0.8 | DETAK

11.5K 524 27
                                        

HARGAI DENGAN MEMBERI VOTE!

HAPPY READING!

Happy Reading!

Denta dan Tassa. Pasutri itu tampak saling menatap penuh arti di sebuah ruangan yang bernuansa putih tulang dengan Tassa yang duduk di pangkuan Denta. Tassa yang duduk di pangkuan Denta dengan kedua tangannya yang mengalung di leher pria itu, dan kedua tangan Denta yang memeluk erat pinggang rampingnya. Sudah hampir setengah jam mereka berdua dengan posisi itu saling menatap satu sama lain. Mengabaikan adanya pergerakan yang terjadi di sekitar.

"Cha,"

Tassa menerjab pelan menatap mata Denta.

"Kamu dengar gak?" tanya Denta tiba-tiba.

"Hah?" Kening gadis itu berkerut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Denta. "Dengar apa?" bisik Tassa pelan.

"Jantung aku."

Tassa terdiam. Ia menunduk menatap menatap sedikit jarak diantara dirinya dan Denta. Bagaimana? bagaimana caranya bisa mendengarkan suara detak itu di saat dirinya juga sibuk dengan suara detak yang sama?

"Kamu cantik sekali hari ini." Ucapan itu membuat kedua pipi Tassa bersemu merah. Ia melempar pandangan ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Denta. "Makasih," katanya pelan.

Denta memegang dagu Tassa, menariknya lembut---menyuruh gadis itu mendongak menatapnya. Namun, Tassa tidak mau menatapnya.

"Liat aku, Cha. Nanti lukisannya jelek kalau kamu liat ke arah lain."

"Beneran?"

Denta tersenyum miring. Mudah sekali, pikirnya.

Di satu sisi ada Sam yang tampak sibuk menggerakan kuas di atas kertas yang sudah terdapat beberapa warna seraya sesekali melihat ke arah Tassa dan Denta. Pria itu tampak begitu konsentrasi melakukan tugasnya selama hampir setengah jam ini. Hingga kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum lebar ketika melihat buah dari usahanya.

"Bravo!!"

Keduanya sempat menoleh ke arah Sam yang baru saja berseru. Lalu Dinar yang duduk di sofa tampak sibuk dengan majalah nya ikut mendekati Sam. Seketika raut wajah paruh baya itu berubah sumringah, "Wah ...! Karya tangan kamu memang gak pernah bikin kecewa!" pujinya berdecak kagum.

Lukisan setengah badan itu tampak nyata tanpa celah sedikit pun. Bahkan untuk menyangkal bahwa karya itu tidak menarik, sedikit celah pun tidak ada. Wajah Tassa dan Denta terlihat natural dari ujung rambut sampai pinggang.

"Udah selesai?"

"Udah dong!" sahut Dinar. Ia mengulurķan tangan kiri ke depan seolah menahan kedua orang itu ketika melihat mereka hendak beranjak, "Ets, bentar! Kalian berdua jangan lihat dulu, nanti di rumah aja. Sekarang kalian berdua ganti baju, terus kita pulang!"

"Denta penasaran." Denta berusaha mendekat.

Dinar menggeleng cepat, "No! Cepat ganti baju dan pulang!" ucapnya tidak terbantahkan.

Tassa tersenyum tipis. Ia beranjak dari pangkuan Denta, menoleh menatap pria itu yang menatap ke arah Dinar. Refleks kepala Denta bergerak ke arah Tassa. "Berdua?"

DENTARA(SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang