Judul lama : ATHAZIO
Awalnya Theea hanya tertarik pada ketua geng nomor satu di sekolahnya dan bertekad untuk menjadikan cowok itu sebagai kekasihnya karena penasaran dengan sifat pendiam dan tenangnya.
Namun, Theea tidak menyadari jika rasa tertar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika di tanya apa yang paling Theea harapkan saat ini, maka gadis itu akan menjawab Atha menolak perjodohannya dengan Lily. Bukan berarti Lily tidak baik, tidak. Justru gadis berjilbab itu sangat baik, namun Theea tidak menyukai jika dia bersama Atha.
Theea memang egois, ia akui itu. Salahkan saja perasaannya yang semakin lama semakin besar pada cowok itu. Tapi katanya, semakin besar harapan semakin besar pula peluang kita untuk merasakan kecewa. Dan Theea percaya kata-kata itu.
Gadis berambut pirang bergelombang itu tengah merasakan kekecewaan. Pagi ini ia harus melihat Atha bersama Lily. Sepasang sepupu itu baru saja turun dari mobil Atha kemudian jalan berdua menuju kelas Lily. Memang tidak hanya berdua, ada Gabriel di belakang mereka. Theea menatap pemandangan itu nanar, sedetik kemudian menghembuskan napasnya kasar.
Tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang di susul dengan ucapan, "Gak usah di liat terus. Entar makin potek hati lo." Tanpa menoleh pun Theea sudah tahu siapa yang berkata seperti itu.
Gadis itu menepis tangan tersebut dan menoleh datar. "Cariin gue cowok yang bisa di ajak pacaran bohongan, Val," ujar gadis itu membuat Rival menatapnya curiga.
"Lo mau ngapain, cari pacar boongan? Mau bales temen gue?"
"Gak usah nanya lagi kalo udah tau," sahut Theea ketus. "Gue mau liat reaksi dia sekali aja. Kalo dia gak cemburu berarti gue harus move on beneran, tapi kalo dia cemburu, gue bakal ngejar sampe dapet."
Rival dibuat melongo mendengar ucapan penuh tekad dari tetangganya itu barusan. Benar-benar tidak habis pikir ia dengan keturunan bule itu, kalau sudah memilih satu nama, sampai akhir tidak akan berubah meski harus menanggung sakit. Benar kata Aditya, Theea kalau sudah menyukai seseorang, sampai kapan pun ia akan memperjuangkannya.
"Bisa gak lo nyariin gue cowok?" Lamunan Rival buyar karena dorongan di lengannya. "Kalo gak bisa lo aja deh yang jadi pacar pura-pura gue, gimana?"
Rival langsung mundur beberapa langkah seraya memandangi Theea horor. "Lo mau gue dibantai Atha? Gak mau gue! Gue mau hidup damai tanpa perang saudara."
Theea berdecih mendengar cowok hitam manis itu. "Secara gak langsung lo udah nolak gue, tai! Terima kek, kapan lagi lo bisa pacaran sama gue, ya meski boongan sih," lanjutnya santai. Sedetik kemudian sebuah toyoran melayang di kepala belakangnya. "Kampret lo, Lamvir! Kepala gue!"
"Gak minat gue pacaran sama nenek lampir," sahut Rival dengan nada mengejek membuat Theea mengumpat. "Lagian lo jangan nyari penyakit, Ya. Kita gak tau gimana sebenernya perasaan Atha ke lo."
"Terus gue harus diem sama overthinking gue gitu?" balas Theea cepat. "Kalo dia cemburu, bagus lah. Itu artinya usaha gue gak sia-sia."
Rival menghela napasnya kasar. Tetangganya ini sungguh keras kepala. "Lo mau dinikahin sebelum lulus? Minggu depan baru ujian loh?" ujar Rival menakut-nakuti. "Atha kalo marah bikin serem tau, Ya. Yakin lo mau nguji dia?"