Alleta mengerjapkan matanya, rasa sakit di perutnya perhalan hilang. Hanya ada Bagas di sampingnya, bahkan dalam keadaan seperti ini pun mamanya tak ada di sampingnya? Orang tua macam apa Nadin itu?
“Bagas,” panggil Alleta lirih.
“Kenapa, Al? Lo butuh apa, hm?” tanya Bagas sambil menaruh ponselnya yang sedari tadi ia pegang.
“Gue cuma butuh Lena.”
Bagas terdiam. Jika itu yang Alleta inginkan, ia sama sekali tak bisa mengabutkan, karena Bagas pun tak tahu di mana keberadaan Allena saat ini.
“Bukan cuma lo yang butuh dia, Al, gue juga, gue kangen banget sama Lena,” batin Bagas.
Menyebut nama itu, seolah mengingatkan Bagas tentang hari-harinya bersama gadis sok kuat dan sok ceria itu. Bagas rindu senyumannya, jika waktu bisa diulang, Bagas hanya ingin menghabiskan waktu untuk membahagiakan gadis rapuh itu.
“Lo berdoa aja, ya, semoga Lena baik-baik aja di mana pun dia berada,” ujar Bagas, Alleta mengangguk lemah, setetes air matanya kembali luruh saat mengingat betapa baiknya Allena.
“Kalau lo udah membaik nanti, gue mau ajak lo buat tuntasin masalah ini secepatnya,” ujar Bagas.
“Maksud lo? Dengan cara apa? Gue gak tahu wajah orang itu, Gas,” ucap Alleta.
“CCTV club itu, semoga ada petunjuk di sana.” Alleta mengangguk patuh, lagi pun hanya dengan itu semua akan terungkap.
***
Malam ini, Allena diselimuti rasa sesak yang semakin mendominasi. Mendengar perkataan ‘istri’ dari Dokter Ria tadi, membuat Allena semakin membenci sosok Bagas namun, rasa sayangnya mengalahkan benci itu, ia yakin bukan Bagas pelakunya, Bagas hanya dipaksa oleh mamanya untuk hal itu.
“Lena, kamu kenapa masih di luar?” tanya Febi sambil menghampiri Allena yang termenung di teras depan rumahnya.
“Cowok yang Lena kangenin, ternyata udah nikah sama kembaran Lena sendiri, Teh,” lirih Allena, matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata yang sulit tertahan itu.
“Astafirullah, kalian ‘kan masih SMA. Apa karena kecelakaan?” tanya Febi hati-hati, Allena mengangguk tanpa ingin menjelaskan.
“Tapi itu bukan salah dia, Lena juga gak tahu siapa cowok brengsek yang udah buat kembaran Lena hancur, hiks ….” Luruh sudah pertahanan Allena untuk tak menangis, pada akhirnya rasa sesaknya mengalahkan egonya untuk menahan tangis.
Febi meraih tubuh Allena ke dalam dekapannya, Allena yang sedang duduk sedangkan Febi berdiri memudahkan Febi untuk mengelus rambut panjang Allena.
“Kamu yang sabar, ya! Tetap tabah meskipun sulit, karena sesulit apa pun kamu, suatu saat akan ada jalan keluar yang Tuhan berikan,” ujar Febi, ia bisa membayangkan bagaimana di posisi Allena, mungkin jika ia merasakan ia tak akan setegar gadis ini.
“Semua yang Lena miliki udah hilang, Teh. Dulu papa, mama, dan kasih sayang mereka cuma buat Alleta. Sekarang, satu-satunya cowok yang Lena yakinin buat jadi sandaran Lena juga udah pergi, dan yang lebih menyakitkan dia pergi sama kembaran Lena sendiri, hiks ….” Allena menatap kosong jalanan sepi di depan rumah Febi itu. Sesaknya teralihkan saat melihat pancaran bulan purnama yang begitu terang benderang.
Allena tersenyum singkat melihat bulan itu, ia harap suatu saat ia bisa menatap bulan itu bersama lelaki pilihannya.
“Teteh paham di posisi kamu, Len. Orang tua teteh udah bercerai saat teteh masih SMP, saat itu teteh bener-bener kehilangan pegangan untuk berdiri. Tapi teteh gak pesimis, dunia ini jahat kalau kamu terus mengeluh, dan dunia ini akan baik jika kamu mau berusaha. Jangan pernah menoleh ke belakang, sekarang tugas kamu cuma untuk menatap masa depan, menata masa depan kamu agar gak seburuk saat ini.”
Allena benar-benar tertampar dengan perkataan itu, kedua gadis itu saling berpelukan mencurahkan kesedihannya masing-masing.
