Jangan lupa vote dan komennya!!
Don't be a silent readers, please. Nulis butuh perjuangan oke :)
-
-
-
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Elang saat ini ketika operasi yang ia lakukan telah selesai. Ia memilih menyendiri di taman belakang rumah sakit. Meneriakkan nama Alleta, seolah-olah ia sangat menyesali kelalaiannya.
“Maafin ayah, Nak, ayah gak bisa jaga kamu, hiks …,” lirih Elang.
Saat ini jiwanya benar-benar rapuh. Kehilangan darah dagingnya meskipun itu karena kecelakaan membuatnya sangat sesak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alleta kelak ketika mengetahui janin yang ia kandung sudah tak ada.
“Maafin gue, Al, gue emang pengecut! Gue gak bisa jagain kalian!”
Elang menggeram frustrasi, mengacak-acak rambunya yang sudah tak berbentuk. Mata sembabnya, kantung mata yang bengkak dan memerah serta almamater kedokteran yang ia pegang dengan tangan kanannya semakin menunjukkan sisi kerapuhan Elang.
“Lang,” panggil Febi, Elang berdeham tanpa menoleh.
“Sabar, ya! Iklhasin! Mungkin Tuhan bilang belum saatnya lo berdua jadi orang tua. Gue yakin, suatu saat Tuhan kirimkan pengganti anak lo itu,” ujar Febi berusaha menenangkan sahabatnya ini.
“Makasih, Feb, gue gak tahu apa yang akan terjadi kalau gak ada lo tadi,” ucap Elang pelan tanpa menoleh pada sosok Febi.
“Al udah sadar, dia manggil-manggil nama lo, lo gak mau lihat dia?” Tanpa berkata lagi, Elang menoleh ke arah Febi sambil menyeka air matanya. Kemudian Febi mengisyaratkan untuk bangkit dan menemui Alleta.
Di perjalanan menuju ruang rawat, Elang menghampiri Bagas sejenak yang masih tertunduk di depan ruang UGD. Berjam-jam lamanya ia di ruang operasi, ternyata gadis bernama Allena itu belum juga usai ditangani.
“Lena belum ada kabar juga, Gas?” tanya Elang diikuti Febi, Bagas mendongak menatap kakaknya.
“Tadi Dokternya sempet keluar, katanya ….” Entahlah, Bagas tak sanggup lagi meneruskan ucapannya.
“Ada apa?” tanya Febi. Bagas hanya tersenyum miris, bersamaan dengan keluarnya Dokter yang menangani Allena.
“Dokter Evan, bagaimana keadaan pasien di dalam?” tanya Febi.
“Tadi pasien sempat kritis, beruntung keadaannya kian membaik, kita tinggal menunggu pasien sadar, ya,” ujar Dokter bername tag Evan tersebut.
“Terima kasih, Dok,” ujar Bagas.
Febi dan Elang memutuskan untuk memindahkan Allena ke kamar rawat yang tepatnya bersebelahan dengan kamar rawat Alleta.
Banyak hal yang terjadi hari ini, beruntung tak ada perpisahan yang lebih berat dari perpisahan Elang dengan darah dagingnya. Mereka berdua berjuang untuk hidup, ketiga tokoh lagi berjuang untuk membantu, sedangkan orang tua kedua perempuan itu bahkan tak tahu apa-apa tentang kejadian ini. Andai saja papa mereka masih ada, pasti ini semua tak ‘kan serumit seperti saat ini.
Elang menghampiri Alleta dengan wajah lesu, ia benar-benar tak tega untuk memberi kabar duka kepada wanita yang baru sadar itu.
“Kak Lang?” panggil Alleta lirih, Elang semakin mendekat sambil berusaha tersenyum.
“Masih ada yang sakit?” tanya Elang sambil duduk di samping Alleta di atas brankar, lengannya mengusap pelan rambut Alleta seraya menyelipkan beberapa helai rambut wanita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAPUH!
Novela Juvenil"Kaca yang telah retak memang tak bisa disatukan kembali. Sekalipun bisa, wujudnya tak 'kan seutuh dulu. Mudah rapuh, seperti kata maaf pada sebuah penyesalan." Setelah kepergian Papanya, sahabatnya, serta luka yang tak kunjung sembuh, lantas kerap...
