagi Draco untuk bisa melanjutkan perjalanan.
"Kau bisa, kau bisa Draco." gumamnya pada diri sendiri menyemangati.
Tidak ada udara yang baik di sini. Draco juga tidak tahu kemana arah lorong rahasia ini menuju. Semoga saja ujungnya ke sisi mansion yang masih dia kenali. Jika tidak dia harus berputar-putar dalam ketidakpastian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dungeon Bat
FanfictionWarning Yaoi/Boyxboy. Severus Snape X Harry Potter. Snarry. Summary: Oh Merlin! Cobaan apalagi yang kau berikan padaku. Dosa apa yang kulakukan hingga kau menjadikan anak dari musuh bebeuyutanku sebagai mate-ku. Well, banyak.