“Teteh juga kangen ayah, dia ninggalin teteh dan bunda gitu aja demi perempuan lain. Untungnya bunda kuat, dia berusaha bangkit demi teteh, dan sekarang gantian, teteh berusaha bangkit demi dia,” ujar Febi, Allena semakin terisak dalam dekapannya.
“Maafin Lena, Teh, Lena selalu berpikir kalau Lena adalah gadis paling rapuh di dunia ini, padahal masih banyak orang yang senasib dengan Lena, bahkan lebih parah dari Lena,” lirih Allena.
“Udah, ya, sekarang Lena punya teteh, anggap aja teteh itu kakak kandung kamu, teteh sayang sama kamu,” ujar Febi yang masih mengelus halus rambut Allena, sesekali menyelipkan anak rambut Allena.
“Makasih banyak ya, Teh.”
“Sama-sama, sayang. Kamu jangan pernah patah semangat, ya! Masa depan kamu masih panjang. Kalau kamu terus meratapi masa lalu, kamu gak akan pernah menemukan kebahagiaan itu.”
“Lena gak tahu lagi harus bilang apa, hiks … Lena bersyukur banget Allah mempertemukan Lena dengan Teteh, hiks … Lena sayang banget sama Teteh,” ujar Allena.
“Udah atuh, jangan nangis lagi! Tuh muka geulisna jadi goreng kalau nangis terus mah,” ucap Febi dengan logat daerahnya.
(Tuh muka cantiknya jadi jelek kalau nangis terus).
“Hehe.” Allena menghapus air matanya, sebenarnya ia masih ingin menangis namun, tak ada gunanya meratapi hal yang sudah berlalu, lagi pun dengan ia menangis ia tak bisa mengubah keadaan menjadi hal yang ia inginkan, bukan?
“Masuk, yuk! Dingin, udah malem.” Allena mengangguk, ia mengikuti Febi melangkah masuk.
“Besok teteh mau ke rumah Dokter Elang, ada laporan yang belum teteh selesaikan, dia pernah kerja di rumah sakit itu juga soalnya, makanya sebagian data-data pasien dan riwayat penyakitnya masih ada di dia. Kamu mau ikut?” tawar Febi.
“Boleh, Teh, lagian Lena gabut kalau di rumah terus, tadi juga di rumah sakit Lena seneng banget bisa nambah wawasan baru.” Febi tersenyum mendengar perkataan Allena.
“Yaudah, masuk kamar gih, istirahat sana!” Allena mengangguk.
“Terima kasih ya Allah, hingga saat ini masih ada orang baik yang nolong Lena,” gumam Allena sebelum memejamkan matanya.
Tak ada yang menyangka, seorang Alleta tak pernah bisa tidur nyenyak setelah kepergian Allena dari rumahnya. Malam ini Alleta sudah berada di kamarnya, karena tadi sore ia memaksa ingin pulang kepada Bagas, Alleta hanya tak ingin merepotkan Bagas lagi, sudah cukup Bagas terbebani hingga meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikirannya untuk keluarganya yang sudah hancur.
“Lo di mana sih, Len? Gue kangen banget sama lo. Lo tahu? Gue gak pernah bisa tidur nyenyak tanpa obat, tapi sekarang gue disuruh berhenti minum obat itu? Terus gimana gue bisa tidur kalau pikiran gue selalu tertuju ke lo, Len? Lo baik-baik aja ‘ka, Len? Lo, hiks … lo gak benci ‘kan sama gue?”
Dengan terpaksa, Alleta kembali mengambil sebuah kapsul di lacinya, obat yang selama beberapa hari ini ia minum, obat yang membantunya sejenak beristirahat atas hal yang selalu menyakitkan.
“Maafin Al semuanya, Al terpaksa untuk minum obat ini lagi. Selama ini Al pengin tidur tanpa pernah membuka mata lagi, tapi Al gak bisa, Tuhan bilang belum saatnya.”
-
-
-
Hayo ini gimana alurnya?😭😂
Ada yang udah paham?
Btw, makasih ya guys doa-doanya.
Next?
Vote, share dan komen yang banyak okay!!
Malam ini up dua part dulu yaa!
KAMU SEDANG MEMBACA
RAPUH!
Novela Juvenil"Kaca yang telah retak memang tak bisa disatukan kembali. Sekalipun bisa, wujudnya tak 'kan seutuh dulu. Mudah rapuh, seperti kata maaf pada sebuah penyesalan." Setelah kepergian Papanya, sahabatnya, serta luka yang tak kunjung sembuh, lantas kerap...
