24 ♡ Di Mana Kamu? 💔

4.3K 239 10
                                        

Entah berapa lama lagi Allena bisa menahan rindunya, untuk Alleta, untuk Bagas, serta untuk mamanya yang selalu ia sayangi meskipun ia tak pernah dianggap oleh Nadin.

“Len, kamu kenapa?” tanya Febi.

“E—eh, enggak apa-apa, Teh, Lena cuma kangen temen Lena,” alibi Allena.

“Temen apa temen?” goda Febi berhasil membuat pipi Allena merona.

“Cuma temen, Teh.”

“Sekarang temen, gak tahu nanti, ‘kan?” Allena terkekeh sendiri dengan ucapan Febi, kedua gadis itu sedang menyantap sarapannya sebelum Allena mengikuti Febi untuk bekerja.

“Teh, jadi Dokter tuh cape nggak, sih? Dulu Lena pernah punya cita-cita buat jadi Dokter, karena Lena mau membuktikan bahwa Lena gak bersalah atas meninggalnya kakek dan papa. Tapi Lena takut, kalau suatu saat pasien yang Lena tanganin justru ninggalin orang yang mereka sayang kayak kakek dan papa.” Febi terdiam sejenak mencerna perkataan Allena. Gadis itu terlalu rapuh rupanya.

“Lena, jadi Dokter itu harus punya rasa kemanusiaan yang tinggi. Dokter juga manusia, dia pasti punya kesalahan yang meski orang lain gak tahu. Kamu tahu, Elang juga seorang Dokter, tapi dia punya masalah berat ya ... meskipun itu sebuah kecelakaan. Elang belum berani bicara sama keluarganya, dia cuma curhat sama teteh. Katanya, dia bakal ungkapin setelah dia menemui perempuan itu,” ujar Febi.

“Dari sana, kamu dapat menyimpulkan bahwa semua profesi pasti pernah melakukan kesalahan. Dan kalau masalah usia, kita semua gak akan ada yang tahu, karena hanya Yang Maha Kuasa yang menentukan,” ujar Febi hangat, Allena memeluknya seperti ia memeluk kakak kandungnya sendiri.

Allena menatap jam dinding, sekarang menunjukkan jam 7 pagi. Ia teringat Bagas, lelaki itu sering menjemutnya setiap jam 7 seperti ini.

“Bagas pasti cariin gue, andai hp gue gak direbut mama,” batin Allena sendu.

Di sisi lain, seorang pria yang sangat merindukan Allena itu sudah hampir putus asa. Pasalnya, ponsel Allena tak bisa dihubungi, ia pun tak punya jejak untuk mencari tahu di mana keberadaan Allena saat ini.

“Len … lo di mana, sih?! Jangan buat gue khawatir, please,” lirih Bagas sendu. Rambutnya sudah berantakan tak tertata, matanya sembab menahan tangis, ia tak mau benar-benar kehilangan Allena.

Hari ini, Bagas memutuskan untuk bolos sekolah hanya untuk mencari tahu keberadaan Allena. Entah di mana gadis itu, entah apa yang terjadi dengan gadis itu, entah gadis itu sudah makan atau belum, itu yang Bagas pikirkan. Pikirannya bercabang dengan keadaan Alleta, wanita itu tentu saja sangat merasa bersalah meskipun bukan sepenuhnya salahnya, Alleta pasti sangat kepikiran dengan Allena namun, yanga Bagas pikirkan adalah keadaan kehamilan Alleta, tentu saja akan berbahaya jika Alleta stres.

“Al, lebih baik gue antar lo pulang, ya? Lo lemes banget, biar gue yang cari Lena,” ujar Bagas. Ya, Alleta memaksa untuk ikut mencari kembarannya, sedari tadi, tangisannya tak kunjung berhenti.

“Tapi Lena, Gas, hiks … gue takut Lena kenapa-kenapa,” lirih Alleta.

“Iya, gue tahu, tapi lo juga gak boleh kecapean. Biar gue yang cari Lena, gue yakin dia enggak akan keluar dari Kota Bandung, kok,” ujar Bagas menenangkan.

Pada akhirnya Alleta pasrah, ia juga sudah sangat lelah, terlebih lagi pasti lontaran perkataan dari Nadin yang menyakitkan itu menerpanya kembali. Semua orang tak pernah tahu bagaimana Alleta di belakang mereka. Semua orang mengira Alleta baik-baik saja saat kembarannya tersiksa namun, di balik itu kerapuhannya lebih mendominasi daripada Alleta.

Bagas kembali mencari Allena setelah mengantarkan Alleta pulang. Entah ke mana tujuannya kini, bahkan hampir setiap sudut di sekitar rumah Allena sudah ia tanyakan namun, nihil, Allena tak kunjung ditemukan.

“Lo di mana sih, Len? Jangan buat gue takut kehilangan,” lirih Bagas.

