So guys back to Canon. hmmm
Dua hari Harry Potter berjalan di dalam hutan yang entah di mana. Tongkatnya rusak tak bisa digunakan sama sekali. Sedangkan sihir tanpa tongkat yang bisa dilakukannya sangatlah terbatas. Tanpa tongkat dia tidak bisa berapparate ke manapun. Maka dari itu terkutuklah makhuk jelek bernama Voldemort yang melemparnya kesini.
Berjalan tanpa arah yang pasti. Bertahan hidup dengan makan buah dari semak murbei yang dia temukan. Air minum pun menampung embun di hutan. Dia belum menemukan sebuah mata air dan hanya memanfaatkan apa yang dia temukan.
Sudah lama dia tidak dalam mode survival seperti ini. Biasanya dulu saat dengan Dursley dia akan tidak makan dan minum berhari-hari. Tapi sekarang tubuhnya sudah terbiasa mendapatkan asupan makan yang normal setelah kabur dari Hogwarts. Senormal yang dia bisa, karena setelah di cek healer, lambungnya mengalami penyusutan sehingga dia harus berada di potion regimen yang ketat. Mengingat hal itu Harry menjadi murung.
Harry ingat tahun ini pertama kalinya Snape mempedulikannya. Professor menyeramkan itu tiba-tiba menghentikannya di sebuah jam pelajaran dan memberinya ramuan untuk lambungnya. Saat itu Harry terlalu mengkhawatirkan banyak hal hingga tidak benar-benar meminum secara teratur ramuan buatan profesornya tersebut. Juga dia begitu sering mencurigai Snape selama bertahun-tahun. Tapi siapa sangka kalau orang itu adalah mate yang ditakdirkan untuknya.
"Aku harus keluar dari hutan ini" gumamnya dengan tangan terkepal.
Hutan ini sangat aneh. Tidak ada binatang yang lewat. Hanya ada serangga dan serangga. Awalnya dia terlempar di jajaran pohon pinus. Namun semakin berjalan, bagian pinus itu berubah menjadi pohon-pohon berdahan besar menjalar. Dahan-dahan angel oak saling tumpang tindih merangkul tanah seperti tangan besar yang menjulur.
Harry merasakan tubuhnya lelah. Dia mengistirahatkan diri duduk di dahan tebal itu. Hari sudah mendekati malam lagi dan dia belum berhasil keluar dari tempat ini. Dia merasa Voldemort benar-benar membencinya. Baru dia menghela napas, telinganya mendengar suara-suara. Bukan binatang yang pasti karena dia bisa menangkap suara itu merupakan suara dua orang yang sedang berdebat. Segara dia mencari tempat sembunyi.
Harry mengintip, jantungnya berdetak tidak beraturan. Dia khawatir kalau Voldemort telah mengirim Death Eaternya untuk menemukan dan melenyapkannya. Apalagi pertarungan terakhir mereka dia berhasil melemparkan kutukan pada makhluk kejam itu. Kalau sampai dia harus bertarung dengan Death Eater di kondisi seperti ini, itu akan sangat merugikannya.
Siluet perempuan dengan rambut tebal yang mengembang tertangkap matanya dengan minim cahaya yang ada dalam hutan. Dari suaranya terdengar perempuan yang sedang agak marah dan menghardik temannya untuk tidak mengoceh. Lalu siluet laki-laki tinggi muncul mengikutinya. Saat sedikit cahaya malam mengenai rambut itu, warna merah familiar menyapanya.
"Ron! Hermione!" Harry tanpa ragu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Harry!" ujar kedua orang itu berseru kompak.
Tersenyum, Harry mendekati kedua orang yang sama kusutnya dengan dirinya. Saat sudah dekat, Harry hampir limbung ke tanah saat tubuh Hermione menubruknya.
"Oh, Harry kau masih hidup?! Syukurlah, kami sangat khawatir saat kau menghilang."
Setelah melepaskan pelukannya Hermione memukul punggung keturunan Potter itu dengan keras.
Plak
"Ah, Mione sakit"
"Dasar bodoh, kenapa kau pergi sendirian huh!" lagi pukulan keras diberikan.
"Rasakan itu mate. Kau memang pantas mendapatkannya."
"Ron!"
Ron hanya tertawa melihat penderitaan sahabatnya. Namun saat Hermione menatapnya tajam, dia langsung menutup mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dungeon Bat
FanfictionWarning Yaoi/Boyxboy. Severus Snape X Harry Potter. Snarry. Summary: Oh Merlin! Cobaan apalagi yang kau berikan padaku. Dosa apa yang kulakukan hingga kau menjadikan anak dari musuh bebeuyutanku sebagai mate-ku. Well, banyak.
