Bawangnya dikit, kok^^

3 tahun kemudian ....
Papa♡
Pa, mama jahat lagi, pa.
Pa, Lena gak ada yang lindungin.
Pa, Lena pengin sama papa.
Lena gak mau di sini, sakit, pa.
Maaf, Lena gak bisa jadi gadis
kuat seperti yang papa minta.
Maaf, karena Lena malah jadi
gadis rapuh. Lena sayang papa,
Lena pengin ketemu lagi sama papa.
Lena pengin papa peluk Lena
sambil bilang kalau papa sayang Lena.
Papa sayang Lena, 'kan?
Papa gak benci sama Lena, 'kan?
Entah sudah berapa banyak pesan-pesan yang Allena kirimkan ke nomor sang papa. Entah berapa banyak darah dan air mata yang keluar selama tiga tahun setelah kepergian sang papa. Hal bodoh yang Allena lakukan ketika mengetik pesan yang sampai kapan pun tak akan dibalas oleh papanya. Mustahil, karena ponsel papanya pun sudah rusak beberapa tahun lalu.
Nadin tidak mengusir Allena, mau bagaimanapun, Allena adalah titipan Rahman-suaminya. Setidaknya jika ia tak menyayangi Allena seperti ia menyayangi Alleta, Allena sudah senang karena Nadin masih menganggapnya ada, meskipun bukan seperti apa yang Allena inginkan.
Rapuh lagi, gadis 17 tahun ini untuk ke-sekian kalinya merasakan luka. Bekas goresan kaca kemarin di tangannya masih ada, kini ia akan melakukannya lagi. Ia masih takut untuk menggores di bagian nadi, meskipun ia ingin sekali menghilang dari dunia ini.
"Sakit, lebih sakit dari sebelumnya," rintih Allena tanpa ada yang peduli seorang pun.
Masih terdiam dengan darah yang setia bercucuran dari kulit lengannya. Ponselnya berdering cukup keras, membuat lengannya yang perih berusaha mengambil ponsel itu di kasurnya.
"Halo, Lena?"
"Iya? Ini mamanya Sherin, 'kan? Ada apa, tante? Kenapa bukan Sherin yang telepon Lena?"
"Sherin udah gak ada, Len."
Deg.
Seketika dadanya seolah berhenti berdetak mendengar perkataan singkat itu. Luka 3 tahun lalu kembali terkelupas saat indra pendengarannya mendengar lima kata yang membuatnya sesak saat itu juga.
"Tante bohong, 'kan? Minggu lalu Sherin masih baik-baik aja kok. Minggu lalu Sherin masih ketawa bareng Lena kok," ucap Allena. Tanpa sadar, tangisnya yang sempat mereda sesaat kembali tumpah membasahi pipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAPUH!
Teen Fiction"Kaca yang telah retak memang tak bisa disatukan kembali. Sekalipun bisa, wujudnya tak 'kan seutuh dulu. Mudah rapuh, seperti kata maaf pada sebuah penyesalan." Setelah kepergian Papanya, sahabatnya, serta luka yang tak kunjung sembuh, lantas kerap...
