Plak!
Lagi, untuk kesekian kalinya memar di pipinya kembali ia rasakan oleh lengan sang ibu. Harapannya lengan itu akan mengelus rambutnya namun, nyatanya sangat mustahil untuk terjadi. Baru saja Allena bernapas di depan pintu, lengan itu telah menyambutnya.
"Mama apa-apaan, sih! Kenapa Mama tampar Lena?!" bentak Alleta, ia tak kuat melihat adik kembarnya yang selalu merasakan hal ini.
"Kamu gak perlu ikut campur! Masuk ke kamar kamu sekarang!" tegas Nadin, matanya melotot sempurna ke arah Allena, seolah binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"Kalau Mama tampar Lena, Mama juga tampar Al! Cepat, Ma! Tampar Al sekarang juga!!" Alleta terlanjur emosi, napasnya tak lagi beraturan menahan emosi untuk ke sekian kalinya.
"SAYA BILANG KAMU MASUK KE KAMAR!!" bentak Nadin. Alleta sudah menangis detik itu juga, bukan karena bentakan Nadin, melainkan karena lelah dengan perilaku Nadin yang tak mau berubah, padahal itu anak kandungnya juga, bahkan melahirkannya saja hanya berbeda beberapa menit dengan Alleta.
Brak! Alleta membantingkan pintu kamarnya, ia bukan pecundang yang lari begitu saja namun, ia tahu akibatnya akan jatuh kepada Allena.
"ARGH!! Lo bodoh, Alleta! Lo bodoh biarin kembaran lo kesakitan gitu aja! Lo gak guna!!!" prang! Alleta memecahkan fotonya sendiri, rambutnya sudah kusut akibat jambakan lengannya sendiri.
"Gue harus gimana lagi biar keluarga gue kembali seperti dulu? Hiks ... gue CAPE!!!" teriak Alleta lagi. Beruntung kamarnya kedap suara, jadi tak akan ada yang mendengarkan teriakannya selain Tuhan dan dirinya sendiri.
"Lo emang saudari kembar yang paling jahat, Al! Lo celakain kembaran lo sendiri buat jadi mangsa mama! ARGH!!! GUE PENGIN MATI AJA!!!"
Alleta lelah, ia membantingkan kasar tubuhnya ke kasur, tangannya masih setia menjambak kasar rambutnya, air matanya masih setia untuk ditumpahkan.
"Ternyata gini rasanya jadi lo, Len?" gumam Alleta sambil menatap nanar dinding kamarnya.
"Kenapa lo gak kasih tahu dari dulu gimana rasanya jadi lo, Len? Biar kita rapuh barengan. Andai aja gue tahu dari dulu, gue pasti akan rangkul lo supaya kita bangkit bareng-bareng." Lagi, Alleta hanya bisa menyesali perbuatannya di masa lalu. Bukannya sengaja namun, sangat wajar bukan jika anak kecil yang awalnya belum mengerti apa-apa itu cemburu atas kasih sayang kedua orang tuanya? Namun, ia tak menyangka jika tindakannya akan berujung menyakitkan hingga detik ini.
Alleta merogoh ponselnya di dalam tas. Menghubungi seseorang untuk memenuhi permintaannya. Alleta tak tahu lagi harus bagaimana melupakan masalah di keluarganya ini.
"Mungkin dengan cara ini gue bisa lupain sejenak. Maaf, Ma, Len, gue gak kasih tahu ke kalian kalau gue akan ke tempat itu." Alleta bergegas mengganti seragamnya. Hari semakin sore, Alleta pastikan ia akan sampai di tempat itu ketika hari sudah gelap.
"Ma, Al pamit, Al mau ke rumah temen," pamit Alleta pada Nadin yang sedang menonton televisi.
"Iya, hati-hati, ya." Cup. Nadin mencium kening Alleta sebelum gadis itu beranjak pergi.
"Harusnya Lena juga rasain ciuman dari mama," batin Alleta.
Sejenak, Alleta melupakan semua masalah di keluarganya, suara musik yang menembus gendang telinganya kian semakin kuat, antara sadar dan tidak Alleta menghabiskan dua botol minuman beralkohol. Pandangannya kabur, entah apa yang terjadi selanjutnya, Alleta tak memahami.
