JANGAN LUPA VOTE:)
Lonceng istirahat mengeluarkan suara, membuat para siswa-siswi berbondong-bondong keluar dari kelas mereka. Biasanya, tempat yang paling utama dituju adalah kantin. Karena kantin bagaikan syurga kecil bagi mereka.
Kenzi dan ketiga temannya tampak memasuki area kantin. Mereka mendudukan bokong dikursi, dekat pintu.
"Pesan gih, Tak, " ujar Rio kepada kepada sahabatnya yang bernama Otak. Sebenarnya namanya Ferdiotak, orang tuanya memanggil Ferdi. Tapi itu tidak berlaku untuk teman-temannya, teman-teman disekolah memanggilnya Otak. Walau dirinya sangat keberatan dengan panggilan itu. Otak mengalami depresi dan tekanan batin karena panggilan itu.
"Gue orang yang diperlakukan bagaikan raja dirumah, dan dengan seenaknya lo nyuruh-nyuruh gue, " cerosos otak dengan ekspresi lebai.
Kenzi menatap pemuda itu dengan ekspresi capek, lalu beberapa detik kemudian Kenzi menghela nafas berat. "Yo, lo aja deh yang mesen, susah kalau sama tu anak." Kenzi melirik Otak dengan sinis, membuat pria itu mendelik. "Ini si Mawar mana lagi, ntar ngambek lagi kalau gue tinggal, " gerutu Kenzi, merunduk memandangi ponselnya.
Rio dan Otak saling pandang, memberi kode agar salah satu diantara mereka memesan makanan.
Gibran yang sedari tadi diam kini menghela nafas panjang. Rio dan Otak selalu malas-malasan ketika disuruh memesan makanan. Padahal mereka berempat telah membuat kesepakatan, untuk bergantian memesan makanan dikantin. "Gue aja deh, " ujar pemuda kalem itu.
Diantara mereka berempat Gibran lah yang paling pendiam. Ketika berkumpul Gibran sangat jarang membuka mulut, ia selalu merunduk memainkan game. Membuat keberadaannya sama saja tidak ada. Walau begitu, jika Gibran tidak ada diantara mereka, rasanya ada yang kurang. Pasti ada aja yang nyeletuk, 'Eh si Gibran mana?'
"Ribet bener, " gumam Gibran, sebelum beranjak pergi.
"Nah itu, Kakak Gibran, ciri-ciri manusia kurang sukses, " ujar Otak menunjuk Gibran yang tengah berjalan ke antrian.
Rio langsung menyerngit mendengar itu. "Kalau gue manusia apa? "
"Kalau lo." Otak seakan berfikir, dengan mata ia sipitkan. "Manusia jelas tidak sukses," lanjut pria itu diiringi dengan tawaan, entah dari mana datang lucunya. "Eh kalau gue, kalau gue, " ujar Otak cepat, menunjuk dirinya dengan antusias.
Kenzi mendongak, tertarik begitu saja. "Lo manusia yang otaknya bukan dikepala, tapi dinama," celetuk Kenzi sembarang, Otak langsung cemberut dan memasang wajah kesal saat itu juga.
Beberapa detik kemudian obrolan entah terbang kemana, membuat Kenzi berpaling, dan menikmati dunianya sendiri. Mereka memang berteman dekat layaknya saudara, tapi kerap kali obrolan mereka tidak sepemikiran dengan Kenzi. Otak dan Rio sering membahas teori-teori konspirasi, yang sama sekali tidak dipahami Kenzi.
Kenzi berdecak kecil, melihat antrian panjang. Gibran laki-laki polos itu terlihat dibarisan paling belakang. Kenzi heran dengan sahabatnya yang satu itu, kenapa ia tidak berkeinginan untuk menyelip? Padahal beberapa orang terlihat menyelip kebarisan depan.
Beberapa detik Kenzi melihat Gibran. Kenzi akui, Gibran itu tampan ditambah lagi dengan tinggi badannya yang semampai. Jika Kenzi dan Gibran berjalan beriringan, itu terlihat seperti seorang Adik dan Kakak. Karena tinggi Kenzi hanya sebatas leher Gibran.
Kenzi tersenyum kecil, ia menggigit bibirnya, agar dirinya tidak tersenyum lebar. Setelah itu ia mengumpat, menyeka wajahnya dengan cepat. Kenapa dengan melihat Gibran ia bisa senyum-senyum seperti ini? "Jangan sampai gue sukanya sama Gibran, " batin Kenzi didalam hati.
Kenzi mengalihkan pandangannya, perlahan matanya menyipit, melihat ke meja yang cukup jauh darinya. Beberapa detik kemudian mulut Kenzi terbuka, seakan tidak percaya dengan penglihatannya sekarang.
