(28) Ibu Melati dibunuh?

195 19 0
                                        

Jangan lupa vote...

"Sekarang pulang, yuk? Gue anter. " Kenzi mengusap lembut rambut gadis yang ada didalam pangkuannya itu. Sedari tadi gadis itu menangis didalam pangkuan Kenzi. Namun sekarang ia tampak lebih tenang dari sebelumnya, membuat Kenzi berkata seperti tadi. Karena hari pun sudah larut, orang-orang yang melihat mereka bisa berfikiran aneh nantinya.

Kepala yang ia sandarkan ke dada bidang Kenzi, kini ia jauhkan. Ia menggeleng. "Nggak, gue nggak mau pulang, " ucap gadis itu lambat, mata gadis itu kembali berkaca-kaca.

Kenzi mencoba untuk tersenyum, menatap gadis itu dengan tatapan teduh. "Melati...ini udah malem banget. Ntar nyokap lo khawatir, " ujar Kenzi lemah lembut.

Kenzi menghapus air mata Melati yang baru saja jatuh. "Ntar kalau ada apa-apa telpon aja gue. Gue bakal selalu ada buat lo. "

Melati mengangguk, membuat Kenzi tersenyum sembari mengelus lembut pipi gadis itu. "Ayok, motor gue disitu," ujar Kenzi berdiri sembari menunjuk motornya.

"Ntar celana lo kotor, " ujar Melari dengan polosnya, membuat Kenzi menggeleng dan terkekeh pelan.

"Kenapa mikirnya sampe kesitu sih? " usai berkata seperti itu Kenzi mengacak rambut Melati gemesh.

"Perlu gue gendong nggak nih? " Melati tidak kunjung melangkah membuat Kenzi berkata seperti itu.

Melati berdecak. "Lo ya, ngeselin. " ujar Melati kesal, membuat Kenzi kembali tertawa kecil.

Beberapa detik dengan senyuman Kenzi menatap Melati. Jika sang ayah tidak bisa membahagiakan Melati, maka Kenzi akan membahagiakan gadis itu. Kenzi merentangkan tangan kanannya yang terbuka, lalu berkata. "Ayo, genggam tangan gue. "

Melati tersenyum, perlahan Melati menggenggam tangan Kenzi. Melati merasa sangat bersyukur karena tuhan telah menghadirkan orang seperti Kenzi.

--

"Dirumah lo orang ngapain? " tanya Kenzi kebingungan, melihat dari kejauhan rumah Melati dikerumuni oleh warga dan jangan lupakan mobil yang berjejer ditepi jalan kecil itu.

Melati menyerngit. "Enggak tau. Ayo cepat, Ken..." Melati menepuk-nepuk bahu Kenzi agar pria itu melajukan motornya lebih cepat.

Entah kenapa perasaan aneh menyeludup masuk kedalam hati Melati. Kekhawatiran, kegundahan, ketakutan, kebingungan, semua terasa campur aduk.

"Kok ada garis polisi? " tanya Melati kaget, ketika rumahnya dilingkari oleh garis polisi.

Cepat-cepat Melati turun dari motor, bersamaan dengan itu mata Melati menangkap seorang pria paruh baya yang dituntun polisi, tangan pria paruh baya itu tampak diborgol. Membuat mata Melati melebar, dengan cepat Melati berjalan kearah sana.

"PAK, AYAH SAYA MAU DI BAWA KEMANA? " tanya Melati histeris, air mata mengalir deras dipipi gadis itu.

Polisi itu tampak bingung bagaimana cara menjelaskannya. Melati ingin masuk kedalam rumah, tapi dihadang oleh seorang polisi yang berbadan besar.

"PAK, PAK, BISA TENANGIN ANAK INI DULU NGGAK? JANGAN IZININ DIA MASUK KERUMAH, NTAR DIA MENGALAMI TRAUMA. " titah polisi itu, ke warga yang mengerumuni rumah Melati.

Melati menangis histeris, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa polisi itu tidak memperbolahkan ia masuk? Dan kemana sang ibu?

Melati berlari mendekat ke Buk Minah, tetangganya. "IBUK...APA YANG TERJADI...KENAPA AYAH DIBAWA POLISI? DIMANA IBU MELATI? KASIH TAU MELATI BUK..." Melati mengcengkram bahu dan mengguncang tubuh wanita paruh baya itu.