Di sisi lain, Allena yang sudah terbiasa dengan sikap Nadin perlahan membuka pintu maaf untuk Alleta. Keluarganya sudah hancur karena ego Nadin, dan ia tak mau keluarganya semakin hancur karena egonya. Mau bagaimanapun, semua penderitaan yang ia alami bukan sepenuhnya salah Alleta, ada salah Allena juga yang enggan untuk menerangkan.
Allena mengambil ponselnya, menatap foto Bagas yang sedang bermain futsal yang tak sengaja ia dapatkan saat lelaki itu mengajak Allena menonton dirinya.
"Bagas apa kabar? Semoga lebih baik tanpa Lena, ya," gumam Allena sambil tersenyum menatap foto itu.
"Lena tahu Bagas itu orang baik, Bagas gak akan mungkin berbuat tanpa sebab, Lena harap Bagas segera menampakkan jati diri Bagas, ya." Allena hanya bisa pasrah atas takdir-Nya yang begitu banyak menyimpan teka-teki.
"Selama tidur, Bagas, semoga rasa yang kita miliki akan segera usai."
Allena terlelap setelahnya. Hingga suara azan subuh menembus indra pendengarannya. Allena bangun untuk melaksanakan kewajibannya, hari ini ia tak bertemu Bagas karena hari ini adalah hari Minggu.
Allena menyiram tanaman di halaman rumahnya. Berusaha melupakan semua perilaku jahat Nadin kepadanya.
"Al kok belum keluar kamar, sih? Apa dia belum bangun?"
Namun, sedetik setelahnya, Allena dikagetkan dengan keadaan Alleta yang kacau. Wajahnya berantakan, matanya masih menangis, dan ... lehernya?!
"Astaga! Al! Lo kenapa?!" teriak Allena sambil menghampiri Alleta yang sulit berjalan setelah turun dari taxi.
"Len, hiks ...." Alleta memeluk Allena, entah apa yang terjadi dengan Alleta yang tak bisa mengungkapkan hal sebenarnya, ia hanya bisa menangis dalam dekapan Allena.
"Lo kenapa sih, Al?! Dateng-dateng penampilan lo berantakan gini? Terus gue nanya malah nangis? Jangan buat khawatir, deh!"
Alleta tak menjawab, ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Allena mengejar namun, hanya suara isakan dari sang pemilik kamar yang ia dengar.
"Al, kalau ada apa-apa cerita! Jangan dipendam sendiri!!" teriak Allena yang masih terdengar oleh Alleta karena Alleta sedang tertunduk lemas di balik pintu.
"Lo juga kalau lagi dalam masalah gak pernah cerita 'kan, Len? Lo lebih baik memendam kerapuhan lo itu?" gumam Alleta sekecil mungkin, jelas saja perkataannya tak akan terdengar oleh Allena.
Alleta mengambil fotonya yang masih terpajang di dinding. Prang! Foto itu kembali ia pecahkan, entah sudah berapa banyak fotonya sendiri yang ia pecahkan.
"Lo udah bener-bener gak guna, Al!!! Lo udah GAK BERGUNA! AAAAA!!! LO UDAH BENER-BENER HANCUR!!!"
PRANG!! Semua alat make up yang ia punya berantakan seolah tak tersisa lagi di atas meja riasnya. Alleta benar-benar hancur, menatap dirinya yang sudah tak berguna lagi di pantulan cermin itu.
"Hiks ... Tuhan?! Kenapa ini terjadi pada Al?! Kenapa malam itu harus terjadi?! AAAA!!! Al udah buat semua semakin kacau!!"
Alleta berlari menuju kamar mandi, ia menghidupkan shower, tentunduk kembali dirinya ketika mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.
"Gue udah hancur, dan ini akan membuat keluarga gue semakin hancur. Gue emang bodoh! Saking bodohnya gue hancurin diri gue sendiri."
---c---
Vote & komen yang banyak biar cepet update!
Ada yng tahu Alleta kenapa?
Nantikan jawabannya di next part yaa!
KAMU SEDANG MEMBACA
RAPUH!
Teen Fiction"Kaca yang telah retak memang tak bisa disatukan kembali. Sekalipun bisa, wujudnya tak 'kan seutuh dulu. Mudah rapuh, seperti kata maaf pada sebuah penyesalan." Setelah kepergian Papanya, sahabatnya, serta luka yang tak kunjung sembuh, lantas kerap...
