vote dulu, ya...
"Mawar mana, Ken? " tanya Otak kepada Kenzi yang tengah fokus terhadap ponselnya.
"Katanya keruangan osis dulu." Kenzi menciutkan bibirnya, lalu menyimpan ponsel kedalam saku.
"Menunggu itu melelahkan, " ujar Rio lebai, karena capek menunggu Mawar yang sedari tadi tidak kunjung datang.
Kenzi mengangguk membenarkan, membuat alis Otak terangkat. "Nah, Mawar juga capek tu nunggu kepastian dari lo." pancing Otak membuat Kenzi mendelik lalu langsung membuang muka acuh.
"Eh Bran, pulang bareng kita? " tanya Rio dibalas anggukan kecil oleh Gibran.
Otak mendesis gemes. "Untung lo sahabat gue, coba aja bukan, udah gue jitak pala lo! " Otak jadi ngegas karena gemes dengan sikap Gibran.
"Gibran kalem aja ganteng, apalagi bicara." Kenzi tersenyum mengangkat dagunya kearah Gibran, membuat Gibran berdecih dan membuang muka.
"Nah tu, ngapain tuh." Otak semakin gemes dengan Gibran. "Lo sama ojek aja deh pulang, Bran. Males gue." Otak melirik sinis Gibran, membuat Gibran mendelik.
"Lo ada masalah apasih sama gue? " kali ini Gibran bersuara, membuat Kenzi dan Rio bersorak heboh, bahkan Rio kini memeluk Gibran dari samping.
"lo ditanyain tuh, ada masalah apa sama dia." Kenzi berbicara dengan Otak sambil mengarahkan dagunya ke Gibran.
"Nggak usah cari masalah sama Gibran. Inget, lo itu cuman setinggi dada dia. " Otak mengumpat keras mendengar hinaan dari Rio.
Kenzi tertawa terbahak-bahak. "Lo ngotak dong, Tak, " ujar Kenzi memukul lambat kepala Otak. "Masak Gibran di lawan. "
Seketika perhatian Kenzi teralihkan, keseorang gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Kenzi berdehem dan tersenyum, lalu pria itu melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu.
"Woi gila lo! " teriak Rio.
"Inget, janji lo yang tadi buaya! " teriak Otak.
Kenzi tidak memperdulikan ucapan kedua sahabatnya itu, pria itu terus melanjutkan jalannya, mendekat ke Melati yang tengah berdiri didepan pintu ipa tiga.
"Eh, eh, mau lari kemana lo? " Kenzi langsung menarik tangan Melati, ketika ia hendak kabur.
Melati berdecak. "Lepasin gue! "
Kenzi tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Melati, lo nunggu siapa? Bukannya lo anak ips? "
Melati hendak menjawab tapi terurungkan oleh kedatangan seorang gadis dari dalam kelas, namanya gadis itu Rere.
Rere menampakkan wajah merasa bersalahnya. "Pramuka hari ini ngumpul, lo pulang duluan aja."
Meleti menghela nafas kecewa. "Yah...trus gue pulang sama siapa? " wajah gadis itu tampak murung. "Mana uang gue habis lagi buat ongkos ojek. Emang lama ya? " Melati bertanya, sambil menggaruk-garuk tekuknya.
Rere mengangguk, lalu membalikkan badan begitu saja ketika ada yang memanggil namanya dari dalam kelas.
"Lo sama gue aja, " ujar Kenzi.
Melati seakan berfikir, sebelum berkata. "Gue nggak mau cari masalah sama Mawar." Melati ingin melangkah menjauh, tapi tidak bisa karena Kenzi memegang tangannya.
"Mawar nggak bakal tau. Gue nganter Mawar dulu, setelah itu baru lo. Tunggu gue dipost satpam." Kenzi meyakinkan Melati.
Melati menipiskan bibirnya. "Tapi gue harus cepat-cepat pulang, gue harus kerja. Gue sama yang lain aja deh, " tolak gadis itu.
Kenzi berdecak kecil, dirinya menggaruk-garuk rahangnya. "Yaudah, lo aja dulu gue anter. Kita lewat jalan belakang. Gue jamin Mawar nggak bakal tau."
"Nggak bakal tau? " suara tegas namun bergetar itu terdengar, Mawar menampakkan wajahnya dari balik pintu kelas ipa tiga.
