WIMY - 06

21.1K 1.9K 119
                                    

Rumah sakit adalah tempat yang paling Theea hindari selama ini, tetapi mau tidak mau harus ia kunjungi setiap hari karena ada seseorang yang sangat berarti untuknya tinggal sudah dua tahun tinggal di sini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rumah sakit adalah tempat yang paling Theea hindari selama ini, tetapi mau tidak mau harus ia kunjungi setiap hari karena ada seseorang yang sangat berarti untuknya tinggal sudah dua tahun tinggal di sini.

Bau obat-obatan, suara tangis dan jeritan yang saling bersahutan, dan orang-orang dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja mendatangi tempat ini sering kali Theea lihat dan dengar.

Langkah kaki jenjang milik cewek yang kini mengenakan sweater berwarna hijau sage dan jeans hitam sebagai bawahannya serta sepatu converse putih membalut kakinya menyusuri lorong hingga tak lama kemudian dia berhenti di depan sebuah pintu yang dituju.

Theea menghembuskan napasnya sebelum membuka pintu, tapi pintu tersebut lebih dulu terbuka dari dalam. Sosok yang membuka pintu terkejut melihat kehadiran Theea di depannya begitu pula dengan Theea. Keterkejutan mereka tak berlangsung lama hingga akhirnya Theea tersenyum seraya mencium punggung tangan sosok di depannya.

"Om kira kamu gak ke sini, soalnya udah malem. Biasanya pulang sekolah langsung ke sini dulu," kata sosok itu mengelus puncak kepala Theea.

Theea menanggapinya dengan senyuman. "Lagi butuh asupan, Om." Cewek itu cengengesan setelah mengatakan kalimat itu. "Gimana kondisi mama, Om? Udah ada kemajuan?" tanyanya dengan raut wajah serius.

Sosok yang tak lain adalah Joe menghela napasnya kemudian menampilkan senyuman. "Sejauh ini belum ada kemajuan yang pesat," kata Joe yang mampu merubah sorot mata Theea menjadi sedih. "Tapi gak ada yang harus dikhawatirkan. Berdoa saja, supaya mama kamu bisa sadar seecepatnya," lanjut pria itu seraya menepuk pelan bahu Theea.

"Mama gak capek apa tidur terus?" keluh Theea yang dapat di dengar oleh Joe. Pria itu menatap iba putri sahabatnya. "Theea kangen mama tau," lanjutnya.

"Theea," panggil Joe dengan lembut membuat Theea mendongak. "Jangan sedih! Mama kamu gak suka kalau putrinya sedih."

Mendengar itu Theea memanyunkan bibirnya walau mata cewek itu sudah berkaca-kaca.

"Yasudah, Theea masuk dulu sana! Om mau meriksa pasien lain."

Theea mengangguk patuh. "Iya, Om. Makasih ya, Om, selalu jagain mama," katanya dengan tulus.

Joe mengangguk seraya tersenyum hangat.

"Tapi orang itu gak ke sini 'kan, Om?" tanya Theea membuat Joe sempat terdiam sejenak. Joe tentu paham siapa yang Theea maksud tanpa mengatakan dengan jelas. Yang Theea maksud adalah Aditya Faurent, ayah kandungnya.

"Om?" ulang Theea.

"Kemarin dia ke sini, tapi Om gak bolehin sesuai kemauan Theea," jawab Joe membuat Theea menghembuskan napasnya lega. Joe hanya bisa meminta maaf dalam hati karena sudah membohongi Theea. Kemarin Aditya memang mengunjungi istrinya lagi, tapi Joe tidak mengizinkan. Namun suami sahabatnya itu memang sangat pintar membujuknya hingga akhirnya Joe mengizinkan.

When I Met You [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang