Judul lama : ATHAZIO
Awalnya Theea hanya tertarik pada ketua geng nomor satu di sekolahnya dan bertekad untuk menjadikan cowok itu sebagai kekasihnya karena penasaran dengan sifat pendiam dan tenangnya.
Namun, Theea tidak menyadari jika rasa tertar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
...
Saat istirahat pertama Theea mendapatkan telepon dari dokter Joe. Gadis itu langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa pikir panjang, sebab ia tahu jika Joe menghubunginya sudah pasti ada sesuatu yang berkaitan dengan mamanya. Ia menjauh dari kantin yang berisik dan meninggalkan makanannya begitu saja.
"Theea, maaf Om ganggu waktu belajarnya. Om mau ngabarin kalau Mama kamu sudah boleh pulang sore ini. Kondisinya sudah jauh lebih baik dan sangat mengalami kemajuan."
Theea tidak berhenti mengucapkan syukurnya. Air matanya mengalir haru mendengar kabar membahagiakan itu dari Joe. Kabar yang dari dua tahun lalu Theea nantikan akhirnya datang juga. Ia tidak menyangka hari ini akan datang. "Om beneran kan? Mama beneran pulang hari ini kan, Om?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Om gak bohong kok. Mama kamu beneran udah bisa pulang."
Theea menggigit bibir bawahnya menahan tangis bahagia. "Makasih ya Om, udah ngasih kabar sebahagia ini, makasih udah mau rawat Mama sampai sembuh. Makasih."
"Sama-sama Theea. Yaudah, Om tutup dulu ya teleponnya. Om masih ada pasien yang harus diperiksa."
"Oke, sekali lagi makasih ya Om."
Sambungan terputus setelah Joe menjawab ucapan terima kasih Theea. Gadis itu tersenyum sangat lebar dengan air mata yang terus mengalir. Para siswa yang melintasinya mengernyit heran, namun tidak bertanya, lebih tepatnya sungkan. Tidak ingin disangka gila Theea melangkahkan kaki jenjangnya menuju kelas dan melupakan makanan yang sudah dipesannya juga ketiga sahabatnya yang masih menunggu kedatangannya. Gadis itu bahkan tidak sadar jika Atha dan lima temannya berdiri tak jauh darinya dan mendengar percakapannya dengan Joe tadi.
"Baru kali ini gue liat Theea senyum kayak gitu," celetuk Kavin masih menatap punggung Theea yang menjauh. "Senyumnya kayak lebih hidup. Ya gak sih?"
Rival mengangguk mendengar pendapat Kavin. Cowok itu memang sering melihat senyum Theea, namun baru kali ini iamelihat senyum Theea secerah dan sehidup tadi. "Lo bener, gue juga baru kali ini liat si tengil itu senyum kayak tadi," sahut Rival.
"Jelas lah, mamanya kan udah bisa pulang dari rumah sakit. Siapa sih yang gak seneng bisa kumpul lagi sama orang tuanya," sambung El yang diangguki Rival dan Kavin. "Eh tapi, kira-kira mamanya pulang ke mana ya? Ke kontrakan Theea atau rumah lama mereka?" tanyanya.
"Menurut gue, Papa Theea gak akan ngebiarin istrinya yang baru sembuh tinggal di kontrakan yang kecil dan sempit begitu, sementara kan dia butuh masih butuh perawatan intensif," komentar Rival. "Tapi gue ragu juga sih Theea bakalan terima gitu aja ngeliat sikap dinginnya ke Om Aditya."
"Lo tau banget kayaknya, Val?" sindir Alkan dengan tampang menyebalkannya.
"Ya tau lah, gue kan tetangga tuh buaya betina satu."