Rio, Otak, dan Gibran yang menyaksikan itu mendelik seketika. Mereka bertiga serempak meneguk ludah.
"Mampus! Mampus!" Otak jadi heboh sendiri.
"Lagian si Kenzi itu ngapain sih? " sewot Rio melihat Kenzi dengan ekspresi kesal sekaligus bingung.
Gibran tidak berkata, pria itu langsung melangkahkan kakinya mendekat ketempat kejadian perkara. Rio dan Otak juga tidak tinggal diam, dirinya mengikuti Gibran dari belakang.
"Ma--war." Kenzi tergagap, ia meneguk ludahnya. Kenzi seakan melihat hantu disiang bolong.
Melati terpaku ditempat, tidak bisa berkata. Dirinya merasa tertangkap basah karena mencuri.
"Gu-gue, bisa jelasin se-muanya, " ujar Kenzi, wajah pria itu sampai memucat.
Mawar tersenyum miris, melipat tangan di dada. "Coba jelasin. "
Kenzi membasahi lidahnya. Pria itu tergagap, tidak tau ingin berkata apa. Ia juga salah tingkah dan terlihat seperti orang bodoh.
Mawar berpaling ke Melati. "Coba lo jelasin? " suara Mawar terdengar dingin, sangat berbeda dari biasanya.
Melati meneguk ludahnya, ia membasahi bibirnya sebelum berkata. "Kenzi tadi m--"
"Udah stop," potong Mawar, masih dengan suara tegas dan bergetar. "Gue denger semuanya. "
Kenzi menggeleng cepat, ia meraih tangan Mawar tapi gadis itu langsung menepisnya. "Padahal dikelas tadi lo udah janji. "
Disisi lain Otak dan Rio saling pandang. Mereka merasa kecewa kepada Kenzi yang akhir-akhir ini mengingkari janjinya. Sejak tahu Melati, pria itu selalu mendekat ke Melati. Kalau begini sudah pasti Kenzi menyukai Melati.
"Kalau mau berenti bilang." Mawar melirih, hatinya terasa sakit. Mawar menunduk, ketika tetesan air mata jatuh dari pelopak matanya.
Kenzi melihat itu langsung meneguk ludahnya, pria itu memegang kedua pundak Mawar. "Gue belum mau berenti. "
"Gue bukannya gimana ya. " Rio menggaruk-garuk tekuknya. "Tapi ini udah kelewatan, Ken. "
Gibran meneguk ludahnya. Untuk pertama kalinya Gibran melihat Mawar menangis. Gibran tidak tega melihat seorang gadis yang biasanya tampak ceria kini menangis.
Gibran berdehem. "Lo pulang sama Mawar. Biar gue yang nganter Melati pulang, " ujar Gibran tenang, mencoba untuk menyelesaikan drama ini.
"Gue pulang sama lo," ujar Mawar cepat, melihat Gibran penuh dengan permohonan.
Mawar langsung mendekat ke Gibran, memegang tangan Gibran lalu membawanya pergi untuk menjauh.
"Tapi lo nggak bawa motor, Bran." ujar Kenzi, terlihat tidak suka Gibran pulang bersama Mawar.
Gibran tersentak, ia melupakan itu.
"Kita naik angkot aja." Mawar melihat Gibran, meyakinkan pria itu.
"Jam segini angkot udah nggak ada. Lo sama gue aja, Melati biar sama Rio." Kenzi melihat Mawar dengan wajah datar dan mata berair.
Rio meangangguk setuju. "Iya, gue mobil. "
"Nyombong lo bawa mobil," ujar Otak tanpa memandang situasi, dan kini ia malah menunduk sambil menggaruk-garuk kepala.
Usai melihat Otak dengan tajam, kini Kenzi beralih ke Mawar. "Lo sama gue aja. " Kenzi menyendukan matanya, melihat Mawar penuh dengan permohonan.
"Urus aja Melati lo itu. "
TERIMA KASIH BANYAK BUAT YANG UDAH BACA SAMPAI AKHIR. MAAF BANGET CERITANYA HAMBAR DAN MEMBOSANKAN.
JANGAN LUPA REKOMENDASIIN CERITA INI KETEMAN-TEMAN KALIAN, YA...
💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
