Harry duduk termenung di atas salah satu menara Hogwarts. Matanya menatap hamparan bukit dan halaman sekolah yang luas. Langit sangat cerah diatasnya dan burung-burung hantu berterbangan. Hedwig terbang ke arahnya dan bertengger di dinding batu di depannya.
"Hedwig."
Harry tersenyum saat kawan setianya itu melompat ke tangannya. Dia mengelus kepala berbulu Hedwig membuat burung hantu itu mendengkur. Bulu-bulu halus putih begitu bersih dan terasa hangat
"Aku merindukannya Hedwig."
Harry berkata pada burung hantunya, seakan mengerti tuannya, Hedwig menggigit kecil jari tangan Harry bersimpati. Pemuda bermata hijau itu tersenyum. Dia mengelus lagi kepala Hedwig dengan sayang. Harry tersenyum sendu, sudah memasuki tiga bulan tidak ada kabar dari Severus. Tak ada satupun burung hantu yang bisa menemukan di mana keberadaan Severus untuk berkirim surat. Entah sudah berapa kali dia meminta Hedwig mengirim surat untuk Severus, tapi tak ada satupun surat yang dibuka. Pertanda bahwa suratnya tidak sampai pada Severus. Dia hanya ingin Severus kembali.
Setelah hari terakhirnya bertemu Severus, Harry banyak berpikir. Dia yakin Severus pasti punya alasan tertentu hingga dia bercinta dengan orang lain. Severus bukanlah tipe laki-laki playboy yang suka mempermainkan orang lain. Dia hanya laki-laki dingin yang penuh kebencian. Tapi Harry yakin perasaan Severus padanya adalah perasaan tulus, bukan main-main. Walaupun interaksi mereka umumnya disebabkan oleh nafsu dan kebutuhan incubus Harry, tapi dia yakin Severus juga memiliki perasaan padanya. Bagaimana mungkin Harry melupakan sikap perhatian Severus yang bersusah payah membuat ramuan untuk memperbaiki gizinya dan memperhatikan pola makannya. Jika bukan karena sayang, lalu apa lagi?
Harry merasa kesepian. Dia tidak tahu lagi harus bercerita pada siapa. Kedua temannya sekarang malah asik berpacaran sejak mereka jadi official. Sementara tidak ada teman lain yang bisa di ajaknya bicara. Dia baru menyadarinya sekarang kalau ternyata selama ini dia tidak memiliki teman. Selama ini semua orang hanya melihatnya sebagai The Boy Who Lived.
Koridor sekolah terlihat sepi, Harry berjalan tanpa tahu tujuan. Dia tidak sadar kakinya membawanya ke sebuah ruang yang tahun lalu di gunakan sebagai markas DA. Ruang kebutuhan, tempat orang-orang menyembunyikan harta mereka. Walau sebenarnya sekarang ruangan itu lebih terlihat sebagai gudang raksasa dengan benda-benda bodoh yang terlupakan.
Saat Harry berjalan, kakinya tersandung sesuatu nyaris membuatnya jatuh. Refleks segera menyeimbangkan badan. Dia menunduk untuk melihat benda apa yang mengganggu jalannya. Sebuah buku potion kusam yang terlihat tua. Harry mengambilnya, dia membuka sampulnya dan membaca.
Property of the half blood prince
Tertarik Harry membuka buku itu. Lembar bukunya sudah berwarna coklat dan banyak coretan disana sini. Tulisan meliuk dan rapi di letakkan di sudut-sudut buku, ada beberapa yang di antara huruf. Beberapa tulisan di buku di balas komentar oleh si pemilik. Harry membacanya, sudut bibirnya tertarik karena komentar pedas orang itu.
'Potong dua kacang untuk mengeluarkan sarinya.'
Hanya orang bodoh yang melakukan itu. Kau harus menekannya dengan badan pisau agar sarinya keluar.
Harry tersenyum, karena benar kata orang itu. Kau tidak bisa memotong kacang, yang ada mereka akan melompat dari tanganmu. Harry mempelajari saat di rumah bibi petunia. Akhirnya dia memutuskan membawa buku itu ke kamar asrama.
...........................................
Harry tak bisa berhenti tertawa saat membaca komentar pedas pemilik buku kusam itu. Setiap kali membacanya rasanya seperti dia bisa mendengar suara Snape yang menggerutu. Dia tersenyum memikirkannya. Setidaknya buku ini bisa mengobati kerinduannya sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dungeon Bat
FanfictionWarning Yaoi/Boyxboy. Severus Snape X Harry Potter. Snarry. Summary: Oh Merlin! Cobaan apalagi yang kau berikan padaku. Dosa apa yang kulakukan hingga kau menjadikan anak dari musuh bebeuyutanku sebagai mate-ku. Well, banyak.