Gadis itu terlihat begitu sederhana dan cantik. Ia tertawa lepas kali ini, berbeda dengan malam itu yang dimana ia menangis. Perlahan senyuman kecil terukir dibibir Kenzi, wajah gadis itu begitu menenangkan, seakan menjernihkan kembali otak Kenzi.
"Nah, jadi penjualan anak itu kat--" Otak menghentikan ucapannya, tidak sengaja matanya menangkap Kenzi yang tengah tersenyum. "Woi! Liatin apa lo? " lanjut Otak sedikit sewot.
Rio melihat kearah pandang Kenzi, pria itu memajukan bibirnya kebawah lalu mengangguk-gangguk kecil, entah apa yang ia pikirkan.
Mata Kenzi tidak berpaling dari gadis itu, senyuman Kenzi masih setia terukir dibibirnya. "Dia seperti bunga melati, sederhana tapi cantik. Membuat siapapun yang melihatnya merasa tenang."
Rio dan Otak berteriak heboh mendengar kata-kata mutiara yang keluar dari mulut Kenzi.
"Aaaa Kakak Kenzi bikin gemushh." Otak merapatkan giginya, pria itu menarik pipi Kenzi dengan kedua tangannya.
Kenzi mengumpat keras, lalu memukul kuat kepala Otak.
Otak meringis sambil mengumpat kecil. "Geger otak gue lo yang tanggung jawab kadal! "
Kenzi mendelik, lalu menekuk dagu kedalam. "Lah otak lo 'kan di nama, bukan dikepala. "
"Suka lo? "
Kenzi yang tadinya ikut heboh jadi terdiam mendengar pertanyaan Rio. Kenzi melihat gadis itu sekali lagi, kini gadis itu terlihat tengah menikmati makanannya. "Nggak. Gue lagi belajar mencintai Mawar, " jawab Kenzi tenang, dengan pandangan masih ke gadis itu.
Rio dan Otak mengangguk-ngangguk mengiyakan. Sedikit tidak percaya, pasalnya Kenzi tidak mungkin memperhatikan orang selama itu jika tidak tertarik.
"Eh kalau Mawar, kalau Mawar? " tanya Otak cepat, mencairkan suasana. "Dia 'kan kayak bunga melati, kalau Mawar kayak apa? "
"Nah iya-iya, " sahut Rio heboh sambil mengangguk-ngangguk.
Kenzi menyerngit, ia mengatupkan bibirnya dengan mata menyipit, pertanda ia tengah berfikir. "Eung...Mawar, itu...seperti bunga Mawar--"
"Nggak, Mawar nggak berduri kayak bunga mawar. Mawar itu layaknya berlian, cantik dan bersinar, " potong Gibran yang membawa nampan berisikan empat mangkok bakso. Lalu pria bertubuh tinggi itu mendudukan bokongnya disamping Rio.
Mereka bertiga mengerjap, tertegun begitu saja. Mungkin selama ini, itu adalah kalimat terpanjang yang diucapan Gibran.
"Nah bener banget! " ucap Otak semangat, memecah keheningan karena ucapan Gibran.
"Cantik, bersinar, dan semua orang mengiginkannya." tambah Rio memperjelas, membuat alis Kenzi terangkat.
"Tapi ditelantarkan begitu saja oleh banci sok ganteng yang beranisial Kenzi Aditya Putra," cekeletuk Otak santai, mengaduk-ngaduk baksonya.
Kenzi mengumpat keras, kembali memukul kepala Otak. Tenang, pria itu tidak akan geger otak, jika Kenzi memukul namanya baru ia akan geger otak.
"Tapi bener sih, Mawar itu kayak berlain." Kenzi mengangguk-ngagguk, sambil menyuapi bakso kedalam mulutnya.
Mawar itu bersinar, tidak ada yang tidak mengenali dirinya. Mawar itu baik, ramah. Mawar itu panutan. Nama Mawar menjadi buah bibir para guru, karena saking seringnya gadis itu membawa piala kemanangan ketika usai mengikuti perlombaan. Mawar siswi yang aktif, ia anak olimpiade fisika dan kini ia menjabat sebagai wakil ketua osis. Banyak orang yang heran, kenapa Kenzi tidak bisa mencintai Mawar. Mawar juga, kenapa tidak bersama yang lain saja. Kenapa harus bersama Kenzi? Sedangkan banyak laki-laki diluar sana yang lebih dari Kenzi menginginkan dirinya.
TERIMA KASIH BANYAK YANG UDAH MEMBACA SAMPAI AKHIR:) JANGAN LUPA REKOMENDASIIN CERITA INI KETEMAN-TEMAN KALIAN YA:)
LUV💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Novela JuvenilCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
