Jangan lupa vote..
Usai mendapat kabar bahwa Mawar kecelakaan bersama Cakra, membuat Kenzi langsung melajukan motornya menuju rumah sakit. Dengan segala rasa kekhawatiran, Kenzi berlari membelah keramaian lorong rumah sakit.
Didepan ruangan yang bertuliskan UGD itu, sudah tampak keluarga Mawar dan sebagian anak kelas sebelas ipa satu. Mereka semua tampak panik, dan khawatir.
Kenzi menyeka wajahnya dengan gusar. "Tente Mawar nggak apa-apa 'kan? " suara Kenzi terdengar begitu khawatir, dan jangan lupakan wajah yang penuh dengan keringat.
Mama Mawar tidak bisa menjawab, karena air mata yang terus mengalir dipipi. "Mawar sama Cakra lagi diperiksa Dokter, Ken. " Jawab papa Mawar tenang, walau terlihat tenang tetap saja Papa Mawar tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, tampak mata pria paruh baya itu berair.
Keluarnya seorang dokter membuat mereka yang ada disana langsung berdiri, dan mendekat ke dokter itu.
"Pasien yang bernama Mawar Cassandra Marva membutuhkan pendonor darah. "
Kenzi meneguk ludahnya, lalu berkata. "Biar saya dok, biar saya yang jadi pendonor buat Mawar. " ujar pria itu cepat, membuat semua orang yang ada disana melebarkan mata, pasalnya mereka tahu Kenzi takut jarum suntik.
"Tapi Ken, lo 'kan takut jarum suntik. Pas disuntik waktu itu aja lo lari." akibat ucapannya, Otak mendapat jitakan gratis dari Rio.
Kenzi berdecak keras, memandang Otak dengan tajam. "Dalam situasi gini lo masih mikirin itu?! "
"Kenzi, biar om cari pendonor darah yang lain aja. Om takut kamu kenapa-kenapa, Nak, kamu juga harus sekolah. "
Kenzi menghela nafas berat, pria itu menyendukan matanya. "Buat apa cari pendonor lain, sedangkan yang mau nodorin darahnya ada disini. Om tenang aja, Kenzi pasti baik-baik aja kok. " usai berkata seperti itu Kenzi langsung berjalan cepat, menyamakan jaraknya yang cukup jauh dengan dokter.
Persetan dengan dirinya yang takut jarum suntik.
😂😂
Mawar yang telihat lemah, menatap satu persatu temannya, semua ada disini, kecuali Kenzi.
"Mawar, lo tau nggak kalau kita itu khawatir banget sama lo. Saking khawatirnya, kita dari pagi disini. " Cery terlihat begitu senang, memeluk sahabatnya yang baru sadar itu.
Otak mencibir. "Lebay lo. " timpal pria itu, membuat Cery mendelik kearahnya.
Mawar tertawa kecil. "Iya, lebay lo Cer. "
Cery menciutkan bibirnya, lalu menjauhkan badannya dari Mawar. "Ini Mama lo nyuruh habisin. " gadis yang tampak ceria itu mengaduk-ngaduk bubur yang diberikan Mama Mawar tadi.
"Mama sama Papa kemana? "
"Mereka dikamar bang Cakra, soalnya nggak ada yang jagain, teman-temannya sudah pada pulang." kali ini Rio yang menjawab, membuat Mawar mengangguk kecil.
"Cery, biar gue yang nyuapin Mawar. " ucapan Gibran tadi sontak mendapat teriakan dari mereka semua, membuat Gibran langsung berdecak kecil.
"Sst, ini rumah sakit. " Riska menempelkam telunjuk pada bibirnya.
"Siapa bilang pasar." Tidak Otak namanya jika tidak menyahuti omongan orang.
"Wih, Gibran diem-diem gercap juga," Rio berdecak kagum, melihat Gibran menyuapi Mawar penuh dengan kelembutan.
"Sumpah demi apa, kalian itu cocok banget," ujar Riska semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
KENZI (END)
Novela JuvenilCover by: grapicvii "Tapi gue sukanya sama Melati, bukan sama lo, Mawar." -- Kisah cinta remaja itu rumit, tidak tertebak, namun begitu indah. Saking indahnya, perjalanan dari kisah cinta itu tidak segan-segan mengukir luka pada hati kita. Terkadang...
