Judul lama : ATHAZIO
Awalnya Theea hanya tertarik pada ketua geng nomor satu di sekolahnya dan bertekad untuk menjadikan cowok itu sebagai kekasihnya karena penasaran dengan sifat pendiam dan tenangnya.
Namun, Theea tidak menyadari jika rasa tertar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
"Gila ya! Perasaan baru semalem lo mau minta bodyguard ke bokap lo, kapan di seleksinya?"
Theea menggidikkan bahunya menanggapi pertanyaan Gabriel barusan. "Mereka dari agensi kenalan bokap gue yang udah terpercaya dan lulus seleksi," sahut Theea membuat Gabriel mendecakkan lidahnya kagum. Sepupu Atha itu dan Theea tengah berada di parkiran menatap ke arah pos penjaga di mana tiga bodyguard Theea berdiri kaku.
"Enak banget ya jadi lo, mau minta apapun tinggal bilang terus langsung tersedia."
"Lo lagi ngomongin diri sendiri kan ini?" sinis Theea membuat Gabriel nyengir. Gabriel itu sebelas dua belas dengan Theea status sosialnya. Mereka sama-sama berasal dari keluarga berada. Yang Theea tahu papa Gabriel itu pemilik salah satu perusahaan tambang terbesar di Asia sedangkan mamanya yang merupakan adik dari Ayah Fathur itu pemilik klinik kecantikan terkenal di ibukota.
"Si Atha ke mana dah? Lama amat!" gerutu cowok itu tidak melihat tanda-tanda kedatangan Atha. Ketua geng itu tadi meminta Gabriel untuk menunggunya sebab cowok itu ada urusan dengan Pak Didi. Sudah lima belas menit setelah cowok itu pergi dan Gabriel sudah mulai bosan kalau saja tidak ada Theea yang mengajaknya mengobrol.
"Lily pulang sama siapa?" tanya Theea tiba-tiba. Biasanya kan gadis berjilbab itu pulang sekolah bersama Atha menggunakan mobilnya. Semenjak Lily pindah ke Merpati, Theea jarang melihat cowok itu menggunakan motornya lagi ke sekolah. "Atha gak bawa mobil?" tanya Theea melirik sekeliling parkiran, tidak ada mobil Atha.
"Dia nebeng gue tadi. Lily di anter Papanya, terus pulang di jemput supirnya." Theea mengangguk seraya menghembuskan napas lega. Melihat ekspresi Theea barusan membuat Gabriel tersenyum meledek. "Seneng banget muka lo denger Lily gak bareng Atha."
"Ya seneng lah!" seru Theea ngegas.
Tak lama kemudian Atha datang dengan ekspresi khasnya. Cowok itu sedikit heran melihat sosok Theea bersama sepupunya. Kenapa gadis itu belum pulang juga?
"Lama amat lo, Tha!" semprot Gabriel dengan tampang jengkelnya. "Untung ada Theea yang nemenin gue biar gak bosan. Lo ngapain di suruh Pak Didi?"
"Bantu meriksa hasil ulangan harian kelas sebelas," jawab Atha kemudian beralih pada Theea yang menatapnya dalam diam. "Makasih buat bekal tadi pagi." Theea mengangguk singkat.
Jujur saja, mulutnya sudah gatal ingin berbicara panjang lebar dan menggoda Atha seperti sebelum-sebelumnya, tapi Theea harus bisa menahan diri. Anggap saja ini latihan move on dari cowok itu, meski berat.