Wanita paruh baya itu juga ikut menangis histeris, ia menggeleng seakan tidak bisa menjelaskan semuanya kepada Melati.

"Buk...apa yang terjadi? " sosok Kenzi muncul, suara itu terdengar begitu khawatir. "Ayah Melati kenapa dibawa polisi? " lanjut Kenzi bertanya, pria itu tampak berkeringat, pertanda ia begitu khawatir.

Wanita paruh baya itu menggeleng, rasanya berat sekali ia untuk membuka mulut. Tapi biar bagaimanapun Melati harus mengetahui ini semua. "Ibu kamu dibunuh ayah kamu nak..."

Melati yang tadinya menangis histeris kini terdiam, cengkraman yang tadinya kuat kini perlahan melonggar. Tulang Melati serasa lunak, membuat dirinya tidak bisa memopang tubuhnya. Melati terduduk lemah, lalu perlahan ia menggeleng. "Nggak, nggak mungkin. NGGAK MUNGKIN! " Melati kembali histeris. "IBU, IBU MELATI MASIH ADA DIDALAN RUMAH. " gadis malang itu berlari masuk kedalam rumah, walau Kenzi sempat menahannya, tapi tidak berhasil.

Melati terdiam, ia terpaku ditempat, walau begitu air mata terus keluar. Ia menangis tanpa suara, pertanda ia merasakan kesakitan yang begitu mendalam. Melati menggeleng, menyaksikan darah segar yang berserakan dilantai.

Melati berteriak histeris, ia mengacak rambutnya seperti orang gila. "NGGAK MUNGKIN! " histeris gadis itu. Tangisan Melati semakin menjadi-jadi, disisi lain ia menyalahkan dirinya. Seharusnya ia tadi tidak lari, seharusnya Melati tetap berada dirumah. Seharusnya emosi sang ayah diluapkan ke Melati, bukan ke sang ibu. Yang seharusnya dibunuh itu Melati, bukan sang ibu.

Perlahan Melati terduduk. "Nggak mungkin..." gadis itu melirih, ia memegangi dadanya sembari menggeleng kecil. "NGGAK MUNGKIN!" histeris Melati semakin menjadi-jadi.

Hati Melati terasa remuk. Hatinya seakan pecah berkeping-keping. Sang ibu, orang yang senantiasa mendukung Melati, telah pergi. Dibunuh oleh pria brengsek yang tidak tahu diri.

Kenzi yang berdiri didepan pintu rumah Melati juga ikut menangis. Pria itu seakan-akan ikut merasakan kesakitan yang dialami Melati sekarang.

Kenzi menghela nafas berat, menyeka wajahnya dengan telapak tangan. "Ibu Melati sekarang dimana? " tanya Kenzi, kesalah satu orang yang berada didekatnya.

"Dibawa, katanya buat diperiksa." usai mendapat jawaban seperti itu, Kenzi melangkahkan kaki untuk mendekat ke gadis malang itu. Kenzi berjongkok, mengusap lembut punggung gadis yang tengah menangis histeris itu.

Melati menoleh, Melihat Kenzi sepenuhnya. "Ken...ini mimpi 'kan? " ujar gadis itu lambat.

Kenzi menghela nafas berat, tidak tahu ingin berkata apa. Perlahan air mata Kenzi kembali keluar, tidak tahan melihat darah segar yang ada didepannya. Tidak bisa membayangkan, kesakitan yang dirasakan ibu Melati saat itu.

"Melati--" Kenzi tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena air mata yang memberontak untuk keluar, bibir Kenzi juga bergetar, membuatnya sulit untuk berkata. Kenzi juga ikut merasakan kesakitan ini, tapi itu tidaklah lebih besar dibandingkan kesakitan yang dirasakan Melati. Disisi lain Kenzi menggerutui dirinya yang terlalu lemah, seharusnya ia bisa menanangkan Melati, bukan ikut menangis seperti ini.

Karena tidak bisa berkata, membuat Kenzi menarik Melati kedalam dekapannya.

Maaf banget kalau jelek. Dan terima kasih buat yang udah baca sampai akhir.

KENZI (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang