Judul lama : ATHAZIO
Awalnya Theea hanya tertarik pada ketua geng nomor satu di sekolahnya dan bertekad untuk menjadikan cowok itu sebagai kekasihnya karena penasaran dengan sifat pendiam dan tenangnya.
Namun, Theea tidak menyadari jika rasa tertar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa tandain typonya ya guys...
***
"Dia tahu kamu mencintainya, tapi dia memilih untuk pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Karena memang bukan kamu yang dia inginkan. Nih quote relate banget sama lo, Ya." Theea kontan mendelik sinis pada Zia yang menceletuk dengan nada mengejeknya. "Yok mundur yok!"
"Sial*n lo Zia!" umpat Theaa yang dibalas tawa renyah ketiga sahabatnya. "Gue doain lo putus sama Erlangga, baru tau rasa!"
Keadaan kelas mereka saat istirahat sama sekali tidak sepi. Penghuni kelas itu lebih betah melakukan kegiatan mereka di dalam, entah itu makan, bergosip atau main game mengusir bosan, dari pada di luar kelas.
"Eh, ngomongin Atha, gue penasaran sama anak baru yang dateng sama dia waktu itu. Lo tau cewek itu siapa, Ya?" tanya Vava penasaran.
"Nah iya, gue lupa mau nanya itu kemarin. Atha punya adik?" sambung Zia sama penasarannya.
"Namanya Lily, tetangga sekaligus sepupu Atha."
Vava dan Zia membulatkan mulutnya mengerti. "Gue kira ceweknya," sahut Vava.
"Ya kagak lah!" seru Theea tidak terima. "Gue gak mungkin diem aja kalo Lily ternyata cewek Atha. Lagian Atha tuh gak suka pacaran."
"Tapi lo ajak dia pacaran," balas Kalista yang sedari tadi diam membuat Theea cengengesan.
"Tapi tuh cewek tipe Atha banget gak sih? Dia kayaknya cewek baik-baik, pendiem, anggun, terus alim banget pake jilbab."
"Gue juga cewek baik-baik kali! Gue pendiem, gue anggun!" gerutu gadis itu sangat tidak terima dengan penilaian Zia terhadap Lily yang sialnya memang benar semua. "Lo jahat banget tau, Zi, sama gue. Bukannya ngedukung temennya merjuangin Atha malah dijatohin semangat gue. Temen laknat emang lo!" Alih-alih marah, Zia tertawa kencang mendengar gerutuan sahabatnya itu. Puas sekali hatinya menjahili Theea.
"Btw, lo udah jadi pindah, Ya?" tanya Vava mengalihkan topik.
"Udah. Papa langsung bawa orang buat mindahin semua barang-barang gue ke rumah lama. Mama sama gue juga udah tinggal di sana lagi sekarang," jelasnya yang dibalas anggukan mengerti ketiga sahabatnya. "Oh iya, jangan lupa dateng lo pada ntar malem! Mama nanyain kalian."