Jangan lupa vote...
Kabar tentang ibu Melati sampai ke telinga sekolah, membuat sekolah juga ikut berduka. Bahkan sebagian siswa-siswi pagi ini sudah berbondong-bondong keluar dari gerbang, menuju rumah Melati untuk melayat. Tidak siswa-siswi saja, tapi guru juga. Mereka ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Melati.
Mawar selaku wakil ketua osis tentu tidak tinggal diam, dengan sigap ia beserta rombongan mengumpulkan uang takziah, untuk diberikan kepada Melati nantinya. Itu memang kebiasaan osis ketika salah satu siswa-siswi berduka, baik terkena bencana maupun kejadian seperti yang tengah dialami Melati.
"Udah. Sekarang ayo menuju mobil osis." ujar Mawar, sembari melangkahkan kakinya, diikuti oleh anggota osis yang lain.
*
Mobil osis tampak berhenti, cukup jauh jaraknya dari rumah Melati. Karena halaman, serta tepian jalan rumah Melati telah dipenuhi oleh mobil dan motor. Membuat mobil osis tidak bisa terparkir disana, mengharuskan mereka semua berjalan beberapa meter untuk menuju kesana.
"Mawar, ini pake," ujar Nino sembari memberikan Almamater osis kepada Mawar.
Mawar mengangguk, lalu langsung menerimanya.
Mawar berjalan dengan langkah besar. Jujur saja, Mawar juga ikut merasakan kesedihan yang dialami Melati sekarang. Mawar tidak menyangka, ternyata kehidupan Melati semiris ini. Gadis itu terlihat lembut, seakan ia mendapat kasih sayang yang penuh dari kedua orang tuanya. Dan kenyataan sudah cukup menjawab semuanya, ternyata gadis itu sangat tertekan, keluarga gadis itu sebenarnya hancur. Ternyata gadis itu berasal dari keluarga broken home. Mawar begitu bangga terhadap Melati, yang bisa menghadapi semua ini. Mawar tidak bisa membayangkan, jika semua ini terjadi pada dirinya. Tuhan tahu Melati itu kuat, makanya ia memberi ujian yang berat untuk Melati.
Mawar memasuki area rumah Melati. Rumahnya tampak dipenuhi oleh remaja-remaja yang mengenakan seragam SMA. Mereka semua tampak beduka dan terpukul, bahkan beberapa dari mereka ada yang menangis.
Mata Mawar tidak sengaja menangkap beberapa anak kelasnya, yang tengah duduk dikursi plastik, yang telah disediakan. Mawar berjalan kearah sana. "Perwakilan dari kelas kita ini doang? " tanya Mawar.
Rio mangangguk. "Iya. Kata walas enam orang aja."
Mawar mengangguk. "Kalian udah masuk? " tanya Mawar dibalas anggukan oleh Otak. Bahkan Otak yang selalu becanda kini tampak ikut merasakan kesedihan, ada bekas air mata dipipi pria itu.
"Gue sama anak osis masuk dulu, ya?" pamit Mawar, dibalas anggukan oleh mereka.
Mawar berjalan, mengikuti anggotanya dari belakang. Sampai Mawar tiba didepan pintu rumah Melati. Tatapan Mawar tertuju kepada Kenzi yang tengah memeluk Melati. Melati menangis didalam pelukan Kenzi, dan ia terlihat benar-benar terpukul. Tidak jauh berbeda dengan Kenzi, Kenzi terlihat mengenakan baju rumah, entah bersama siapa Kenzi kesini, Mawar tidak tahu.
Kenzi sejak malam tadi belum pulang ke rumah, ia sejak malam tadi berusaha untuk menenagkan Melati.
Mawar menggerutui dirinya, kenapa rasa cemburu menyeludup masuk kedalam hatinya. Seharusnya Mawar sadar, Mawar tidak boleh egois. Hari ini Melati tengah berduka, ia membutuhkan seseorang untuk menenangkan dirinya. Mawar tidak boleh cemburu melihat Kenzi mendekap erat Melati. Seharusnya Mawar mengerti itu.
Mawar menghela nafas berat, lalu melangkah untuk masuk. Mawar duduk disamping Dhita, sahabat Melati. Dhita terlihat ikut terpukul, sesekali gadis itu mengelus lembut punggung Melati.
"Dhita, Gue boleh duduk disitu? " pinta Mawar lambat.
Dhita mengangguk, lalu gadis itu beranjak bertukar posisi dengan Mawar.
Kini Mawar duduk tepat disamping Melati. Mawar menghapus air matanya yang jatuh, tidak bisa membayangkan ini semua. Seorang suami membunuh istrinya, itu benar-benar menyakitkan untuk seorang anak.
Mawar menengadah, sembari mengedip-ngedipkan matanya, mencoba untuk membendung air mata yang hendak keluar.
Mawar menggeser duduknya, untuk mendekat ke Melati. Perlahan tangan Mawar terangkat untuk mengusap lembut punggung Melati. Namun tidak sengaja Mawar menyentuh tangan Kenzi, yang kebetulan berada disana.
Kenzi yang merasa tangannya disentuh Mawar, jadi menatap tajam ke gadis itu. Apa yang dipikirkan oleh gadis itu? Bisa-bisanya ia mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini, pikir Kenzi.
Melati menoleh kepada Mawar. Raut wajah Melati tampak begitu menyedihkan, mata gadis itu tampak bengkak dan memerah.
Mawar meneguk ludahnya, darahnya seakan membeku melihat Melati seperti ini. Melati memang bukan teman dekat Mawar. Tapi Mawar adalah wakil ketua osis, tentu ia seakan memiliki tanggung jawab untuk menenangkan gadis yang satu sekolah dengannya ini.
"Melati..." Mawar menghapus cepat air matanya, gadis itu mengusap lembut pipi Melati. "Jangan sedih, ya. Kita semua ada buat lo. Kita semua sayang sama lo. " usai berkata seperti itu Mawar langsung mendekap Melati. "Lo yang tabah, ya. "
Melati melerai pelukan itu lebih dulu, gadis itu menggeleng. "Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi. " Melati melirih, membuat Kenzi mengusap lembut punggung gadis itu.
"Ada gue...lo masih punya gue." Kenzi langsung membawa Melati kedalam dekapannya.
Mawar tidak tahu harus apa. Disatu sisi ia ikut berduka, disisi lain rasa cemburu dihatinya ikut membara, melihat Kenzi mendekap erat Melati. Terlebih mendengar Kenzi berkata seperti tadi, sukses membuat hati Mawar hancur berkeping-keping.
Mawar bangkit dari duduknya, tidak kuasa melihat Kenzi yang mendekap Melati. Padahal Mawar telah berusaha untuk mengendalikan dirinya. Mawar telah berusaha, memperingati dirinya, bahwa Melati tengah terpukul, Melati membutuhkan sosok Kenzi. Tapi tidak bisa, hati Mawar tetap merasa kesakitan ketika melihat itu semua.
Maaf jelek.
Terima kasih udah baca sampai akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Teen FictionCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