“Teh, punten, mau nanya, pernah lihat orang ini nggak?” tanya Bagas pada seorang wanita separuh baya penjual minuman di dekat halte bus.

“Oh, ini teh cewek yang kemarin pingsan di sini atuh. Kemarin dia teh tiba-tiba pingsan, terus ada cowok ganteng yang nolongin dia,” ujarnya. Bagas lemas seketika, Allena pingsan? Itu artinya, gadis yang ia sayangi dalam keadaan tak baik-baik saja.

“Oh, yaudah, terima kasih ya, Teh,” ucap Bagas.

Siapa orang itu? Ke mana lagi ia harus mencari gadis itu? Bagas hampir putus asa, ia tak mau kehilangan gadis itu. Sungguh, jika Nadin bukanlah mama kandung Allena, tentu saja Bagas akan mencaci maki orang itu, tentu aja ia akan memberi pelajaran pada orang itu namun, sayang, tak ada keberanian bagi seorang Bagas untuk melawan orang tua.

Bagas melajukan motornya menuju rumahnya, ia ingin beristirahat sejenak sebelum kembali mencari Allena. Langkahnya lunglai, seolah kehilangan semangat untuk berdiri tegak.

Baru saja ia mendaratkan tubuhnya di sofa, ponselnya berbunyi mencantumkan nama Pian di layar ponselnya.

“Kenapa?” tanya Bagas dingin, ia tak mood berbicara saat ini.

“Tanding futsal sore ini lawan sekolah sebelah. Please, lo ikut, ya?” ucap Pian di seberang telepon.

“Gak.”

“Hah?! Plis, Gas! Jangan bercanda! Ini turnamen penting,” ujar Pian.

“Gue lagi males, lagi gak semangat.”

“Ada masalah apa lo? Masalah sama tim?” Nada bicara Pian berubah seketika saat Bagas berbicara selemah itu, ia yakin, lelaki itu pasti sedang ada masalah.

“Allena pergi dari rumah.”

“APA?!” Pian kaget bukan main, pasalanya temannya yang satu ini sangat bucin dengan gadis bernama Allena. Dan kini? Allena pergi dari rumah entah ke mana? Tentu saja membuat tenaganya seolah terkuras habis oleh kepergian Allena.

Sorry, buat kali ini gue gak bisa bantu. Lebih baik gue gak ikut ‘kan, daripada gue ikut tapi gak fokus,” ujar Bagas, Pian memakluminya.

“Yaudah, semoga cewek lo cepet ketemu, ya.” Bagas hanya membalas dengan dehaman, ia langsung mematikan telepon itu.

Bagas mendongakkan kepalanya ke atas sambil bersandar di sofa yang ia duduki. Baru sehar tak bertemu, entah kenapa rindunya sangat dalam untuk Allena.

“Gue harus cari lo ke mana lagi, Len?” gumam Bagas. Lamunannya terbuyarkan oleh kedatangan sang kakak.

“Woi! Kenapa lo, lemes banget gitu kayak kehilangan semangat hidup?” cibir Elang.

“Temen gue pergi dari rumahnya,” ucap Bagas lesu.

“Ck! Kalo sekadar temen mah gak bakal atuh sesedih itu,” ejek Elang dengan seringainya.

“Ya—ya, gitu. Pokoknya gue hampir putus asa nyari dia ke mana lagi. Gue gak tahu dia pergi ke mana,” ujar Bagas lesu.

“Yaudah gak usah galau gitu kali. Carinya sambil berdoa, ya kalau lo cuma usaha tanpa doa mah gak akan ada hasilnya sampai kapan pun,” ujar Elang. Entah dari mana datangnya, semangat Bagas seketika membara kembali.

“Lo bener, Bang. Kenapa gue gak ngotak dari tadi, ya?” kekeh Bagas.

“Otak lo mah isinya bucin terus, sih,” cibir Elang.

“Ye gue mah setia bucinnya juga! Daripada lo? Mainin perasaan cewek sana-sini, ups,” ejek Bagas. Seketika Elang termenung, mengingat kesalahannya beberapa minggu lalu, yaa meskipun itu sebuah kecelakaan namun, tetap saja ia harus menemukan wanita itu.

“Lo kenapa diem? Ada masalah?” tanya Bagas membuyarkan lamunan Elang.

“A—eh, enggak ada, gue fine-fine aja.”

Tentu saja perkataan itu sangat tidak benar. Sejak dulu Elang sangat pandai menyembunyikan masalah. Sikap mandirnya yang terbentuk sejak ia masih SMP sudah menjalar hingga ia mempunyai tekad untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Lagi pun, Elang sudah terbiasa ditingal tugas kedua orang tuanya sejak ia kecil. Kesibukan merekalah yang menuntun Elang menjadi sosok mandiri hingga ia bisa sesukses ini.

***


Yuhuu penasaran sama ceritanya?

Vote dan komen dulu yaaa!

Next part, siapkan hati kalian oke!!

RAPUH!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang