WIMY - 11

20K 1.8K 63
                                    

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Val, ayo dong, kasih nomor Atha ke gue."

"Gak mau gue. Mending lo usaha lebih keras lagi dapetin nomor dari orangnya langsung. Ya gak, El?"

"Yoi! Ibarat madu, lebih nikmat dapet dari sunbernya langsung."

Theea merungut sebal saat kedua cowok yang tengah duduk di atas sofa belakangnya tertawa seraya bertos ria. Cewek itu mendecakkan lidahnya berkali-kali seraya memikirkan cara agar bisa mendapatkan nomor hp sang gebetan. Minta tolong pada Gabriel dan Rival tidak ada gunanya.

"Aw! Pelan-pelan, anjir! Awas aja rambut gue rontok ya!" Cewek itu mengancam dengan tidak tahu dirinya membuat Rival menatap kepala cewek itu dengan sinis. Sudah dibantu malah nyolot. Dasar tetangga minim akhlak!

"Gue penasaran. Lo beneran suka sama Atha, ya, Ya?" tanya Gabriel penasaran embuat Theea menoleh. Cewek itu menggaruk hidungnya lalu mengangguk. Gabriel berdecak kagum. "Hampir tiga tahun sekolah, lo ke mana aja, huh? Baru sadar kalo ada sepupu ganteng gue sekolah di sana?"

"Ya gimana ya, gue juga nyesel baru sadar kalo ada cowok sekeren dan seganteng Atha." Theea tidak bohong. Ada rasa menyesal karena hampir tiga tahun sekolah baru mengenal Athazio. Selama ini ke mana saja ia? Atau memang Atha tidak semenonjol itu dari dulu? Kalau Theea tahu dan kenal Atha, ia tidak akan menerima Edri menjadi pacar khilafnya. Tapi menyesal juga tidak ada gunanya, kini Edri sudah jadi mantan meski ya, masih terobsesi kepadanya, dan paling penting ia mengenal Atha dan bertekd akan meluluhkan hati sekeras batunya.

"Gue bisa aja kasih nomor Atha ke lo, Ya, tapi gue lebih takut dapet lirikan maut sepupu gue itu," pungkas Gabriel bergidik. Atha kalau sudah kesal dan tidak nyaman, tidak akan ragu melayangkan tatapan mautnya pada siapa pun, kecuali perempuan. "Atha kalo udah kesel, nyeremin."

Rival mengangguk setuju. Cowok itu menjadi pendengar sekaligus bertukar profesi menjadi hair stylis Theea yang duduk di karpet depan sofa membelakanginya dan Gabriel. "Kavin dulu pernah hampir ngompol ketahuan ngumpetin topi kesayangan Atha."

Theea menganga tidak percaya, juga sedikit geli membayangkan ekspresi ketakutan Kavin kala itu. "Masa sih? Seserem itu ya Atha kalo lagi marah?"

"Parah emang! Tapi gak berlaku buat perempuan," sahut Gabriel lagi. Cowok itu menyenderkan punggungnya ke sofa. "Atha itu kalo sama perempuan sopan banget, apalagi kalo udah sama nyokapnya, beuh, gak akan berani naikin nada suaranya, gak akan berani ngebantah, sama nurut banget."

Mendengar penjelasan Gabriel selaku sepupu dari Atha membuat Theea salah tingkah sendiri. Kalau dengan ummanya saja Atha begitu bagaimana dengan istrinya nanti, ya? Pikir Theea sangat kejauhan. Seketika cewek itu membayangkan ia dan Atha menikah suatu hari nanti, pasti Theea akan dibuat baper sama perhatian suaminya itu. Ups...

When I Met You [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang